Aqidah Remaja

Sifat Dzat Allah As-Salbiyah

10
×

Sifat Dzat Allah As-Salbiyah

Sebarkan artikel ini

SIFAT AS-SALBIYAH

 

Sifat salbiyah secara Bahasa adalah suatu sifat penafian dan penolakan. Dan maksud dan tujuan sifat ini lebih jelasnya adalah menafikan Dzat Allah Swt dari segala bentuk sifat kekurangan, kebutuhan dan kecacatan. 

Sesungguhnya Dzat Allah Swt yang maha kaya dan maha sempurna mutlak, dan dzat-Nya terhindar dari segala perkara sifat kekurangan, kebutuhan dan kecacatan. Maka dari itu menurut pandangan ulama kalam dari kaum muslimin mengatakan, sesungguhnya Dzat Allah Swt tidak berupa dan tidak berbentuk, tidak bertempat pada sesuatu dan tidak dalam suatu keadaan apapun. 

Dari kesemua sifat yang disebutkan adalah suatu bentuk kekhususan dari perangai sifat yang berkebutuhan, kekurangan dan kecacatan yang merupakan kriteria mungkin alwujud, keniscayaannya berbalik dari segala sifat kesempurnaan mutlak tidak lain wajib al-wujud.

 

ALLAH SWT TIDAK DAPAT DILIHAT DENGAN MATA.

Dari semua sifat yang melazimkan kekurangan terhadap Dzat Allah Swt tersebut. Begitupun demikian salah satu perujudan sifatnya adalah Allah Swt tidak dapat digapai dengan penglihatan mata. 

Karena setiap perkara yang dapat dilihat dengan mata masuk kepada suatu perkara kekurangan dan kebutuhan yang merupakan suatu sifat mungkin al-wujud yang memenuhi kriterianya sifat kecacatan sebagai berikut: 

  1. Berada dalam suatu tempat dan sisi tertentu
  2. Membutuhkan pancaran sinar yang mulanya gelap hingga terterangi 
  3. Membutuhkan jarak pemisah antara yang melihat dan yang dilihat

 

Dari semua kriteria yang ada tersebut jelas merupakan sifat-sifat yang disandang oleh suatu rupa dan bentuk yang keniscayaannya adalah kekususan sebuah materi. Dan Dzat Allah Swt terhindara dari perkara demikian. 

Sebagai tambah apabila kita katakana Dzat Allah Swt itu sebuah materi maka kesimpulannya sebuah materi tidaklah keluar dari dua kondisi dalam objek penglihatannya: 

  1. Ada suatu materi yang secara keseluruhan wujudnya dapat dilihat, atau 
  2. Suatu materi yang hanya Sebagian wujudnya dapat dilihat

Perkara kesimpulannya pada pertama Allah Swt suatu materi yang meliputi Batasan tertentu, dan pada perkara kedua maka bermakna, Allah Swt suatu materi tersusun dan memiliki anggota. Dan dari kedua kondisi diatas sangatlah bertolak belakang dengat Dzat Allah Swt yang bashit dan mustaqil, maka dzat-Nya terhindar dari konsep tersusun dan terbatas. Dan itu semua yang layaknya dapat dilihat secara objek materi. 

 

Adapun dari sisi lain Dzat Allah Swt dapat dilihat dengan penglihatan hati Nurani batin yang suci, dengan kesempurnaan iman dan keyakinan, dan tak diragukan lagi perkara ini bisa disaksiakan pada para Aulia Allah serta para hamba sholeh dalam melihat Dzat Allah Swt. 

Dinukil dalam riwayat yang dinisbatkan kepada da’lab  al-yamani salah satu dari sahabat Imam Ali a.s. da’lab r.a ketika bertanya kepada imam a.s mengenai cara melihat Dzat Allah Swt. Imam Ali a.s dengan tegas menafikan penglinatan secara kasat mata layaknya materi, tetapi dari pandangan lain imam a.s menegaskan bahwa melihatan kepada Dzat Allah Swt hanya dapat diraih dengan penglihatan hati dan keimanan. 

قال ذعلب اليماني – وهو من أصحاب الإمام علي (عليه السلام) – قلت للإمام (عليه السلام) هل رأيت ربك يا أمير المؤمنين؟

قال الإمام (عليه السلام): ” أفأعبد ما لا أرى “.

فقال ذعلب: وكيف تراه؟

فقال (عليه السلام): “لا تراه العيون بمشاهدة العيان ولكن تدركه القلوب بحقائق الإيمان” 

Berkata da’lab r.a kepada imam ali a.s. Apakah engkau melihat tuhanmu ya amiral mukminin? 

Imam ali a.s menjawab. “Tidaklah aku menyembah, sesuatu yang tidak aku lihat”. 

Berkata da’lab r.a. “Bagaimana engkau melihatNya”?

Imam a.s lalu berkata.” Dzat allah swt tidaklah dilihat dengan kesaksian mata, tetapi Dia swt dilihat dengan penglihatan hati dan keteguhan iman. (Nahjul balaghah. Khutbah no:179) 

Kemudian dapat kita lihat juga penafian milihat Dzat Allah Swt pada al-quran dimana ayat tersebut mengisahkan tentang Nabi Musa a.s ketika dipaksa oleh kaumnya agar diperlihatkan wujud Allah Swt kepada mereka. 

 

قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ

“Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku.”

 (Q.s. Al-A’raf ayat 143)

Nabi Musa a.s dan kaumnya pada ayat ini. 

ialah singkat kisah ketika Nabi Musa a.s memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk ikut ke miqat (tempat dimana Musa a.s berdialog dengan Allah Swt) untuk dapat menyaksikan turunnya wahyu kitab taurat, ketika  sampai kepada miqat, salah satu dari kaumnya menyarankan kepada musa agar Allah Swt menampakan wujudnya kepada mereka. 

Mereka berkata kepada musa, seperti yang ada pada surat Al-Baqarah ayat 55 berikut: 

 

وَاِذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً فَاَخَذَتْكُمُ الصّٰعِقَةُ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ

“Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas,” maka halilintar menyambarmu, sedang kamu menyaksikan.”

Dikutip juga pada surat An-Nisa ayat 153

 

يَسْـَٔلُكَ اَهْلُ الْكِتٰبِ اَنْ تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتٰبًا مِّنَ السَّمَاۤءِ فَقَدْ سَاَلُوْا مُوْسٰٓى اَكْبَرَ مِنْ ذٰلِكَ فَقَالُوْٓا اَرِنَا اللّٰهَ جَهْرَةً فَاَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ بِظُلْمِهِمْۚ

“(Orang-orang) Ahli Kitab meminta kepadamu (Muhammad) agar engkau menurunkan sebuah kitab dari langit kepada mereka. Sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata, “Perlihatkanlah Allah kepada kami secara nyata.” Maka mereka disambar petir karena kezalimannya.” 

Ketika mereka terjaga dan sadar, setelah doa yang mereka minta kepada musa untuk dapat melihat wujud Allah Swt, salah satu dari kaumnya kembali menyarankan yaitu meminta musa untuk tetap berdoa agar mereka dapat melihat wujud Allah Swt.

 Mereka bersikukuh dan memaksa musa. “wahai musa sesungguhnya engkau mendengar firman Allah Swt maka berdoalah agar Allah Swt menampakan wujud kepada kami” 

Kemudia Musa a.s berdoa Kembali kepada Allah Swt, walaupun dengan ilmunya musa a.s tahu betul bahwa Allah Swt tidaklah dapat dilihat dengan penglihatan mata, akan tetapi karena dengan permintaan dan paksaan kaumnya tetap berdoa.

Maka dengan tegas Allah Swt menjawab dengan penafian, setelah musa berdoa demikian. 

 

قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ

“Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku.” 

(Q.s. Al-A’raf ayat 143)

Maka kesimpulan pembahasan mengenai penglihatan Dzat Allah Swt menurut riwayat dan ayat Al-Quran keniscayaannya ialah kemustahilan secara akal.  

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *