Aqidah Remaja

Imamah adalah Ranah Tuhan

41
×

Imamah adalah Ranah Tuhan

Sebarkan artikel ini

IMAMAH (kepemimpinan) adalah berkaitan dengan ranah Tuhan.

Sebagaimana akan kita saksikan secara sepintas, masalah imamah berkaitan dengan ranah Tuhan. Pengangkatan seorang penerus Nabi Saw harus didasarkan wahyu Tuhan. 

Namun sebelum memasuki riwayat hadis dan aspek-aspek agama legal ihwal masalah ini, marilah kita menganggap bahwa kita tidak memiliki dalil tekstual (nash) agama secara langsung untuk diambil keterangan darinya, serta bertanya kepada diri sendiri, keputusan apakah yang akan dijatuhkan nalar manusia mengenainya, seraya memerhatikan kondisi-kondisi yang ada pada masa itu. Jelas terlihat bahwa pengamatan intelektual akan berlangsung sepanjang garis-garis berikut: 

Jika seorang pejuang pembawa perubahan besar sungguh-sungguh berjuang selama bertahun-tahun lamanya, dan sampai pada rencana yang akan bermanfaat bagi masyarakat manusia, maka wajar bahwa, agar rencananya tetap terlaksanakan selepas kematiannya, dan berhasil dalam jangka panjang, dia akan mencari cara efektif untuk mengabadikan sistem yang telah dibangunnya. Atau, kemudian membiarkannya tidak terjaga suatu programnya sama sekali, dengan tidak mengangkat para penggantinya atau pengawas yang bertugas memelihara dan menjaga selepas kematiannya. 

Nabi Saw merupakan salah satu sosok teragung dalam sejarah manusia yang, dengan melahirkan  agama baru, menghasilkan perubahan besar-besaran di dunia, dengan meletakkan fondasi-fondasi peradaban baru dan global. Jelasnya, sosok mulia ini, yang dengannya suatu agama yang selamanya sah menjadi terbangun, dan yang memberikan kepemimpinan pada masyarakatnya sendiri, harus memperjelas bagaimana agama ini harus dijaga, dilindungi dari pelbagai marabahaya dan ancaman yang mungkin menghadang. Beliau Saw juga harus mengatakan sesuatu prihal bagaimana umat muslim selamanya harus dituntun dan diatur, dan beliau saw harus menunjukkan kualitas kepemimpinan yang seharusnya berlangsung setelah wafatnya. Dalam kondisi ini tidakkah dapat dibayangkan bahwa beliau saw akan pertama-tama, membangun agama yang harus berlangsung hingga akhir masa, dan kemudian memberikan petunjuk yang jelas soal bagaimana kepemimpinan agama, selepas wafatnya, demikian harus ditentukan dan diorganisasikan.

 Tidakah dapat dibayangkan juga bahwa seorang nabi yang tidak menyembunyikan petunjuknya sekalipun berkenaan dengan masalah remeh menyangkut kesejahteraan manusia, harus mengabaikan keharusan memberi petunjuk prihal persoalan yang sedemikian genting seperti kepemimpinan masyarakat Islam, dan dengan demikian membiarkan kaum muslim berbuat sesuka hati, tidak mengetahui apa yang menjadi kewajibannya berkenaan dengan isu pokok keberlangsungan agamanya. Karenanya, mustahil untuk menerima argumen bahwa Nabi Saw meninggalkan dunia ini tanpa memberi instruksi apapun prihal kepemimpinan umat selepas wafatnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *