Aqidah Remaja

Penentuan Seorang Imam (Menurut Nash Hadits)

28
×

Penentuan Seorang Imam (Menurut Nash Hadits)

Sebarkan artikel ini

PENENTUAN SEORANG IMAM (PEMIMPIN) DARI NASH HADIST NABI SAW

 

Jelas sudah bahwasanya hikmah Nabi Saw sudah pasti memberi petunjuk atas prinsip kepemimpinan umat islam. kita sepatutnya memerhatikan solusi yang dikemukakan
oleh Nabi Saw: 

kami akan secara tajam membahas dua perspektif utama seputar masalah ini: 

  1. Nabi saw, berdasarkan perintah Tuhan, memilih seorang pribadi agung yang memenuhi syarat mengemban tugas kepemimpinan umat, dengan mengangkatnya di hadapan publik sebagai penggantinya. 
  2. Nabi Saw menyerahkan tanggung jawab kepada umatnya untuk memilih seorang pemimpin selepas wafatnya. 

 

Harus jelas, manakah dari kedua perspektif ini yang dibenarkan Al-Quran, sunnah dan pelbagai peristiwa dalam kehidupan Nabi Saw. Penelitian saksama mengenai kehidupan Nabi saw sejak beliau diperintahkan untuk menyampaikan keyakinan baru pertama-tama kepada kerabat dekat, kemudian ke seluruh umat manusia. Mengungkapkan bahwa beliau saw berulang kali memperjelas kualitas khusus penerusnya. Dengan demikian, terindikasikan bahwa cara-cara yang melaluinya kepemimpinan umat harus dibangun. Yaitu cara-cara penunjukan dengan gamblang (tanshish), bukan cara-cara pemilihan oleh masyarakat. 

Poin ini dapat dibuktikan dengan beberapa nash Riwayat hadist dan fakta sejarah berikut: 

 

1. Hadist Yawm al-Dar (Hari Rumah). Tiga tahun di awal misinya, Nabi Saw diperintahkan Allah Swt untuk mengumumkan secara terbuka seruannya, melalui ayat ini . 

وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَۙ

Dan berikanlah peringatan kepada para kerabat terdekatmu.
(QS. al-Syua’ra ayat :214)

Hadits ini diriwayatkan oleh ahlu sunnah dan syiah,  secara gambling merupakan salah satu dalil penentapan kepemimpinan Ali bin abi Thalib sebagai khalifah setelah Nabi Saw. 

 

قال لهم رسول الله (ص): “يا بني عبد المطلب، إني والله ما أعلم شاباً في العرب جاء قومه بأفضل مما قد جئتكم به، إني قد جئتكم بخير الدنيا والآخرة.وقد أمرني الله تعالى أن أدعوكم إليه؛ فأيكم يؤازرني على هذا الأمر على أن يكون أخي، ووصيي وخليفتي فيكم؟” قال: فأحجم القوم عنها جميعاً، وقال علي: “أنا يا نبي الله أكون وزيرك عليه”، فأخذ برقبتي، ثم قال:” إن هذا أخي، ووصي، وخليفتي فيكم؛ فاسمعوا له وأطيعوا..

Nabi Saw mengundang para pemimpin Bani Hasyim dan berkata kepada mereka, “Aku telah membawa bagi kalian yang terbaik dari dunia dan akhirat. Allah telah memerintahkan aku mengajak kalian pada ini [agama Islam]. Siapakah di antara kalian yang sudi membantuku membangun agama ini, untuk menjadi saudara dan penggantiku?” Beliau mengulangi pertanyaan ini tiga kali, dan setiap kali hanya Ali yang melangkah maju dengan menyatakan kesiapannya membantu Nabi Saw. Maka, Nabi Saw pun berkata, “Sesungguhnya, inilah saudaraku, pewarisku dan penggantiku di antara kalian.   (referensi: musnad ahmad ibn hambal 1/159. Tharikh tabari 2/406 cetakan beirut. Tafsir athabari [jami’a al-bayan] 19/74-75, tafsir surat asyu’ara ayat 214)

 

2. Hadist al-manzilah. 

Al-Manzilah (Kedudukan Spiritua). Nabi Saw, dalam berbagai kesempatan, mengisyaratkan maqam dan kedudukan Ali di sisi beliau serupa dengan maqam dan kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja, Ali satu derajat berada di bawah maqam dan kedudukan Harun sebagai Nabi. Nabi Saw bersabda dalam sebuah hadis yang mendekati mutawatir. 

