Aqidah Remaja

Kemaksuman (Ishmah) Nabi

67
×

Kemaksuman (Ishmah) Nabi

Sebarkan artikel ini

KEMAKSUMAN (ISHMAH) NABI. 

Klasifikasi kemaksuman. 

kemaksuman (ishmah) harus dipahami sebagai keterjagaan dan kekebalan. Di ranah kenabian, kemaksuman meliputi sejumlah aspek berikut:

 (a) berkenaan dengan kedudukan menerima, memelihara, dan menyampaikan wahyu.

 (b) berkenaan dengan dilindungi terhadap segala ketidaktaatan dan dosa.

 (c) berkenaan dengan dilindungi dari pelbagai skandal individu dan sosial.

 

Berkenaan dengan poin pertama dari derajat ini, terdapat kesepakatan serempak kalangan semua muslimin, karena, seandainya terdapat kemungkinan adanya kekeliruan atau kesalahan pada derajat ini, kepercayaan manusia pada Nabi akan goyah, dan mereka tidak akan percaya terhadap risalah Nabi Saw yang lain akibatnya, seluruh tujuan wahyu akan runtuh. Al-Quran memberitahukan kita bahwa Allah telah menempatkan para Nabi a.s di bawah pengawasan total untuk menjamin bahwa wahyu secara benar disampaikan kepada umat manusia. Ini sebagaimana difirmankan:

عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖٓ اَحَدًاۙ

اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ فَاِنَّهٗ يَسْلُكُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ رَصَدًاۙ

لِّيَعْلَمَ اَنْ قَدْ اَبْلَغُوْا رِسٰلٰتِ رَبِّهِمْ وَاَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَاَحْصٰى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدً

 Dia mengetahui yang gaib, dan Dia tidak memperlihatkan kepada siapapun tentang yang gaib itu, kecuali kepada Rasul yang Dia ridai, maka Dia mengadakan penjaga di depannya dan penjaga di belakangnya, agar Dia mengetahui bahwa para rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhan mereka. Dia mengetahui betul apa yang mereka lakukan, dan Dia menghitung segala sesuatu. (QS. al-Jin [62]:26-28) 

Dalam rangkaian ayat ini, dua jenis penjaga disebutkan guna melindungi integritas wahyu: 

  1. para malaikat yang menjaga Nabi Saw dari setiap jenis kejahatan.
  2. Allah Swt Sendiri yang menjaga Nabi Saw dan para malaikat.

Alasan pengawasan yang ketat ini adalah untuk menjamin realisasi tujuan kenabian, tidak lain yaitu wahyu disampaikan kepada umat manusia.

 

Keterjagaan para Nabi dari maksiat & dosa. 

Para rasul Allah dijadikan kebal dari segala jenis dosa dan kesalahan dalam menjalankan hukum-hukum syariat. Karena, seandainya sama sekali tidak sejalan dengan hukum-hukum Tuhan yang mereka sendiri kemukakan, maka tidak ada orang yang dapat mempercayai kebenaran ucapan mereka, dan akibatnya, tujuan kenabian tidak akan tercapai. 

syekh Nashiruddin Thusi, telah memberi penjelasan singkat tentang dalil keharusan kemaksuman ini.

ويجب في النبي العصمة ليحصل الوثوق فيحصل الغرض

 “Kemaksuman itu penting bagi para rasul, agar ucapan-ucapan mereka dipercaya, dan tujuan kenabian terealisasi.” (kitab.kasf-almurad-syarah al-I’tiqod/bab:kemaksuman)

 adapun para Nabi yang tidak melakukan dosa, beberapa ayat Al-Quran menekankan ini secara berbeda. Kami akan menyinggung beberapa ayat tersebut di bawah ini: 

1. Al-Quran menegaskan para nabi sebagai manusia yang dituntun dan diangkat realitasnya disisi Allah Swt. 

وَمِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَاِخْوَانِهِمْۚ وَاجْتَبَيْنٰهُمْ وَهَدَيْنٰهُمْ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

… dan Kami telah memilih mereka dan Kami telah menuntun mereka menuju jalan yang lurus.

 (QS. al-An’am [6]:87)

2. Al-Quran mengingatkan kita bahwa siapapun yang dibimbing Allah, tidak seorangpun yang mampu menyesatkannya, 

وَمَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ مُّضِلٍّۗ اَلَيْسَ اللّٰهُ بِعَزِيْزٍ ذِى انْتِقَامٍ

“Dan siapapun yang Allah beri petunjuk maka tidak ada orang yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Mahaperkasa lagi Maha Memiliki (kekuasaan) untuk membalas?”

(QS. al-Zumar [39]:37)

3. Dosa’ dipahami dalam pengertian ‘kesesatan,’ 

وَلَقَدْ اَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيْرًاۗ اَفَلَمْ تَكُوْنُوْا تَعْقِلُوْنَ

Sungguh ia [Iblis] telah menyesatkan sebagian besar dari antara kamu. Maka, apakah kamu tidak mengerti?

(QS. Yasin [36]:62)

Rangkaian ayat ini, secara bersama-sama, menunjukkan bahwa para Rasul terhindar dari segala jenis kesalahan dan dosa.

Dalil ilmiah tentang keharusan adanya kemaksuman para Nabi yang dikemukakan di atas, sama-sama berlaku bagi keharusan adanya kemaksuman sebelum mereka menerima misi kenabian. Karena, orang yang telah menghabiskan sebagian hidupnya dalam kubangan dosa dan kesalahan, kemudian setelah itu mengklaim ditugaskan untuk memberi petunjuk yang benar, tidak dapat dipercaya. Namun, orang yang sejak awal hidupnya nihil dari setiap jenis ketidaksucian, niscaya akan mendapatkan kepercayaan semua orang. Juga, orang-orang yang mengingkari kebenaran risalah Tuhan; maka semuanya akan terlalu mudah untuk menunjukkan masa lalu yang gelap sang Nabi, sekaligus mencemarkan nama dan karakternya, yang karenanya merusak risalah Tuhan itu. Dalam konteks semacam itu, hanya satu orang yang telah menjalani kehidupan suci tak tercela. sedemikian, hingga beliau pantas menyandang gelar ‘Muhammad yang dapat dipercaya (al-Amin).’ Beliau berkat kecemerlangan pribadinya yang berkilau, menyingkirkan kabut gelap propaganda jahat yang dihembuskan para musuhnya dan, melalui sikap yang teguh dan mulia, secara bertahap menyinari suasana lingkungan kelam bangsa Arab Jahiliyah.

 

Selain berbagai pertimbangan itu, jelas bahwa seorang manusia yang tidak melakukan dosa sejak awal hidupnya diposisikan lebih tinggi dari manusia lain, setelah ditunjuk untuk menjalankan misi kenabian dan lingkup petunjuknya akan sesuai dengannya, jauh lebih besar. Kebijakan Tuhan menuntut hanya orang terbaik, yang sangat sempurna kecerdasannya, yang layak dipilih sebagai sosok dan teladan umat manusia.

 

Keterjagaan para Nabi dari kesalahan & kekeliruan. 

Selain tidak melakukan dosa, para Nabi juga kebal kesalahan dalam bidang berikut, 

  1. Memutuskan perselisihan. Para Rasul a.s ditugaskan Allah untuk memberi keputusan sesuai neraca keadilan yang ditetapkan Allah Swt. Tak pernah terjadi dalam masalah apapun, para rasul as menyimpang dari prinsip-prinsip yang dengannya segenap perselisihan dan masalah hukum lainnya harus diputuskan. 
  2. Memberikan seputar batas-batas hukum agama: sebagai contoh, dengan memastikan apakah suatu cairan tertentu dikategorikan sebagai alkohol atau bukan.
  3. Prinsip sosial: sebagai contoh, dengan menentukan, apa yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan apa yang merusaknya. 
  4. Persoalan hidup sehari-hari.

Alasan bagi harus adanya kemaksuman ini berlangsung pada tiga bidang terakhir adalah: Dalam pikiran sebagian besar manusia, kesalahan dalam semua hal ini juga bermakna kesalahan dalam bidang hukum agama. Konsekuensinya, kesalahan dalam hal-hal semacam itu akan meruntuhkan keyakinan hingga manusia harus menghadirkan pribadi sang Rasul, dan akhirnya mengakibatkan runtuhnya tujuan (misi) kenabian. Namun, keharusan adanya
kemaksuman pada dua bidang pertama jauh lebih jelas ketimbang pada bidang keempat. 

 

Para Nabi terjaga dari penyakit serta cacat moral. 

Salah satu aspek kemaksuman para nabi adalah tidak boleh terdapat unsur dalam wujud mereka yang berfungsi sebagai sumber penolakan umat manusia. Kita semua tahu,
penyakit-penyakit tertentu dan ciri-ciri karakter tertentu seperti kekasaran atau kerendahan moral menimbulkan ketidaksukaan dan penolakan. Para Nabi a.s mau tidak mau harus bebas dari kecacatan fisik dan psikis. Karena ketidaksukaan manusia pada seorang nabi bertentangan dengan tujuan kenabian, yang merupakan silsilah pembawa risalah Tuhan kepada umat manusia melalui sosok nabi. Karenanya perhatikanlah, sebuah keputusan intelektual tersebut berfungsi dalam bentuk penyingkapan sebuah kenyataan yang tentunya sejalan dengan kebijakan Tuhan. Hanya orang-orang yang tidak memiliki kesalahan dan kecacatan semacam itu saja yang dapat diangkat sebagai Nabi atau Rasul. 

 

Landasan dasar & alasan kemaksuman para Nabi.  

Kita telah mencermati bahwa keputusan intelektual yang disepakati, juga hukum-hukum Al-Quran, secara terperinci menetapkan keharusan adanya kemaksuman para Nabi a.s. Sumber-sumber dan dasar-dasar kemaksuman bisa diringkas dalam dua prinsip berikut: 

  • Para Nabi (dan orang-orang suci tertentu) memiliki derajat spiritualitas yang melimpah ruah. Betapa luhur kesadaran tentang Allah Swt, sampai-sampai mereka tidak akan menukarkan kepuasannya terhadap Allah Swt dengan apapun yang lain. Dengan kata lain, pengenalan mereka tentang keagungan Tuhan, nikmat dan kebesaran-Nya, sedemikian rupa hingga mereka tidak dapat melihat apapun yang terpisah dari kenyataan-Nya, dan tidak dapat memiliki pemikiran yang terpisah dari pendirian untuk mencari keridaan Allah Swt. Kedudukan spiritualitas ini ditunjukkan dalam ucapan Imam Ali a.s berikut: 

 

ما رأيت شيئا إلا ورأيت الله قبله، وبعده و معه.

“Aku tidak melihat apapun tanpa melihat Allah sebelumnya, setelahnya dan bersamanya.”  (Biharul anwar 70/22 hadist no.9)

 

Dan Imam Shadiq as berkata: 

ولكني أعبده حبا له فتلك عبادة الكرام.

“Aku beribadah kepada Allah karena aku mencintai-Nya; dan ini adalah ibadahnya orang-orang agung. (Biharul anwar 70/18 hadist no.9)

  • Kesadaran sempurna, yang dimiliki para Nabi a.s, mengenai pelbagai ganjaran kenikmatan dari ketaatan, serta azab mengerikan yang mengiringi ketidaktaatan. kesadaran demikian melahirkan kekebalan dari tidak taat kepada Allah Swt, Tentu saja kemaksuman dalam segala kesempurnaannya merupakan keterjagaan khusus para wali Allah Swt. namun, sesungguhnya sebagian mukmin yang saleh, juga kebal dan terjaga dari berbuat dosa dalam beberapa lingkup aktivitasnya. Sebagai contoh, seorang saleh tidak akan pernah bunuh diri, dengan cara apapun, dan tidak akan membunuh orang yang tidak bersalah karena mengetahui betul dampak negative dari perbuatan tersebut. Ada pula orang-orang biasa yang mendapatkan manfaat dari sejenis ‘penjagaan’ dalam beberapa urusannya. Sebagai contoh, tak seorangpun yang akan menyentuh kabel telanjang sementara arus listriknya masih hidup. Jelas, kekebalan dan kesadaran dalam contoh-contoh semacam itu muncul dari pengetahuan tertentu prihal akibat negatif dari tindakan tertenut. Demikian  andai pengetahuan tertentu tentang akibat perbuatan berbahaya dari dosa diperoleh, niscaya itu akan menjadi sumber potensial yang menjadikan seseorang menjaga dari dosa. 

 

Status kemaksuman bukan hanya milik para Nabi saja. 

Walaupun kita percaya bahwa kemaksuman dimiliki seluruh Nabi, namun kita tidak menganggap kemaksuman sebagai milik istimewa para Nabi a.s sendiri. Karena, boleh jadi seseorang itu maksum padahal dirinya bukan nabi. Al-Quran menyatakan tentang Maryam a.s berikut: 


وَاِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفٰىكِ عَلٰى نِسَاۤءِ الْعٰلَمِيْنَ

“Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu dan telah menyucikanmu, dan telah melebihkanmu atas seluruh wanita semesta alam”.

(QS. Ali Imran [3]:42)

Karena Al-Quran menggunakan kata ishthafa [secara harfiah: memilih, tapi juga bermakna ‘melebihkan’] dalam kaitan dengan Maryam a.s, maka jelas bahwa Maryam a.s itu maksum. Karena, kata inilah dalam Al-Quran yang digunakan terkait para Nabi a.s. 

اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرٰنَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran atas makhluk-makhluk-Nya”. (QS. Ali Imran [3]:33) 

Terlepas dari masalah ini, seharusnya diperhatikan bahwa dalam ayat yang dikutip di atas yang menunjukkan kesucian Maryam a.s maknanya adalah bahwa Maryam a.s secara hakiki tidak ternoda jenis kotoran apapun. Ini bukan bermakna bahwa dia terbebas dari dosa yang menjadikannya dituduh kaum Yahudi sekaitan dengan putranya. Karena, keterbebasan dirinya dari tuduhan ini telah terbukti di hari pertama kelahiran Nabi Isa a.s, berkat ucapan Isa a.s yang mengagumkan. sehingga tidak diperlukan lagi penjelasan lebih jauh. Sebagaimana telah dikatakan, ayat yang berkaitan dengan kesucian Maryam a.s terdapat dalam rangkaian ayat yang berkenaan dengan masa saat Maryam a.s taat beribadah di mihrab kuil Jerusalem. Saat itu, dia belum mengandung Isa a.s. Karenanya tak ada tuduhan pada tahap ini. maka kesucian yang dibicarakan tidak semata-mata bermakna dia tidak bersalah dari tuduhan terhadapnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *