Aqidah Remaja

Sifat Dzat Allah Al-Fi’liyah

16
×

Sifat Dzat Allah Al-Fi’liyah

Sebarkan artikel ini

SIFAT DZAT ALLAH AL-FI’LIYAH. 

 

Pada pembahasan yang telah lalu mengenai sifat dzat tsubutiyah dan penjelasan setiap bagian-bagian sifatnya. Perlunya demikian kita membahas dan menerangkat mengenai sifat fi’liyah. Adapun pembahasan sifat fi’liyah akan kita rangkum secara garis besarnya saja. 

 

Berikut akan kita bahas mengenai sifat fi’liyah terdapat tiga sifat utama: 

  1. AT-TAKALUM (Mutakalim/Yang Maha berbicara dan berfirman)
  2. AS-SIDQ (Yang Maha Benar pada perlakuannya)
  3. AL-HAKIM (Yang Maha Bijaksana) 

Berikut penjelasannya satu persatu mengenai tiga sifat utama fi’liyah: 

AT-TAKALUM (Mutakalim/Yang Maha berbicara dan berfirman)

 

Sesungguhnya Al-Quran mensifati Dzat Allah Swt dengan at-takalum atau mutakalim,

Pada beberapa ayat Al-Quran sbb. 

 

وَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًاۚ

“Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung.”

(Q.s An-Nisa ayat: 164) 

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ ۗاِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ

“Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana.” 

(Q.s As-Syuro ayat 51)

Dari pemahaman dengan apa yang didasari pada Al-Quran, tidak diragukan lagi bahwa Dzat Allah Swt salah satu sifatnya ialah at-takalum/mutakalim. Akan tetapi apakah sifat takalum/mutakalim ini masuk sifat dzat tsubutiyah atau sifat fi’liyah? Keniscayaannya sudah sangat jelas bahwa sifat takalum/mutakalim masuk pada sifat fi’liyah dan sifat takalum Allah Swt pada hakikatnya tidaklah bisa kita samakan layaknya sifat takalum seperti pada makhluk. 

Hakikat sifat takalum pada Dzat Allah Swt bisa kita pahami dengan kembali lagi pada apa yang disampaikan menurut ayat Al-Quran diatas, hingga kita sampai pada pemahaman dan hakikat yang benar. Melalui sumber ini bisa kita pahami dengan jelas bagaimana metode Allah Swt ketika menjadi mutakalim(berbicara). 

 

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤء إِنَّهُ عَلِيٌ حَكِيْمٌ

“Dan tidaklah bagi manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha bijaksana”.

(Q.S As-Syura:51)

Dengan apa yang dipaparkan oleh ayat tsb maka ada tiga cara Allah Swt ketika berbicara dengan makhluk-Nya: 

  1. Perantaraan wahyu, ialah yang di ilhamkan tepat pada hati manusia(Nabi)
  2. Dari belakang tabir, seperti menurut hadist ketika Allah Swt berbicara kepada Nabi Musa a.s dibalik pepohonan dengan dimana Nabi Musa a.s tanpa melihat wujud Allah Swt. 
  3. Mengutus utusan (malaikat), yang kemudia dari malaikat diwahyukan kepada seorang Rasul/Nabi. 

Adapun tiga cara diatas kesimpulannya bahwa cara Allah Swt berbicara terkadang dengan perantara melalui -malaikat- atau tanpa perantara sama sekali, melainkan Allah Swt secara langsung mengilhamkan kepada hati atau pendengaran manusia. 

Dengan demikian dari kesemua cara tersebut bahwasanya Allah Swt ketika berbicara artinya Dia Dzat Yang Maha Menciptakan atau mengadakan kalam(perkataan) dan ini sifat fi’liyah. 

Ada beberapa tafsiran lain dari ayat-ayat Al-Quran dan hadits yang dapat kita simpulkan mengenai sifat kalam Allah Swt yang lebih tepatnya berkaitan dengan ayat berlafadz “kalimah” yang artinya perkataan. 

 

Allah Swt mengibaratkan ciptaanNya dengan sebutan kalimat (perkataan). 

قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا

Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat (ciptaan) Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat (ciptaan)Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” 

(Q.s Al-Kahf ayat 109)

Adapun maksud “kalimat” pada ayat ini ialah makhluk (ciptaan), artinya sekiranya manusia menjadikan lautan sebagai tinta untuk menulis atau mencatat ciptaan Allah Swt maka hal demikian (tinta) tidak akan mampu mencatatnya dan menghitungnya. Dan penjelsan tafsir yang dimaksud  kalimat itu ciptaan diperkuat dengan ayat Al-Quran lain. 

 

Al-Quran menyebut makhluk-Nya yaitu Nabi Isa putra Maryam sebagai “kalimatullah” yang artinya perkataan Allah Swt. 

اِنَّمَا الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُوْلُ اللّٰهِ وَكَلِمَتُهٗ ۚ اَلْقٰهَآ اِلٰى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِّنْهُ ۖفَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖۗ

“Sungguh, Al-Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan kalimat-Nya (ciptaan) yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.”

 (Q.s An-Nisa ayat 171) 

Riwayat yang dinisbatkan kepada Imam Ali a.s dalam salah satu khutbahnya, beliau a.s menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kalamullah artinya sifat fi’liyah Allah Swt Ketika mengadakan atau menciptakan sesuatu. 

فقال: ” يقول لمن أراد كونه ” كن “، لا بصوت يقرع، ولا بنداء يسمع وإنما كلامه سبحانه فعل منه، أنشأه ومثله”

Artinya: Berkata imam ali a.s  “Dia (allah swt) ketika berkata dengan kehendaknya “kun” (jadilah) tidak dengan suara berbunyi, tidak dengan serua terdengar, sesungguhnya perkataaNya swt hanya suatu sifat fi’liyah (perlakuan) dariNya dan suatu pengadaan dariNYa. 

(Nahjul al-balagah, khutbah no.186) 

Dari semua pembahasan mengenai kalam sebagai sifat fi’liyah, dapat dianalogikan bahwa suatu kalam (perkataan/ungkapan) pada seseorang. Dimana saat suatu ungkapan yang tertulis menjelaskan apa yang ada dihati seseorang yang berbicara, bagaimana kita bisa menjelaskan tentang agungnya ciptaan alam semesta ini dari hal hal kecil sampai hal hal besar. Ketika suara  dalam hati seseorang bisa menejelaskan makna yang terkandung pada si pembicara, sesungguhnya alam semesta ini ciptaan allah swt yang meliputi baik dari perihal yang besar sampai yang kecil itu semuanya menjelaskan tentang ilmu dan hikmahnya Allah Swt serta kemampuanNya. 

 

AS- SIDQ (Yang Maha Benar pada perlakuannya)

Sifat fi’liyah Allah Swt yang berikutnya ialah sifat al-sidq artinya Yang Maha Benar pada perkataan dan perlakuan-Nya. Adapun pengertian sifat al-sidq adalah kebalikan dari sifat al-kidzbu (pendusta), artinya Allah Swt yang selalu benar pada setiap perkataan dan perlakuannya sesuai ketentuannya. Dan Dzat Allah Swt terhindar atas perkataan dan perlakuan dusta yang bersebrangan dengan kebenaran, karena pada hakikatnya kedustaan adalah perangai dari kebodohan dan dzat Allah Swt keniscahyaannya terhindar dari sifat bodoh. 

Kembali lagi kepada sifat kesempurnaannya bahwasanya Allah Swt adalah dzat yang sempurna sedangkan sifat dusta adalah perangai kebodohan maka dzat-Nya terhindar dari kecacatan dan kekurangan. Dia-lah Dzat Yang Maha Sempurna dan Maha Berilmu. 

 

AL-HAKIM (Yang Maha Bijaksana) 

Sifat fi’liyah dan kesempurnaan-Nya juga al-hikmah (kebijaksanaan) seperti banyak disebutkan dalam ayat Al-Quran “al-hakim” (Yang Maha Bijaksana) lawan dari sifat al-dzalim (aniaya) maksudnya adalah kesewenang-wenangan. 

 

قَالُوا۟ سُبْحَٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. 

(Q.s Al-Baqarah ayat 32)

 Pengertian sifat al-hakim pada sifat fi’liyah Allah Swt lebih tepatnya berdasarkan apa yang dapat dipahami berdasarkan makna Al-Quran sebagai berikut: 

  1. Sesungguhnya perlakuan Allah Swt yang senantiasa tepat dan sempurna.
  2. Sesungguhnya Allah Swt terhindar dari prilaku aniaya (zalim) dan Kesia-sian.

Adapun dua makna diatas perwujudannya, tepatnya pada makna pertama yaitu Allah menciptakan alam semesta beserta isinya ini, dengan segala keteraturannya yang begitu sempurna. 

 

صُنْعَ اللّٰهِ الَّذِيْٓ اَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍۗ

“(Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu.” 

(Q.s Al-Naml ayat: 88)

Perwujudan makna kedua dari sifat al-hakim seperti apa yang disebutkan ayat lain. 

 

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاۤءَ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلً

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. 

(Q.s Sad ayat: 27) 

Melalui ayat tersebut dapat kita pahami bahwa sesungguhnya Allah Swt dengan prilakunya yang juga didasari sifat maha berilmu dan Maha Bijaksana tidak pernah akan sia-sia dalam ciptaan dan aturan-Nya disegala sisi alam semesta raya ini. 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *