Aqidah Remaja

Kenabian Rasulullah SAW merupakan Penutup Kenabian

8
×

Kenabian Rasulullah SAW merupakan Penutup Kenabian

Sebarkan artikel ini

Kenabian Rasulullah SAW merupakan penutup kenabian

Sebagaimana ketetapan Allah Swt yang telah menjadikan Rasulullah Saw sebagi penutut hukum-Nya dan wahyu yang datang melalui beliau saw menjadi penutup seluruh wahyu sebelumnya. Dengan kata lain, setelah beliau, tak ada lagi Nabi yang akan datang, dan hukum yang ditetapkannya akan berlaku hingga hari kiamat. tidak akan ada lagi hukum-hukum yang diwahyukan selanjutnya. Karenanya, seluruh klaim yang berkaitan dengan adanya wahyu bagi hukum berikutnya menjadi batal dan tidak berlaku lagi.

Masalah ihwal ‘terakhir’ sudah jelas diterangkan dalam ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis, dan tidak dapat disangkal. Kami akan menyinggung beberapa darinya di bawah ini. 


مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا

“Muhammad bukanlah ayah dari salah seorang dari antara kamu, tapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” 

(QS. Al-Ahzab ayat 40)

 

Di sini, kata ‘khatam’ secara harfiah bermakna cincin. Pasalnya, di masa wahyu, stempel atau tanda yang dikomunikasikan oleh individu-individu saat itu melalui batu berukir dalam sebuah cincin. Mereka menggunakan cincin-cincin itu untuk menutup (mengakhiri) surat-surat mereka, yang menandakan dengannya, mereka telah sampai di akhir surat. Dengan memerhatikan ini, maksud ayat di atas menjadi lebih jelas. dengan kedatangan Nabi Islam Saw, ‘surat gulungan’ kenabian telah menerima segel terakhirnya, dan ‘kitab’ wahyu kenabian telah diakhiri. Sejauh risalah bermakna menyebarkan dan menerima pesan-pesan melalui wahyu, maka jelas bahwa khatam kenabian juga bermakna, akhir dari pengiriman wahyu Allah Swt atau pesan-pesan Tuhan. 

 

Dari berbagai hadis seputar subjek ini, cukup untuk memerhatikan hadis yang disebut sebagai Hadis Manzilah (‘Kedudukan Spiritual’). 

 

ألا ترضی أن تکون منّي بمنزلة هارون من موسی الا أنه لا (لیس) نبيّ بعدي

بن هشام، السيرة النبوية، ج 4، ص 163؛ الشیخ الطوسي، الامالي، ص 261، المجلس 10، ح 13، مجلس 10؛ وعنه في البحراني، غایة المرام، ج 2، ص 84، ح21 ؛ صحیح البخاري، کتاب المغازي، باب 80، ص 777، ج 4416

(list referensi hadist manzilah tsb.)

“ Wahai ali tidakkah engkau rela, sesungguhnya kau disisiku sebagaimana layak harun disisi musa melainkan selayaknya tiada nabi setelahku. 

Nabi Saw mengangkat Imam Ali as sebagai wakilnya di Madinah sebelum bertolak menuju Perang Tabuk. Beliau Saw berkata kepadanya, “Apakah engkau tidak bahagia jika kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada lagi Nabi setelahku?  terlepas dari hadis ini yang dianggap sebagai mutawatir beberapa hadis lain yang sama kuatnya telah tercatat terkait persoalan pernyataan berakhirnya kenabian pada Nabi Islam Saw.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *