Mukjizat Al-Quran ditinjau dari sisi sastra Bahasa arab.
Nabi Saw memperlihatkan berbagai mukjizat, yang penjelasan tentangnya tercatat dalam kitab-kitab hadis dan sejarah. Namun, sebagaimana dinyatakan di atas, mukjizat abadi yang bersinar sepanjang abad adalah Al-Quran, dan rahasia mengapa Nabi Islam Saw, bukan nabi lain, harus dibedakan berdasarkan mukjizat, terletak pada ini: Agama yang dibawanya adalah agama terakhir, dan berlangsung hingga akhir zaman. Agama yang abadi
membutuhkan mukjizat abadi. Ini agar mukjizat itu menjadi dalil kenabian yang menentukan di setiap abad dan untuk setiap generasi penerus dan agar umat manusia di sepanjang berlalunya abad demi abad, memiliki jalan langsung melihat mukjizat ini sendiri, ketimbang bergantung pada “kata orang.”
Al-Quran menakjubkan dalam beberapa hal. penjabaran mendalam terhadapnya akan melambungkan kita jauh pada pembahasan Panjang, maka kami akan membatasi diri pada pembahasan ringkas berikut.
Sejak Al-Quran diwahyukan, hal pertama yang menggetarkan dunia kesastraan bahasa Arab, orang-orang yang biasa bersyair sastrawan Arab, serta aturan kefasihan bicara, adalah keindahan bahasa, keelokan dan kemurnian aturan sastra, serta makna luhur yang terkandung dalam kitab suci ini. Ciri khusus Al-Quran ini jelas terbukti bagi bangsa Arab di masa itu, sebagaimana terbukti bagi umat manusia di masa kini, dan disebabkan itu, Nabi Saw melalui pembacaan ayat-ayatnya yang terus-menerus, serta ajakan berulang-ulang untuk merenungkan keistimewaan Al-Quran, menghempaskan para pembesar sastrawan dan pakar kefasihan berbicara (Bahasa arab kala itu) ke jurang kehinaan dan kenistaan. Semua itu menyebabkan mereka heran terkesima sambil gusar bercampur kekaguman terhadap perkataan Al-Quran yang penuh keagungan. Mereka dengan perasaan getir mengakui kualitasnya yang jauh melampaui kualitas manusia para penyair sekalipun.
Walid bin Mughirah, penyair terkenal dan pakar kefasihan Bahasa arab kaum Quraisy, menyatakan, setelah mendengar Rasulullah Saw membaca beberapa ayat,
“Demi Allah! Aku baru saja mendengar sesuatu dari Muhammad yang tidak seperti ucapan manusia atau jin. Itu ucapan yang memiliki kelezatan dan keindahan uniknya sendiri. Ranting-ranting dari setiap kata-katanya penuh buah, akar-akarnya penuh berkat; perkataannya mengungguli pidato, yang tidak ada lagi perkataan yang dapat dibandingkan dengannya. Sungguh, tidak ada yang dapat menyaingi keutamaan kata-katanya.” (Ref: kitab Mustadrak al-haakim juz.2 hal.50)
Demikian pengakuan yang lainnya dari para penyair dan pakar ahli kesastraan Bahasa arab dikaum Quraish pada masa itu, seperti Utbah bin Rabi’ah dan Thufail bin Umar, mengungkapkan ketidak mampuannya untuk bersaing dengan Al-Quran, seraya mengakuinya sebagai mukjizat sastra.
Mukjizat lain Al-Quran memuat berbagai pembahasan ilmiah dan hukum yang universal.
Layak untuk dibahas sesungguhnya Rasulullah Saw berbicara isi Al-Quran memuat pelbagai diskursus seputar ragam tema ketuhanan (teologi), sejarah, hukum dan pembuatan undang-undang, agama, etika, dunia alamiah, dan lain-lain. Namun, meskipun pokok persoalannya luar biasa beragam, Al-Quran tetap memelihara, sejak awal sampai akhir, puncak pembawaan redaksi dan keselarasannya, walaupun masa penuangan ayat-ayat Al-Quran yang dibawa oleh Rasulullah Saw dalam berbagai kondisi perang dan damai, tetap gaya diskursusnya mengalir dengan cara menakjubkan melalui beragam kandungannya. Al-Quran sendiri menyebutkan aspek menakjubkan dirinya dalam ayat berikut:
اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا
“Maka tidakkah mereka merenungkan al-Quran? Seandainya ia [al-Quran] bukan dari sisi Allah, sungguh mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.”
(QS. An-Nisa [4]:82)
Al-Quran mengakui kapasitas dasar manusia untuk berpandangan jauh ke depan, dan atas dasar itu menetapkan hukum-hukum. Dengan adanya takaran fundamental bagi wawasan ini, segala aspek kehidupan spiritual dan material manusia terliputi dalam Al-Quran. prinsip-prinsip yang dapat diterapkan secara universal yang tidak akan pernah pudar atau ketinggalan zaman juga tertulis dalam kitab suci ini.
Salah satu ciri khusus hukum-hukum universal Islam adalah berlaku dalam pelbagai kondisi dan situasi yang sangat beragam. Tatkala telah menaklukkan bagian terbesar dari dunia, kaum muslim mampu berkuasa dengan pengaruh dan martabat terhadap generasi generasi berbagai kumpulan manusia berdasarkan hukum-hukum ini. Imam Baqir a.s berkata:
إن الله لم يدع شيئا تحتاج إليه الأمة إلا أنزله في كتابه، وبينه لرسوله وجعل لكل شئ حدا، وجعل عليه دليلا.
“Segala sesuatu yang dibutuhkan dan diminta umat manusia telah
diberikan Allah dalam kitab suci ini, dan telah dijelaskan-Nya
kepada Nabi-Nya, dan Dia telah menentukan bagi segala sesuatu
sebuah batas(hukum), dan untuk setiap batas(hukum), sebuah alasan utama telah
diberikan.” (Ref: kitab al-khafi juz.1 hal.59)
Mukjizat Al-Quran mengenai rahasia dan penciptaan alam semesta.
Pada beberpa ayatnya al-quran menjelaskan hubungan kompleks antara misteri-misteri alam penciptaan bagi manusia di zamannya, hubungan itu tidak terlihat secara kasat mata. Pelbagai misteri ini disingkap oleh seorang nabi saw buta aksara, yang hidup di tengah umat manusia yang tidak tahu segala hal, hanya mungkin terjadi berkat perantaraan wahyu Tuhan. Beberapa contoh tentangnya tentu saja dapat disuguhkan,
namun kita hanya akan membatasinya pada salah satu di antaranya saja berikut.
Hukum polaritas universal(setiap benda yang memiliki dua sifat yang berlawanan) merupakan temuan utama sains modern, Al-Quran mengabarkan. Saat tidak ada informasi sedikitpun mengenainya, menunjukkan hukum ini sebagai berikut:
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
“Dan Kami telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan agar kamu mengingat kebesaran (Allah Swt).”
(QS. Adz-Dzariyat [51]:49)
Al-Quran berbicara tentang kehidupan para nabi dan umat terdahulu, dalam sejumlah surah dan dengan berbagai cara. Boleh dibilang, sebagai wahyu terakhir, Al-Quran mengungkapkan banyak informasi yang tertulis dalam kitab-kitab suci sebelumnya sekaitan dengan para nabi terdahulu, termasuk misi dan umat masing-masing. Dalam kisah-kisah Al-Quran tentang kehidupan para Nabi a.s tidak terdapat perbedaan sedikitpun, entah itu aturan intelektual atau fitrah manusia di satu sisi, atau yang menyangkut kedudukan tertinggi para Nabi di sisi lain.













