Bukti dan kesaksian klaim kenabian Rasulullah Saw
Mengumpulkan bukti dan kesaksian, sebagaimana dinyatakan sebelumnya, merupakan salah satu cara untuk membuktikan kebenaran klaim kenabian Rasulullah Saw. kami akan menyinggung secara singkat sebagian bukti yang menunjukkan dengan jelas sejati klaim tersebut.
- Kualitas kehidupan Rasulullah Saw sebelum menerima misi. Suku-suku Quraisy memberikan gelar Rasulullah Saw sebagai al-Amin, ‘orang terpercaya’ di masa pra-risalah, dengan mempercayakan beliau untuk menyimpan barang-barang mereka yang sangat berharga. Ketika mereka merenovasi Ka’bah, sebuah pertengkaran pecah di antara empat sukuk kaum arab, prihal suku mana yang memiliki kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad di tempatnya. Semua akhirnya setuju untuk meminta penyelesaian perkara ini kepada sosok orang yang paling dihormati suku Quraisy, yaitu Rasulullah Saw, dikarenakan keutamaan dan kesucian jiwanya.
- Fakta bersihnya beliau dari segala jenis ketidaksucian akibat pengaruh lingkungannya, yaitu Nabi Islam Saw dibesarkan dalam lingkungan yang dikuasi penyembahan berhala, perjudian, penguburan hidup-hidup bayi perempuan, memakan daging bangkai dan berbagai bentuk keterbelakangan lainnya. walaupun begitu, Rasulullah Saw tetap menjadi figur teladan yang hidup di tengah lingkungannya tanpa ternodai secuilpun kerusakan moral dan spiritual yang marak di sekeliling beliau.
- Mutu dakwah islam. Saat menguji nilai dakwah Rasulullah Saw, kita akan tercengang, ternyata beliau menyeru manusia pada suasana yang sangat bertentangan dengan norma yang berlaku saat itu di tengah masyarakat. Mereka para penyembah berhala, dan beliau menyeru mereka pada tauhid, mereka mengingkari akhirat, beliau menjadikan kepercayaan pada akhirat sebagai salah satu prinsip keimanan, mereka mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan dan menganggap kaum wanita kurang penting, beliau mengembalikan kaum wanita pada martabat kemanusiaan hakikinya, mereka serakah terhadap kekayaan dan riba, beliau melarang riba, menenggak minuman keras dan berjudi tersebar luas, beliau menyebut semua itu sebagai pekerjaan setan, dan wajib mengakhiri keduanya.
- Sarana untuk menyampaikan dakwah. Cara dan sarana yang digunakan Rasulullah Saw untuk menyampaikan seruannya pada dasarnya bersifat manusiawi dan bermoral. Beliau tidak pernah menggunakan metode nonmanusiawi dalam peperangan beliau seperti merintangi dan mencemari sumber-sumber air musuhnya, menebang pohon, atau sejenisnya. Sebaliknya, beliau memerintahkan agar jangan sampai merugikan kaum wanita, anak-anak, atau sepuh, tidak boleh menebang pohon semabrangan dan peperangan melawan musuh tidak boleh dimulai sampai perintah disampaikan. Tidak terdapat jejak slogan kaum Machiavelian yaitu tujuan membenarkan segala cara dalam praktik beliau. Sebagai contoh, dalam Perang Khaibar, beliau menolak menerima nasihat seorang Yahudi untuk meracuni sumber-sumber mata air musuh guna memaksanya menyerah. Sesungguhnya sejarah risalah beliau dipenuhi tindakan mulia terhadap musuh-musuhnya.
- Kualitas para pengikutnya. Pertimbangan mendalam dalam hal spiritualitas, intelektualitas dan moral orang-orang yang mengimani Rasulullah Saw juga menegaskan kebenaran risalahnya. Jelas, jika suatu risalah berpengaruh terhadap para anggota utama suatu komunitasnya, ini merupakan pertanda kebenaran sejati. Sedangkan, jika tertarik pada jenis-jenis yang sangat duniawi, maka ini merupakan pertanda kekurangannya. Di antara para pengikut sejati Rasulullah Saw terdapat sejumlah pribadi yang kedudukannya sedemikian agung, seperti Ali bin Abi Thalib a.s, Ja’far bin Abi Thalib, Salman Farisi, Abu Dzar Ghifari, Miqdad bin Amr, Ammar bin Yasir, Bilal bin Rabah, Mush’ab bin Umair, Ibnu Mas’ud berkenaan dengan mereka, sejarah mencatat kualitas pribadi mereka yang sangat unggul: kezuhudan, ketakwaan, kesucian, kesalehan,
keteguhan hati dan kedermawanan.
- Pengaruh nyata terhadap lingkungan, terbangunnya peradaban yang kuat dan agung. Lebih dari 23 tahun, Nabi Islam Saw mengubah situasi keseluruhan Jazirah Arab. Beliau mengubah para berandal menjadi kaum beriman dan melahirkan kaum yang bertauhid dari kalangan penyembah berhala. beliau mendidik mereka sedemikian rupa hingga tidak hanya menemukan peradaban agung di negerinya sendiri, namun juga tersebarnya keagungan peradaban Islam yang tiada bandingannya ke pelbagai belahan dunia lain. Ja’far bin Abi Thalib, salah satu muslim di masa emas Islam, juga menekankan poin ini dalam jawaban yang disampaikannya kepada Raja Ethiopia.
أيها الملك، إن الله بعث إلينا رسولا منا فدعانا إلى الله لنوحده ونعبده، ونخلع ما كنا نعبد نحن وآباؤنا من دونه، من الحجارة والأوثان، وأمرنا بصدق الحديث… وأمرنا بالصلاة، والزكاة وصلة الرحم، وحسن الجوار، ونهانا عن الفواحش، وقول الزور.
“Wahai Raja! Allah melahirkan di antara
kami seorang nabi yang menuntun kami dari penyembahan
berhala dan perjudian menuju salat dan sedekah, keadilan dan
ketakwaan, kedermawanan pada kerabat; dan melarang kami
dari segala bentuk kerusakan, amoralitas dan kezaliman”.
(ref: kitab sirah an-nabawiyah ibnu hisyam, juz.1 hal. 359-360)
Bukti-bukti ini menjadikan kita menerima kebenaran risalahnya dan keadilan perilakunya. Pastinya, seseorang dengan serangkaian kualitas semacam itu, niscaya akan bersikap jujur dalam seluruh klaim kenabiannya serta pengakuan soal hubungannya dengan yang gaib. Ini sebagaimana bukti lain yang dikemukakan secara empatik dan cermat yang membenarkan klaim-klaim tersebut.
Konfirmasi dari Nabi sebelumnya.
Salah satu cara untuk menegaskan kebenaran klaim kenabian adalah melalui pembenaran yang diberikan dari nabi sebelumnya. Karena harus diperhitungkan bahwa kenabian nabi sebelumnya dibuktikan dengan bukti yang jelas, maka, tentu saja, kata-katanya bisa menjadi dasar untuk mempertimbangkan klaim kenabian nabi penerus. Beberapa ayat Al-Quran menunjukan bahwa Ahlul kitab mengenal Nabi Islam Saw sejelas mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dengan kata lain, tanda-tanda pembeda kenabian beliau secara jelas terindikasikan dalam kitab-kitab suci mereka. Nabi Islam Saw mengklaim sebagai Nabi yang diramalkan dalam kitab suci mereka dan tak seorangpun yang mengingkari kebenaran pengakuannya. sebagaimana difirmankan dalam Al-Quran:
اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَعْرِفُوْنَهٗ كَمَا يَعْرِفُوْنَ اَبْنَاۤءَهُمْۗ وَاِنَّ فَرِيْقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
“Orang-orang yang Kami telah memberikan mereka kitab, mereka mengenalnya [Nabi Muhammad] sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka. Dan sesungguhnya sebagian dari mereka sungguh-sungguh menyembunyikan kebenaran, padahal
mereka mengetahuinya.”
(QS. al-Baqarah [2]:146).
Nabi Islam Saw menyatakan bahwa Nabi Isa a.s menyampaikan kabar gembira perihal kedatangannya, saat beliau a.s berkata,
وَاِذْ قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَمُبَشِّرًا ۢ بِرَسُوْلٍ يَّأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِى اسْمُهٗٓ اَحْمَدُۗ فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ قَالُوْا هٰذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ
(Ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang seorang utusan Allah yang akan datang setelahku yang namanya Ahmad (Nabi Muhammad).” Akan tetapi, ketika utusan itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”
(QS. Ash-Shaff [61]:6)
Ahlul kitab tidak mengingkari klaim Nabi islam ini, meskipun menolak mengakui kebenarannya.
Terlebihnya lagi, menarik untuk dicatat bahwa Injil, meskipun selama berabad-abad telah mengalami perubahan dan penambahan kata serta makna dan masih memuat pengakuan konfirmasi Nabi Isa a.s berkenaan dengan (datangnya) sosok yang bernama Parakletos (bermakna ‘yang dipuji,’ maksudnya ‘Muhammad’) dalam Injil Johanes (Bab 14-16) yang kepadanya para peneliti dapat merujuk langsung. (ref: penelitian & indikasi kenabian islam, buku anis al-a’lam)













