Dalil akurat kepemimpinan Ali Bin Abi Thalib adalah riwayat hadist al-ghadir
Pada pembahasan hadist-hadist sebelumnya, Nabi Saw telah menunjukan tentang siapa yang kelak menjadi penggantinya dengan penjelasan secara umum ataupun secara khusus.
Sedemikian, sampai-sampai salah satu hadist tersebut cukup dijadikan sebagai dalil bagi orang-orang yang secara objektif mencari kebenaran. Walaupun demikian, agar pesan beliau Saw mengenai masalah ini sampai ke telinga kaum muslim di banyak tempat, dan untuk menutup kemungkinan apapun yang dapat membuat keraguan atau kebimbangan mengenainya, Nabi Saw lantas pada ibadah haji wada’ (terakhir) bersama umat, beliau Saw menghentikan sejumlah besar jemaah haji yang kembali dari ibadah haji di sebuah tempat bernama Ghadir Khum. Di situ, beliau memberitahukan para sahabat bahwa dirinya telah menerima perintah Allah Swt untuk menyampaikan sebuah pesan kepada mereka. Pesan Tuhan ini menyangkut pelaksanaan sebuah kewajiban penting nan agung hingga jika tidak dilaksanakan, Nabi Saw [dianggap] tidak melaksanakan seluruh risalahnya. Sebagaimana Al-Quran menyatakan:
يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَۗ وَاِنْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَتَهٗۗ وَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ
Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, karena jika engkau tidak melaksanakannya, maka (sama saja) engkau tidak melaksanakan risalah-Nya. Allah akan melindungimu dari (kejahatan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.
(QS. al-Maidah. Ayat 67)
Tempat mimbar pun dibangun. Beliau Saw berdiri di atasnya dan kemudian berkhotbah, “Segera, aku akan menjawab labbaik (aku siap mengabdi pada-Mu)untuk panggilan Tuhanku, apa yang kalian katakan tentang aku?”
Orang-orang pun menjawab dan menyatakan, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan kepada kami agama Allah, engkau hanya menginginkan kebahagiaan kami, dan engkau telah melakukan yang terbaik. Semoga Allah menganugerahi balasan terbaik bagimu!”
Lalu beliau Saw bertanya, “Apakah kalian bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya dan Hari Kiamat itu hak?”
Dan semua yang hadir memberikan kesaksian yang serupa. Lalu Nabi Saw dalam Riwayat hadist al-ghadir nan panjang, berikut singkat kutipan sabda Nabi Saw:
قال (صلى الله عليه وآله وسلم): ” فإني فرط (أي أسبقكم) على الحوض (أي الكوثر)، فانظروا كيف تخلفوني في الثقلين؟ ” فنادى مناد: وما الثقلان يا رسول الله؟
قال (صلى الله عليه وآله وسلم): ” الثقل الأكبر كتاب الله طرف بيد الله عز وجل وطرف بأيديكم فتمسكوا به لا تضلوا، والآخر الأصغر عترتي، وإن اللطيف الخبير نبأني أنهما لن يفترقا حتى يردا علي الحوض، فلا تقدموهما فتهلكوا، ولا تقصروا عنهما فتهلكوا”.
ثم أخذ بيد ” علي ” فرفعها حتى رؤي بياض آباطهما فعرفه القوم أجمعون فقال (صلى الله عليه وآله وسلم): ” أيها الناس من أولى الناس بالمؤمنين من أنفسهم؟ ” قالوا: الله ورسوله أعلم.
قال (صلى الله عليه وآله وسلم): ” إن الله مولاي، وأنا مولى المؤمنين، وأنا أولى بهم من أنفسهم، فمن كنت مولاه فعلي مولاه “
ثم قال (صلى الله عليه وآله وسلم): ” اللهم وال من والاه، وعاد من عاداه، وأحب من أحبه، وابغض من أبغضه، وانصر من نصره، واخذل من خذله، وأدر الحق معه حيث دار، ألا فليبلغ الشاهد الغائب”.
( أمصادر: أشار المحدثون والمفسرون المسلمون إلى نزول في سورة المائدة الآية 67 في حجة الوداع، يوم الغدير، أنظر: كتاب ” الدر المنثور ” للسيوطي / 298 ” فتح القدير ” للشوكاني 2 / 57، وكشف الغمة للإربلي، ص 94 / ينابيع المودة”” للقندوزي، ص 120، المنار: 6 / 463 وغيرها. )
Nabi Saw berkata: “Aku akan mendatangi Telaga Haudh (Kautsar) sebelum kalian, perhatikanlah bagaimana kalian memperlakukan dua hal berharga [tsaqalain] yang aku tinggalkan.”
Seseorang bertanya, apa yang dimaksud dengan ‘dua hal berharga’ itu? Nabi Saw menjawab, “Yang satunya adalah kitab Allah Swt, dan satunya lagi, keturunanku. Dan Allah Swt Maha Mengetahui telah memberitahuku bahwa kedua hal berharga ini tidak akan berpisah hingga Hari Kiamat, sampai keduanya datang menemuiku (di Telaga Haudh). Janganlah kalian mendahului keduanya ini, niscaya kalian akan binasa, dan janganlah kalian terlalu jauh menyimpang dari keduanya, niscaya kalian akan binasa.”
Kemudian beliau Saw menggenggam tangan Ali, mengangkatnya tinggi-tinggi, semua orang yang hadir dapat melihat kedua tangan itu. Lalu beliau menyatakan sebagai berikut:
“Wahai manusia! Siapakah yang lebih berhak atas orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” [Nabi Saw bersabda] “Sesungguhnya Allah adalah Mawla-ku dan aku adalah mawla setiap mukmin, dan aku lebih berhak atas mereka ketimbang diri mereka sendiri.” Lalu beliau berkata tiga kali, “Bagi siapa yang menjadikan aku sebagai mawla-nya, Ali adalah mawla-nya.”
Selanjutnya, beliau saw berkata, “Tuhanku! Pimpinlah siapapun yang menjadikan Ali sebagai pemimpinnya dan musuhilah siapapun yang musuhinya, cintailah siapapun yang mencintainya dan bencilah siapapun yang membencinya, bantulah siapapun yang membantunya dan telantarkanlah siapapun yang menelantarkannya, di manapun dia berada. Marilah para hadirin, sampaikan semua ini kepada orang-orang yang tidak hadir.”
Kualitas hadits Ghadir khum.
Hadits Ghadir khum dinilai hadist mutawattir yang banyak diriwayatkan para sahabat, tabi’in dan para perawi hadist yang tak terhitung jumlahnya selama berabad-abad. Totalnya mencapai 110 sahabat, 89 generasi pelanjut (tabi’in) dan 3500 ulama hadis, sangat kecil kemungkinan munculnya perselisihan seputar kesahihannya. Juga, sekelompok ulama telah menulis kitab-kitab tentang hadis ini. Salah satunya adalah kitab al-Ghadir, karya Allamah Abdul Husain Amini (1320-1390 H/1902-1970 M) Didalam kajian kitab ini pengarang menyajikan seluruh matarantai riwayat (sanad) untuk hadis tersebut, kebanyakan sanad riwayatnya dari jalur umum (ahlu-sunnah).
Inti dari isi hadist al-ghadir kami akan membahas pertanyaan seputar maksud istilah mawla, berkenaan dengan Nabi saw dan Imam Ali a.s. Terdapat banyak bukti yang menunjukkan bahwa makna istilah “mawla” adalah otoritas dan kepemimpinan. Kami akan menyinggung beberapa bukti tersebut dengan beberapa uraian berikut.
- Pada peristiwa Ghadir Khum, Nabi Saw setelah menjalankan haji wada’ Ketika diperjalanan pulang menghentikan kafilah haji di suatu tempat yang tidak terdapat air dan padang rumput, di siang bolong yang sangat terik. Panas udaranya sedemikian menyengat hingga orang-orang yang hadir menjadikan sebagian
jubahnya sebagai peneduh kepala, sebagian lain menutupi bagian tubuh sebelah bawah, untuk melindungi diri dari sengatan panas tersebut. Penghentian kalifah dalam kondisi demikian pasti menandakan bahwa Nabi Saw bermaksud menyampaikan suatu persoalan yang sangat penting. sebagai khotbah utama, yaitu demi menentukan nasib umat dan sesungguhnya, apa yang lebih penting dari menentukan nasib umat ketimbang isu menentukan pengganti Nabi Saw yang apabila diselesaikan dengan benar, akan menjadi sumber kesatuan kaum muslim dan perlindungan umat? - Sebelum mengungkapkan status wilayah Ali a.s, yaitu, Ali as dijadikan mawla, Nabi Saw berbicara tentang tiga prinsip: Tauhid, Nubuwah dan Akhirat, dengan lebih dulu meminta pengakuan dari kaum muslim bahwa beliau sungguh-sungguh telah menyampaikan risalah Tuhannya. Dengan menghubungkan risalahnya dengan pengakuan kaum muslim terhadap tiga prinsip ini, beliau mengindikasikan pentingnya pesan yang akan segera disampaikan, juga tentang betapa pentingnya isu yang harus beliau kemukakan. tidak mungkin hal itu hanya berkisar pada sesuatu yang sedemikian remeh, seperti anjuran menjadi ‘sahabat’ seseorang.
- Di awal khotbah, Nabi Saw berbicara tentang kematian dirinya yang segera tiba. Karenanya, indikasi keprihatinan beliau atas kondisi umatnya akan membuat mereka tersadar soal apa yang akan terjadi selepas wafatnya. Apa yang lebih pantas dari membekali para umat dengan sarana pemetaan jalan mereka, berdasarkan rancangan beliau, untuk mengarungi hamparan lautan berbahaya dan penuh badai di hadapan mereka.
- Sebelum menyampaikan pesan Tuhan tentang Ali a.s, beliau berbicara tentang kualitasnya sendiri sebagai mawla, kemawla-annya, dan hak istimewa beliau (awlawiyyah), melalui sabdanya, “Allah adalah Mawla-ku dan aku adalah mawla bagi setiap mukmin, dan aku lebih berhak atas mereka dibandingkan diri mereka sendiri.” Ini menunjukkan status Ali as sebagai mawla berasal dari akar kata yang sama dengan mawlawiyyah dan awlawiyyah Nabi Saw, maka, lewat keputusan Allah, awlawiyyah Ali a.s pun dikukuhkan. Pada khotbah Ghadir khum setelah menyampaikan pesan tersebut, Nabi saw menginstruksikan orang-orang yang hadir untuk menginformasikannya kepada orang-orang yang tidak hadir.
Terlepas dari rangkaian hadist sahih al-ghadir tersebut yang membuktikan bahwa masalah suksesi Nabi Saw adalah persoalan yang ditentukan Allah, ketimbang diserahkan pada kehendak umat, berbagai riwayat sejarah juga mengindikasikan bahwa Nabi Saw, bahkan saat masih berada di Mekah, karena membangun negara Madinah, menganggap masalah suksesi berkaitan dengan keputusan Allah Swt. Sebagai contoh, kepala suku Bani Amir mendatangi Nabi Saw di musim haji dan bertanya, “Jika kami berbaiat kepadamu, dan engkau menaklukkan musuh-musuhmu, akankah kami memperoleh manfaat berupa andil dalam kepemimpinan [umatmu]?” Dalam
menjawabnya, Nabi Saw berkata, “Itu, Allah yang memutuskan, Dia akan mempercayakan kepemimpinan kepada siapapun yang Dia kehendaki. (kitab: sirah ibn hisyam 2/224).
Jelas, jika masalah kepemimpinan harus ditentukan melalui pilihan masyarakat, Nabi Saw akan mengatakan, “Masalah ini berkaitan dengan umat,” atau “terserah umat yang berhak” untuk memutuskan, namun kata-kata Nabi Saw dalam konteks ini, sama
dengan kata-kata Allah Swt sekaitan dengan risalah Islam itu sendiri,
وَاِذَا جَاۤءَتْهُمْ اٰيَةٌ قَالُوْا لَنْ نُّؤْمِنَ حَتّٰى نُؤْتٰى مِثْلَ مَآ اُوْتِيَ رُسُلُ اللّٰهِۘ اَللّٰهُ اَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسٰلَتَهٗۗ سَيُصِيْبُ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا صَغَارٌ عِنْدَ اللّٰهِ وَعَذَابٌ شَدِيْدٌۢ بِمَا كَانُوْا يَمْكُرُوْنَ
“Apabila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata, “Kami tidak akan beriman hingga diberikan kepada kami (sesuatu) seperti apa yang diberikan kepada rasul-rasul Allah.” Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya(risalahnya). Orang-orang yang berdosa nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan azab yang keras karena tipu daya yang mereka lakukan.”
(QS. al-An’am ayat 124).