 

ألا ترضی أن تکون منّي بمنزلة هارون من موسی الا أنه لا (لیس) نبيّ بعد 

“Tidakkah kau ridha wahai Ali! Kedudukanmu [manzilah] di sisiku serupa dengan kedudukan Harun di sisi Musa dan hanya tidak ada Nabi setelahku”  ( referensi: shahih bukhari, kitab maghazi bab. 80 hal. 777 hadist no. 4416. Ibn hisyam sirah an-nabawiyah juz. 4 hal.163)

 

Sekarang, menurut Al-Quran, Harun memiliki kedudukan sebagai Nabi, khalifah dan Menteri (wazir), di masa Musa, dan hadist ini membuktikan bahwa Ali secara jelas memiliki kedudukan khalifah dan menteri, seperti Harun, meski tidak untuk kedudukan Nabi. Tentu saja, jika maknanya selain yang dinyatakan itu, berkenaan dengan Ali, maka semua kedudukan tersebut, selain kenabian, tidak perlu membuat pengecualian tentang kenabian itu sendiri. 

 

3. Hadist Tsaqalain (Dua Hal Berharga).

 Hadist ini termasuk salah satu yang diklasifikasikan dalam Islam sebagai mutawatir, dan ditemukan dalam banyak kitab yang ditulis para ulama kedua mazhab besar Islam. Dalam hadis ini, Nabi saw menyampaikan khotbah kepada seluruh umat yang inti redaksinya: 

 

إنّي تاركٌ فيكم الثقلين ما إن تَمَسَّكتم بهما لن تضلّوا بعدي: كتابَ اللَّه وعترتي أهلَ بيتي، لن يفترقا حتى يردا عليّ الحوضَ.

“Sesungguhnya, aku meninggalkan bagi kalian dua perkara berharga, kitab Allah dan keturunanku, Ahlulbaitku, karena selama kalian berpegang teguh pada kedua hal ini, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah satu sama lain hingga keduanya datang menemuiku di Telaga Hawdh [kolam surga]. (al-kafi juz. 1 hal. 294/ Sunan anisai hadist no. 8148/ musnad ahmad ibn hambal. 5, 492. Hadist no. 18780/ shahih tarmizi. 2, 219)

 

Hadist tsaqalain ini menempatkan secara berdampingan berdasarkan sumber kualitas pengetahuan wewenang(otoritas) ada pada Ahlulbait as dan Al-Quran. Dengan demikian mengharuskan kaum muslim berpegang-teguh dalam persoalan-persoalan keimanan pada al-Quran dan Ahlulbait a.s. Namun sangat disayangkan, sebagian orang mengetuk segala pintu, kecuali pintu Ahlulbait a.s, Hadist Tsaqalain tersebut yang disepakati Syi’ah dan Sunni sebagai hadist mutawatir, dapat membantu melahirkan suatu umat yang benar-benar bersatu di antara kaum muslim dunia, karena jika kedua kelompok tersebut berselisih seputar masalah kepemimpinan politik dan kekuasaan (keagamaan) setelah wafatnya Nabi Saw, serta adanya perbedaan seputar tafsir pandangan (interpretasi) sejarah ini, mereka tetap mampu bersatu berkenaan dengan makna sakral Ahlulbait as. Nabi Saw tidak memberikan landasan bagi terjadinya perpecahan di antara kedua kelompok tersebut, sebaliknya, harus ada kesatuan tujuan (suatu rujukan satu riwayat yang diakui secara universal ). 

Umumnya pada fakta sejarah selama periode tiga kekhalifahan yang ada, mereka setiap para khalifah itu sendiri merujuk kepada Ali a.s sebagai sumber pengetahuan dan otoritatif, dan ali adalah merupakan salah satu dari keberadaan ahlul bait pada hadist tsaqalain tersebut, demikian pula setiap pelbagai perselisihan seputar persoalan agama dituntaskan Ali as. Sesungguhnya, sejak Ahlulbait Nabi Saw dikucilkan sebagai sumber otoritas agama, semangat pembelaan suatu aliran kemadzhaban muncul, dan pelbagai kelompok dengan berbagai pandangan masing-masing nampak satu demi satu.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *