Metode Mengenal Nabi.
Fitrah manusia mendorongnya untuk tidak menerima klaim apapun tanpa bukti yang pasti (konklusif). Jadi, siapapun menerima begitu saja klaim tanpa bukti, berarti telah bertindak bertentangan dengan fitrahnya sendiri. Mengklaim kenabian merupakan klaim paling mengagumkan dari semua klaim yang mungkin dapat dibuat seorang manusia; dan tentu saja, klaim demikian hanya dapat dibenarkan dengan membawa bukti yang nyata bersifat qat’iyah (definit) dan cukup beralasan. Bukti ini dapat berasal dari salah satu ketiga sumber berikut,
- Nabi sebelumnya yang secara pasti telah membuktikan kenabiannya sendiri, menetapkan dengan jelas identitas nabi yang akan datang setelahnya. Karenanya, Nabi Isa as secara gamblang dan akurat menjelaskan penutup para nabi as [yaitu, Rasulullah Muhammad saw], dengan menyampaikan berita gembira perihal kedatangannya.
- Isyarat-isyarat dan tanda-tanda dalam cara berbeda, memberi kesaksian terhadap kebenaran klaim sebagai Nabi. Rangkaian dalil ini dapat berasal dari gaya hidup Nabi, berisi seruan agama yang disampaikan, karakter orang-orang yang mengikutinya, serta caranya menyampaikan seruan. Hari ini, di kantor-kantor pengadilan di seluruh dunia, metode yang sama diikuti untuk membedakan mana yang benar, mana yang salah, yang tidak bersalah dari yang bersalah. Pada masa penegakan Islam, prosedur ini digunakan untuk memastikan kebenaran dari klaim-klaim yang dibuat Nabi Saw.
- Memperlihatkan serangkaian mukjizat. Menyusul klaim kenabiannya, Nabi Saw melakukan serangkaian tindakan luar biasa dan bersifat mukjizat, yang meyakinkan orang lain untuk menerima seruannya. Rangkaian mukjizat ini selaras dengan klaimnya.
Kedua poin pertama dari cara-cara di atas tidak dapat diterapkan secara universal. Sedangkan terkait dengan poin ketiga, di sepanjang sejarah kenabian, manusia telah menggunakan cara mengenal para Nabi a.s sejati ini. Menurut mereka, para Nabi a.s juga telah menguatkan klaim-klaimnya dengan memperlihatkan serangkaian mukjizat.













