Aqidah Remaja

Tauhid dan Tingkatannya

21
×

Tauhid dan Tingkatannya

Sebarkan artikel ini

TAUHID DAN TINGKATANNYA.

Setelah kita menjelaskan dan membuktikan akan keberadaan wujud sang Khaliq Allah Swt. wajib pula kita mentauhidkan dan mengesakan Dzat-Nya dari segala sisi, demikian akan kita jelaskan tauhid dan keesaan Allah, terhimpun kepada beberapa klasifikasi yang berkenaan dengan Dzat Allah Swt. 

  1. Tauhid dalam dzat ( keesaan Allah Swt dari sisi dzat-Nya ) 
  2. Tauhid dalam sifat ( keesaan Allah Swt dari sisi sifat-Nya )
  3. Tauhid dalam khaliqiyah ( keesaan Allah Swt dari sisi penciptaan-Nya )
  4. Tauhid dalam rububiyah ( keesaan Allah Swt dari sisi pengatur segala urusan)
  5. Tauhid dalam ibadah ( mengesaakan Allah Swt dari sisi penghambaan )

 

Lebih jelasnya mari kita paparkan dan jelasankan maksud darinya satu persatu. 

 

Tauhid dalam dzatNya.

Kita mengesakan Allah Swt dari sisi Dzat ialah pertama bahwsanya wujud & dzat-Nya Allah Swt itu basith ( tidak terangkai/tersusun ) lawan dari pemahaman murakab (tersusun), karna Allah Swt dzat yang Maha Kaya berdiri dengan sendirinya dan tidak membutuhkan kepada selain-Nya, sedangkan murakab (tersusun) itu suatu hal wujud yang tersusun dimana butuh terhadap susunan & rangkaian lain diluar wujud & keberadaannya hingga menjadi dzat tertentu. ini melazimkan akan adanya sebuah kebutuhan.

Kedua sesungguhnya Dzat Allah Swt itu tunggal dan tidak ada yang serupa dengannya serta tidak ada yang sejenis dengannya dimana hal yang pertama kita sebut Yang Maha Esa dan yang kedua yang maha satu tiada duanya. 

Seperti apa yang dikutip dalam beberapa ayat alquran sebagai berikut:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa.

( Q.S Al Ikhlas :1 )

ayat ini mengisyaratkan makna keesaan nya. Dan di ayat yang lain pada  Q.s al ikhlas ayat keempat yang berbunyi:

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌࣖ

serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

ayat ini mengisyaratkan makna yang maha satu dan tiada duanya.

 

Telah kita katakan bahwa Allah Swt wujud-Nya yang basith artinya Ialah Dzat Yang tidak tersusun dan tidak terangkai dari segala sisi materi, gambar dan unsur lain di luar dzat-Nya. 

Adapun dalil mengenai dzat-Nya yang basith adalah dengan kita menafikan bahwa wujud-Nya yang berdiri dan butuh kepada selainNya dan dzatNya terhindar dari segala bentuk & rupa materi yang bisa di panca indrai, karna segala sesuatu hal yang berbentuk dari materi keniscayaannya beresensial dan hal demikian sifanya tersusun dari beberapa unsur materi,  suatu susunan(murakab) ialah membutuhkan dan memerlukan kepada selainnya hingga menjadi suatu esensi tertentu sedangkan Allah Swt dzat-Nya Yang Maha Esa tidak membutuhkan kepada selainNya (tidak membutuhkan sesuatu dari luar dzatNya). Melainkan Dia Yang Maha Kaya berdiri dengan sendirinya bahkan sebab utama suatu wujud keberadaan akan sebuah wujud.

 

Beberapa dalil lainnya yang menjelaskan bahwa Allah Swt itu Maha Esa adalah sekiranya kita katakan bahwa ada wujud dzat Ilahi lain yang sepadan dengan wujudNya maka kesimpulannya dapat kita hukumi wujudNya yang berbilang, tentu akan  mengakibatkan ada dua wujud yang  berbeda akan tetapi  dzatnya dalam satu kesatuan yang sama. maka sesuatu hal demikian menunjukan adanya jumlah yang berbilang. Dan jumlah yang berbilang tersebut melazimkan adanya sebuah susunan(tarkib/murakab). dan kesimpulan ini bertolak belakang dengan dzatNya yang kita sepakati dengan wujudNya yang basith(tidak tersusun). 

Dan demikian pula apa yang di sepakati para ulama mutakalim dari bebagai sekte dan madzhab akan pembahasan mengenai keesaan Allah Swt dan wujudNya yang Maha Satu tiada yang serupa denganNya.

 

Beberapa dalil alquran & nash agama.

 

 berkenaan dengan tauhid dalam Dzat Allah Swt tidak luput pula terdapat pada salah satu ayat alquran berkata:

 

لَوْ اَرَادَ اللّٰهُ اَنْ يَّتَّخِذَ وَلَدًا لَّاصْطَفٰى مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۙ سُبْحٰنَهٗ ۗهُوَ اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang Dia kehendaki dari apa yang telah diciptakan-Nya. Mahasuci Dia. Dialah Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa.

(Q.S Az-Zumar: 4)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *