Aqidah Remaja

Pengertian dan Keharusan Imamah

46
×

Pengertian dan Keharusan Imamah

Sebarkan artikel ini

AL-IMAMAH 

Ketika  wafatnya Nabi Saw di awal tahun ke-11 Hijriah. Dengan wafatnya jiwa agung ini, wahyu al-Quran dan kenabianpun berakhir. Tidak ada lagi Nabi yang akan muncul, juga tidak akan ada lagi pertimbangan agama berikutnya. Namun, tanggung jawab yang diemban Nabi saw (terlepas dari berbagai tanggung jawab yang berkenaan penerimaan dan penyampaian wahyu) tentu saja tidak berakhir. 

Jelas penting, selepas wafatnya Nabi Saw, agar tetap ada sosok orang-orang yang baik , sadar, shaleh serta jujur yang akan senantiasa menjaga agama, di setiap pergantian zaman, memikul tanggung jawab ini, sebagai pengganti dan wakil, sekaligus imam dan pemimpin kaum muslim. Prinsip ini sangat diterima dengan baik seluruh muslim, namun terdapat perbedaan perspektif di antara kaum muslimin sekaitan dengan kualitas-kualitas tertentu yang dianggap penting pada pengganti Nabi Saw, juga cara-cara pengangkatannya. Dibawah ini, kami akan membahas terlebih dulu makna istilah ‘Syi’ah’ dan latar belakangnya. Kemudian kita akan beralih pada pembahasan “imamah”.

 

ISTILAH SYIAH

Adapun syiah menurut Bahasa berarti  pengikut dan secara istilah adalah kelompok muslim yang setelah wafatnya Nabi saw, meyakini bahwa fungsi kepemimpinan dalam masyarakat Islam merupakan hak  Ali dan para penerusnya, yang dianggap maksum. Menurut catatan sejarah, Nabi saw berulang kali berbicara, sepanjang hidupnya, dan terhadap berbagai hal terkait keutamaan Ali as. Utamanya tentang kemuliaannya, juga kualitas kepemimpinannya, yang berada di urutan kedua di bawah keutamaan yang dimiliki Nabi Saw.

Penghormatan dan penghargaan yang sangat tinggi pada Ali a.s, menurut berbagai riwayat yang terbukti kebenarannya, membentuk sekelompok orang di sekeliling Ali semasa Nabi Saw sendiri masih hidup. Kelompok inilah yang kemudian terkenal sebagai Syi’ah Ali 
“para pengikut Ali.” Kelompok ini, selepas wafatnya Nabi Saw, tetap berpegang pada keyakinan awal, tidak dapat menyokong siapapun melebihi sosok yang mereka percaya telah ditunjuk Nabi Allah Saw sebagai penerusnya. Demikianlah, di masa hidupnya dan selepas wafatnya, sekelompok orang terkenal sebagai Syi’ah. Fakta ini secara luas dicatat oleh para penulis dari perspektif yang berbeda. 

Seorang penulis, Naubakhti (wafat 310 H) menulis sebagai berikut, “‘Syi’ah’ merupakan istilah yang berkenaan dengan orang-orang yang, di masa Nabi Allah Saw dan sesudahnya, menganggap Ali sebagai imam dan khalifah [yang absah],  dengan melepaskan diri dari orang-orang selainnya dan menghubungkan diri dengannya.” (Referensi: Hasan bin naubakhti, kitab Firaq al-syiah. Beirut 1405 H [1984], hal.17)

Abul Hasan Asy’ari mengatakan, “Alasan mengapa kelompok ini dinamakan ‘Syi’ah’ adalah karena mereka merupakan para pengikut Ali, dengan memberikannya hak yang lebih tinggi di atas sahabat-sahabat lainnya.” (Referensi: Ali bin ismail asy’ari, Maqalat al-islamiyyin [Wiesbaden,1980] jilid,1. Hal.65) 

 

Syahrestani menulis, “Kata ‘Syi’ah’ berkenaan dengan orang-orang yang mengikuti Ali secara khusus, dengan memercayai bahwa beliau telah ditunjuk sebagai pewaris, imam dan khalifah [oleh Nabi Saw].”  (Referensi: Abdul karim syahrestani, Al-milal wa al-nihal [Beirut,1990] jilid,1 hal.131)

Atas dasar itu sejarah kelompok ini tercatat dalam memori Islam itu sendiri, permulaannya tidak dapat dipisahkan dari asal-usul agama itu sendiri. Islam dan Syi’ah memanifestasikan dirinya secara bersamaan. Lebih lanjutnya kami akan menunjukkan di pembahasan mengenai imamah, betapa Nabi Saw, sejak hari-hari pertama dakwah terbukanya, mengumpulkan Bani Hasyim seraya mendeklarasikan kepada mereka bahwa Ali adalah pewaris dan penerusnya, dan setelah itu, dalam berbagai kesempatan, terutama di hari Ghadir Khum, secara resmi, beliau Saw mengumumkan Ali sebagai penerusnya.

Maka,kelompk syi’ah bukanlah akibat konspirasi orang-orang Saqifah, bukan muncul melalui peristiwa-peristiwa yang terkait dengan pembunuhan Usman, tidak berkaitan dengan fenomena seperti itu atau sebab-sebab imajinasi lainnya. Sebaliknya, Nabi Saw sendiri yang berdasarkan petunjuk Tuhan, dan melalui deklarasi berulang kali, menanamkan benih “kesyi’ahan” (pengikut ali)  dalam hati para sahabatnya, dan secara bertahap mengolah benih ini, sedemikian hingga sekelompok sahabat utama, seperti Salman Farisi dan Abu Dzar Ghifari, menjadi Syi’ah Ali atau pendukung Ali. Seperti pada ayat berikut: 

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِۗ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itulah sebaik-baik makhluk” 

(QS. Al-Bayyinah, ayat 7)

Para pakar tafsir al-Quran meriwayatkan dari Nabi Saw bahwa orang-orang yang dimaksud ayat ini adalah Ali dan Syi’ahnya. (Referensi: Jalaludin suyuti, kitab. Ad-durr wal mansur. [Beirut 1973] jilid,8 hal.589. diriwayatkan dari jabir al-ansari, ibnu said al-khudri, ibnu abbas.) 

Begitu juga sejarah banyak menyebutkan nama-nama para pengikut Ali lainnya. Mereka adalah para sahabat yang menegaskan keyakinannya, bahwa Ali bin abi Thalib adalah khalifah sesungguhnya setelah wafatnya Nabi Saw.  

Sepanjang sejarah Islam, Syi’ah bahu membahu Bersama mazhab-mazhab muslim lainnya, melakukan tugas menyebarkan Islam. Bahkan, memainkan peran utama dalam perluasan Islam. Mereka telah membangun berbagai cabang pengetahuan, mendirikan negara-negara dan dinasti-dinasti penting, serta menghasilkan pribadi-pribadi terkemuka dalam bidang-bidang sains, filsafat, sastra dan politik. Dengan demikian, mereka telah memberi kontribusi besar terhadap kultur dan masyarakat Islam. Hari ini, mereka terwakili di sebagian besar belahan dunia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *