Aqidah Remaja

Wahyu Kenabian

25
×

Wahyu Kenabian

Sebarkan artikel ini

WAHYU KENABIAN. 

Komunikasi Nabi dan alam ghaib.

Sekarang, kita akan membahas cara komunikasi antara para nabi dengan alam gaib, yaitu, lewat wahyu (wahyu). Wahyu merupakan sarana teramat penting yang dengannya para nabi as berhubungan dengan alam gaib. Wahyu bukanlah hasil insting atau nalar manusia, melainkan acuan pengetahuan khusus yang dianugerahkan Allah Swt kepada para Nabi a.s agar dapat menyampaikan risalah Illahi kepada umat manusia. Al-Quran melukiskan wahyu seperti: 

وَاِنَّهٗ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ

نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُۙ

عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَۙ

Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar diturunkan Tuhan semesta alam.

Ia (Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ruhulamin (Jibril).

(Diturunkan) ke dalam hatimu (Nabi Muhammad) agar engkau menjadi salah seorang pemberi peringatan.

(QS. al-Syu’ara [26]:192-194)

 Ayat ini menunjukkan bahwa pengetahuan Nabi Saw tentang risalah Illahi tidak berhubungan dengan aktivitas indra lahiriah atau lainnya. Sebaliknya, pengetahuan ini dimasukan oleh malaikat wahyu ke lubuk hati Nabi Saw. Karenanya, realitas seutuhnya wahyu tidak dapat dijelaskan lewat analisis normal dan umum. Sebenarnya, turunnya wahyu merupakan salah satu manifestasi dari alam gaib yang hanya dicerna dengan benar melalui keimanan, betapapun banyaknya realitas hakiki yang mungkin tetap misterius bagi kita. Ini sebagaimana difirmankan:

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ

“(yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka”

(QS. al-Baqarah [2]:3)

 

Wahyu bukan merupakan hasil insting dan pemikiran manusia. 

Kalangan yang ingin mengukur segala hal sesuai standar material dengan hanya menggunakan pengetahuan atas pengalaman(empiris) dan karenanya membatasi kebenaran yang gaib dalam kerangka indrawi yang terbatas telah menjelaskan wahyu tuhan dalam banyak cara. Semuanya, menurut pendapat kami, sama sekali tidak benar. Kami akan membahas di bawah ini, sebagian upaya tersebut. Sekelompok penulis menganggap para Nabi a.s sebagai para jenius serta menganggap wahyu sebagai sebuah hasilan meditasinya, hasil aktivitas mental batiniahnya sendiri. Menurut pendapat ini, realitas ‘Ruhul Amin’ tidak lain dari roh yang disucikan dan roh para jenius itu. Kitab-kitab ‘yang diwahyukan’ juga tidak ada kecuali ungkapan formal dari ide luhur yang membeku dalam pikiran para jenius tersebut. Jenis penjelasan tentang wahyu ini merupakan pertanda ketidakmampuan ilmu empiris modern, yang secara khusus mengandalkan cara pembenaran material. Persoalan penting bagi perspektif ini adalah bahwa ia secara langsung bertentangan dengan yang sesungguhnya dikatakan sendiri oleh para Nabi Allah a.s; karena mereka selalu menyatakan bahwa apa yang dibawa bagi umat manusia tidak lain dari wahyu Allah Swt; dengan demikian, konsekuensi penting dari penjelasan empiris tentang wahyu adalah bahwa semua nabi hanyalah para pembohong klaim yang benar-benar ganjil terkait kedudukan mulia mereka dan dengan informasi sejarah soal ketulusan dan kejujuran ilmiah mereka. 

Kelompok penulis lainnya, dengan pola yang sama sebagaimana kelompok yang dibahas di atas, menganggap wahyu sebagai perwujudan kondisi spiritual para Nabi a.s. Menurut pandangan ini, seorang nabi, disebabkan kekuatan imannya kepada Allah Swt, serta akibat dari ketaatannya yang luar biasa, mencapai derajat kesadaran yang dengannya serangkaian kebenaran yang melimpah diraih dalam wujudnya yang paling mendalam; dia kemudian membayangkan bahwa kebenaran ini telah dimasukkan ke lubuk hatinya dari yang gaib, sedangkan sebenarnya sumber dan asalnya adalah jiwanya sendiri. Para pengusung pandangan ini mengklaim bahwa mereka tidak meragukan ketulusan para Nabi a.s, dan yakin bahwa para nabi as benar-benar telah menyaksikan kebenaran ini, sebagai akibat disiplin spiritualnya; namun mereka menyangkal sumber kebenaran ini. Sedangkan para Nabi a.s mengklaim bahwa kebenaran ini dirasukkan ke lubuk hati mereka walau dari segi kenyataannya di alam gaib, para pengusung argumen ini menganggap bahwa sumber kebenaran ini secara khusus berada dalam jiwa para Nabi a.s.

 

Sudut pandang ini bukanlah sesuatu yang baru. Alias hanya merupakan ungkapan dari salah satu ide tentang wahyu yang dianut di era pra-Islam [masa Jahiliyah], hanya saja ditampilkan dalam busana modern. Maksud cara pandang ini adalah bahwa wahyu merupakan hasil para nabi as melakukangambaran dari perenungan mediasi,teguh  mengoreksi diri , keteguhan beribadah, bertafakur terhadap Allah Swt, dan meditasi berkepanjangan dalam memperbaiki umat manusia. Kebenaran-kebenaran tertentu tiba-tiba dipahami dalam bentuk yang terwujud di hadapan mereka; yang mereka percaya telah dianugerahi dari yang gaib. Pandangan wahyu semacam ini identik dengan pandangan bangsa Arab Jahiliyah yang menyatakan,


بَلْ قَالُوْٓا اَضْغَاثُ اَحْلَامٍ ۢ بَلِ افْتَرٰىهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌۚ فَلْيَأْتِنَا بِاٰيَةٍ كَمَآ اُرْسِلَ الْاَوَّلُوْنَ

Bahkan, mereka berkata, “(Al-Qur’an itu buah) mimpi-mimpi kosong. Malah, dia (Nabi Muhammad) merekayasanya. Lebih dari itu, dia seorang penyair. Maka, hendaklah dia mendatangkan kepada kami suatu tanda (mukjizat) sebagaimana rasul-rasul yang diutus terdahulu.”

(QS. Al-Anbiya [21]:5)

 

Dalam beberapa ayat lainnya, Al-Quran tegas-tegas membantah pandangan ini, dengan menyatakan bahwa jika para nabi as mengklaim telah menyaksikan Malaikat Wahyu, maka itu adalah pembicaraan yang jujur, hati dan penglihatan mereka tidak keliru.

مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَاٰى

اَفَتُمٰرُوْنَهٗ عَلٰى مَا يَرٰى

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ

عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى

عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ

اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ

مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى

Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.

Apakah kamu (kaum musyrik Makkah) hendak membantahnya (Nabi Muhammad) tentang apa yang dilihatnya itu (Jibril)?

Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain,

(yaitu ketika) di Sidratulmuntaha.

Di dekatnya ada surga tempat tinggal.

(Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya.

Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya).

(QS. al-Najm [53]:11-17)  

Dengan kata lain, Nabi Saw sungguh menyaksikan Malaikat Wahyu, lewat kemapuan lahiriah dan batiniahnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *