Tauhid rububiyah (Pengatur urusan)
Tauhid rububiyah pengertiannya ialah Allah Swt adalah Tuhan Yang Maha Esa dalam mengatur segala urusan alam semesta dan setiap makhluk.
jika melihat kaum musyrikin seperti apa yang disinggung dalam beberapa ayat Al-Quran sesengguhnya mereka tidak mengingkari bahwa yang menciptakan alam semesta ini adalah Tuhan Yang Esa.
وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ فَاَنّٰى يُؤْفَكُوْنَۙ
“Jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, “Allah.” Maka, mengapa mereka bisa dipalingkan?”
(Q.S Az-Zukhruf ayat: 87)
قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اَمَّنْ يَّمْلِكُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَمَنْ يُّخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُّدَبِّرُ الْاَمْرَۗ فَسَيَقُوْلُوْنَ اللّٰهُۚ فَقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang menganugerahkan rezeki kepadamu dari langit dan bumi, siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, serta siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka, mereka akan menjawab, “Allah.” Maka, katakanlah, “Apakah kamu tidak takut (akan azab Allah)?”
(Q.S Yunus ayat: 31)
وَاتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اٰلِهَةً لِّيَكُوْنُوْا لَهُمْ عِزًّ
“Mereka telah menjadikan selain Allah sebagai tuhan-tuhan agar menjadi pembela mereka.”
Q.S Maryam ayat 81.
Namun mereka mengingkari rububiyah (pengatur) Allah Swt Yang Maha Esa dalam mengatur alam semesta dan urusan setiap makhluk. Bahkan mereka meyakini banyaknya Tuhan yang mengatur setiap urusan dialam semesta ini, seperti Tuhan pencipta, Tuhan pengatur kebaikan, Tuhan pengatur matahari, Tuhan pengatur langit dan bintang dll.
Kita temukan dalam ayat Al-Quran, Ibrahim a.s sebagai pencetus ilmu tauhid menentang kaum musyrikin dalam konsep tersebut.
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًاۗ قَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ
فَلَمَّا رَاَ الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَىِٕنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّاۤلِّيْنَ
فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ
اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۚ
Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”
Kemudian, ketika dia melihat bulan terbit dia berkata (kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku.” Akan tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk kaum yang sesat.”
Kemudian, ketika dia melihat matahari terbit dia berkata (lagi kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.” Akan tetapi, ketika matahari terbenam dia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kamu persekutukan.”
Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (hanya) kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan (mengikuti) agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.
Q.S Al-An’am ayat 76-79.
Pada ayat tersebut sesungguhnya Ibrahim a.s menggunakan kalimat Rabb (Tuhan Maha Pengatur) dalam menentang keyakinan kaum musyrikin, dan tidak menggunakan kalimat Khaliq ( Tuhan Maha Pencipta), karena kaum musyrikin meyakini bahwa pencipta alam semesta adalah Tuhan Yang Esa melainkan tidak meyakini bahwa pengatur alam semesta Tuhan Yang Esa pula, bahkan ada banyak Tuhan yang mengatur disetiap urusan alam semesta ini.
Dan juga dizaman Nabi Yusuf a.s yang mereka hidup di bawah setelah kenabian Nabi Ibrahim a.s. sesungguhnya kesyirikan umat di zaman itu sama halnya yaitu tidak mengesakan Allah dari sisi rububiyah seperti apa yang kita dapati dalam Al-Quran, Nabi Yusuf a.s berdiskusi dengan para kawanannya di dalam penjara.
يٰصَاحِبَيِ السِّجْنِ ءَاَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُوْنَ خَيْرٌ اَمِ اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
“Wahai dua penghuni penjara, manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa?”
(Q.S Yusuf ayat: 39)
Dan Al-Quran mengutip apa terjadi pula pada umat Nabi Muhammad Saw dimana ummat dikala itu, pada awal-awal pengutusan Nabi Saw mereka kaum musyrikin Quraish mensyirikan Allah Swt dari sisi rububiyah, mereka menjadikan patung-patung berhala dari batu serta kayu sebagai sesembahan yang mereka yakini sepadan dengan Tuhan (sekutu Allah Swt) yang mengatur berbagai permasalahan dan urusan dialam semesta.
وَاتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اٰلِهَةً لِّيَكُوْنُوْا لَهُمْ عِزًّاۙ
“Mereka telah menjadikan selain Allah sebagai tuhan-tuhan agar menjadi pembela mereka.”
(Q.S Maryam ayat: 81)
وَاتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اٰلِهَةً لَّعَلَّهُمْ يُنْصَرُوْنَۗ
لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ نَصْرَهُمْۙ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُّحْضَرُوْنَ
“Mereka menjadikan sesembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan.
(Sesembahan) itu tidak mampu menolong mereka, padahal (sesembahan) itu adalah tentara yang dihadirkan untuk menjaganya.”
(Q.S Yasin ayat: 74-75)
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِۙ وَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَۙ اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًاۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ
“Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya, (niscaya mereka menyesal).”
(Q.S Al-Baqoroh ayat: 165)
Dari dua kutipan ayat pada surat Maryam dan yasin tersebut jelas bahwanya ummat Nabi Muhammad Saw dizaman itu walaupun mereka meyakini bahwa yang menciptakan alam semesta dan makhluk adalah Tuhan Yang Maha Esa, mereka atas kehendak dirinya sendiri yang kemudian mensyirikan Allah Swt dengan tuhan-tuhan buatan mereka dengan berkeyakinan bahwa berhala-berhala patung tersebut adalah sebagai sekutu Tuhan Yang Esa (Allah Swt) dalam mengatur perkara makhluk dan alam semesta, dan kepada berhala itu pula mereka beribadah dan meminta.
Demikianlah apa yang terjadi pada umat-umat sebelumnya dan pada umat Nabi Muhammad di awal risalah kenabian yang dimana alquran mengecam kerasa ummat demikian, dimana menjadikan berhala sebagai sekutu Allah Swt dengan tanpa kehendak dan seizin Allah Swt.
Adapun kita meyakini tauhid rububiyah ialah mengesakan Allah Swt mutlak sebagai Tuhan Yang Esa mengatur urusan rizki,kehidupan dan kematian bahkan yang mengatur segala urusan makhluk serta alam semesta dan seisinya. Dengan dalil logika pada tauhid rubbubiyah sangatlah jelas bahwa Ketika Allah Swt adalah pengatur yang satu bagi alam semesta dan makhluk sejati perkara rububiyah dan tadbir (pengatur) tidak terpisah dari perihal penciptaan.
Maka Ketika kita katakana pencipta alam semesta dan makhluk itu adalah Dzat Yang Esa dengan demikian pengatur alam dan makhluk pula adalah Dzat Yang Esa, dikarena adanya suatu relasi yang sempurna antara penciptaan dan proses pengaturan dibalik sebuah penciptaan.
Begitupun nash Al-Quran menyebutkan perihal serupa, Allah Swt Ketika menciptakan sesuatu Dia pula lah yang mengatur ciptaanNya.
اَللّٰهُ الَّذِيْ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ يَّجْرِيْ لِاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ يُدَبِّرُ الْاَمْرَ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاۤءِ رَبِّكُمْ تُوْقِنُوْنَ
Allah yang meninggikan langit tanpa tiang yang (dapat) kamu lihat. Kemudian, Dia berkuasa atas ‘Arasy serta menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang telah ditentukan (kiamat). Dia (Allah) mengatur urusan (makhluk-Nya) dan memerinci tanda-tanda (kebesaran-Nya) agar kamu meyakini pertemuan (kamu) dengan Tuhanmu.
Q.S Ar-Raad ayat: (2)
Setelah kita meyakini bahwa allah swt adalah sebagai pengatur (mudhabir) segala urusan makhlukNya secara mutlak, demikian kita tidak menafikan pengatur (mudhabir) lain selain Dzat Allah Swt dalam mengatur urusan alam dan makhlukNya dalam menjalankan tugasnya.
فَالْمُدَبِّرٰتِ اَمْرًاۘ
“dan (malaikat) yang mengatur urusan (dunia)”
(Q.S An-Naziat ayat: 5)
seperti para malaikat sebagai pengatur beberpa urusan makhluk dan alam jagad ini, begitu juga para Nabi dan rasul mereka wajib ditaati dan yang Allah tugaskan untuk mengatur syariat agama, memberi syafaat dan maslahat bagi makhluk didunia & akhirat. Dan dari semua makhluk tersebut mereka yang mengemban tugas dan jabatan atas seizin dan kekhendak Allah Swt dalam mengatur beberapa urusan pada makhluk dan alam semesta ini tidak lain adalah sebuah manifestasi dari tauhid rubbubiyah dan adanya relasi vertikalisasi sebuah pengatur.
اَمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوٰىهُمْۗ بَلٰى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُوْنَ
“Ataukah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar) dan utusan-utusan Kami (malaikat) mencatat di sisi mereka.”
(Q.S Az-Zukhruf ayat: 80)
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِيُطَاعَ بِاِذْنِ اللّٰهِۗ وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ جَاۤءُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّابًا رَّحِيْمًا
Kami tidak mengutus seorang rasul pun, kecuali untuk ditaati dengan izin Allah. Seandainya mereka (orang-orang munafik) setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Nabi Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
(Q.S An-Nisa ayat: 64)













