SIFAT-SIFAT ALLAH SWT.
Allah Swt adalah Dzat Yang Maha Esa dan satu serta tidak ada yang serupa denganNya, seperti pada pembahasan yang telah kita paparkan sebelumnya. Dia Dzat Yang Maha Agung yang tak mungkin bagi setiap makhluk untuk menyingkap hakikat Dzat Allah Swt secara menyeluruh. Adapun pembahasan sifat Allah Swt adalah salah satu upaya kita untuk menyingkap sedikit mengenai hakikat Dzat Allah Swt melalui cara memahami sifat-sifat allah swt. Allah Swt Dzat Yang Suci utamanya memiliki dua sifat ialah jamaliyah dan jalaliyah.
Pengertian sifat jamaliyah adalah sifat yang menunjukan pada kesempurnaan Dzat Allah Swt atau disebut juga dengan sifat at-tsubutiyah, hal demikian seperti: Dzat Yang Maha mengetahui (al-ilm), Maha Mampu (Al-Qudrah), Maha Hidup (Al-Hayaat), berkehendak(Al-Iradah), Maha Menentukan (Al-Ikhtiyar) dan sifat lainnya yang serupa dalam menunjukan pada kesempurnaan-Nya.
Kemudian maksud dari sifat jalaliyah adalah sifat yang dimana Allah Swt terhindar dari pensifatan tersebut, karna sejatinya Dzat Allah Swt jauh dari hal kekurangan dan kecacatan. Seperti: Berbentuk (jasmaniyah), butuh pada tempat & waktu (ihtiyaj), tersusun (tarkib) dan lain sebagainya dari sifat-sifat yang menunjukan kekurangan, dan sifat ini disebut juga dengan sifat salbiyah lawan dari sifat at-tsubutiyah.
METODE UNTUK MENGETAHUI SIFAT ALLAH SWT.
Diawal pembahasan mengenai ma’rifatullah telah kita buktikan bahawa cara untuk mengetahui Dzat Allah Swt adalah dengan metode akal dan nash agama. Begitu pula pada pembahasan sifat-sifat Allah Swt, disini metode untuk dapat sampai pada pemahaman yang benar mengenai sifat jamaliyah dan jalaliyah tidaklain bersandar pada akal dan nash agama.
- Dengan metode akal kita mengamati setiap perkara terutama alam semesta ini, dan banyak khazanah pelajar didalamnya yang belum terungkap yang dari kesemuanya menunjukan bahwa alam semesta nan megah dan setiap rahasia seisinya adalah merupakan sebuah ciptaan Allah Swt (makhluq’lillah). Melalui pengamatan akal tsb mengantarkan pada kesimpulan sesungguhnya Allah Swt adalah pencipta (Khaliq al-kaun) Dzat Yang Maha Sempurna dalam penciptaanNya, yang tidak dapat dipungkiri bahwa ciptaanNya yang begitu megah dan agung seperti alam semesta ini mustahil tanpa didasari sifat berilmu (al-ilmu), kemampuan (qudrah) dan berkehendak (iradah).
Begitu pula al-quran memberikan penegasan mengenai hukum akal tersebut seperti kutipan salah satu ayat yang berbunyi :
قُلِ انْظُرُوْا مَاذَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗوَمَا تُغْنِى الْاٰيٰتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُوْنَ
Katakanlah, “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!” Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman.
(Q.s Yunus ayat 101).
Maksud dari ayat tsb: Perlunya kita merenungi dan mentadaburi apa yang ada dilangit serta dibumi untuk menyingkapa hakikat-hakikat yang agung pada alam semesta ini. Dalam arti bahwa hal ini merupakan sebuah fenomena yang gamblang (Badhihi) Ketika akal menempuh pandangan ini dengan panca indra sebagai modal awal untuk menyingkap sebuah perkara yang agung ini tentang keagungan Sang Pencipta.
- Serta metode nash adalah dalil yang disepakati (qat’iyah) yang disampaikan oleh Nabi Saw dari wahyu Allah Swt sebagai sebuah pendekatan untuk kitab bisa sampai pada pemahaman yang benar mengenai sifat Dzat Allah Swt. Disini kita membawa cukup satu ayat Al-Quran saja yang menyebutkan dengan jelas sebagain sifat-sifat Allah Swt.
هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
هُوَ اللّٰهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۗ يُسَبِّحُ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Dialah Allah Yang tidak ada tuhan selain Dia. Dia (adalah) Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahadamai, Yang Maha Mengaruniakan keamanan, Maha Mengawasi, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, dan Yang Memiliki segala keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Dialah Allah Yang Maha Pencipta, Yang Mewujudkan dari tiada, dan Yang Membentuk rupa. Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi senantiasa bertasbih kepada-Nya. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
(Q.s Al-Hasyr ayat: 23-24)
MELIHAT SIFAT ALLAH SWT DARI SISI PERLAKUANNYA (FI’LIYAH) KEPADA:
- Sifat Dzat Ilahi.
- Sifat Fi’liyah.
- Adapun sifat Dzat Allah Swt adalah sifat yang Ketika dijabarkan mengenai sifat-Nya, mengharuskan pula penjabaran Dzat Allah Swt. karena merupakan konsep satu kesatuan antara sifat dan dzat-Nya walaupun dari sifat dzat ini tidak muncul suatu perlakuan Allah Swt. seperti ilmu, qadrah, hayyat,
- Sifat fi’liyah adalah suatu sifat yang dimana dilihat dari sisi perlakuan Dzat Allah Swt seperti al-kahliqiyah, ar-razikiyah, ar-rahimiyah dan lain sebagainya yang diambil dari sisi perlakuan Allah Swt terhadap makhluqNya.
Dengan ibarat lain. Sifat fi’liyah (perlakuan) adalah setiap sifat yang disandangkan kepada Dzat Allah Swt yang tidak lain muncul atau manifestasi dari kesempurnaannya sifat dzat Ilahi terhadap para makhlukNya. Allah Swt Dia Dzat Yang Maha Sempurna Mutlak dan dari setiap perlakuan yang sempurna kembalinya kepad dzat Ilahi Swt.
SIFAT DZAT ALLAH AT-TSUBUTHIYAH
Setelah kita menjelaskan mengenai pembagiaan sifat dzat kepada tsubuthiyah, salbiyah dan fi’liyah serta jelas setiap pengertiannya, perlunya kita menjabarkan dan menerangkan setiap sifat-sifat yang berkenaan dengan tiga sifat diatas.
- Sifat dzat at-tsubuthiyah.
- Al-ilmu (Maha berilmu)
Kita meyakini Allah Swt Dzat Yang Maha berilmu azali (abadi) -dimana sifat ilmu adalah Dzat Allah itu sendiri-, dan ilmu-Nya yang tak terbatas. Allah Swt mengetahui segala sesuatu pada ciptaanNya secara utuh (universal dan parsial) bahkan ilmunya Allah Swt terhadap setiap ciptaanNya Dia mengetahui sebelum kejadian dan setelah kejadian penciptaan.
Al-Quran karim dan juga riwayat banyak menyebutkan mengenai Dzat Allah Swt Yang Maha Mengetahui.
اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
“Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
( Q.s Al-Ankabut. Ayat 62.)
اَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَۗ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ
Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.
( Q.s Al-Mulk ayat 14.)
قال الامام جعفر الصادق (عليه السلام): لم يزل عالما بالمكان قبل تكوينه كعلمه به بعد ما كوّنه وكذلك علمه بجميع الأشياء.
Berkata Imam jafar as-shadiq a.s : Allah swt senantiasa mengetahui terhadap ciptaanNya sebelum penciptaan, dan demikian pula dengan ilmunya Dia mengetahui setelah terjadinya penciptaan, dan demikianlah ilmuNya yang mencangkup segala sesuatu.
(Tauhid as-suduq hal.138 bab.10 hadits no.9)
Al-qudrah (Maha Mampu)
Kita meyakini Allah Swt Dzat Yang Maha Mampu(qudrah) azaliyah(abadi) – dimana sifat qadrah(kemampuan) itu adalah Dzat Allah itu sendiri – sifat qadrah sama halnya seperti sifat ilmu pada dzat Allah Swt mutlak dan tak terbatas, sesungguhnya Allah Swt Yang Maha Mampu atas segala sesuatu.
Al-quran dan Riwayat menegaskan akan sifat kemampaua dzat Ilahi Swt.
وَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرًا
“Dan Allah Mahakuasa(mampu )terhadap segala sesuatu”
( Q.s Al-Ahzab ayat: 27 )
وَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا
“Dan Allah Mahakuasa(mampu) atas segala sesuatu.”
(Q. Al-Kahf ayat: 45)
وقال الإمام جعفر الصادق (ع) :
الأشياء له سواء علما وقدرة وسلطانا، وملكا وإحاطة
“Berkata imam jafar as-sadiq a.s : Segala sesuatu kepunyaan allah swt, dia yang berilmu, mampu, berkuasa, maha memiliki dan yang maha menaungani.”
(Tauhid as-suduq bab.9 hadits no.15)
Kemudian ada satu permasalahan mengenai sifat qudratullah yang sering dipersoalkan berkenaan dengan sesuatu yang mustahil. Apakah Allah Swt dengan sifat qudrahnya mampu merealisasikan sesuatu yang mustahil, diluar kemampuan Qudrah-Nya. Seperti memasukan alam semesta keseluruhannya kedalam sebiji telor?
Sesungguhnya hal demikian bukanlah suatu kecacatan pada Qudrah-Nya Allah Swt, melainkan bahkan ketidakmampuan sesuatu tersebut sebagai objek penerima.
(kecacatan ada pada pihak si penerima tidak pada pihak si pelaku)
Imam ali a.s dalam salah satu riyawat menepis keraguan tersebut, Ketika ditanya mengenai qudratullah yang terhenti pada sesuatu hal. Beliau mejawab dengan perkataannya:
يقول الإمام علي (ع): إن الله تبارك وتعالى لا ينسب إلى العجز، والذي سألتني لا يكون.
التوحيد للصدوق: ص.130 باب:القدرة
Imam ali a.s berkata: Sesungguhnya Allah Swt tidak dinisbatkan kepada kecacatan seperti yang ada pada pertanyaan tersebut. (Tauhid as-suduq hal.130 bab.al-qudrah)
Al-hayat (Maha Hidup)
Sesungguhnya Allah Maha Berilmu dan Maha Mampu atas segala sesuatu, demikian juga dzat-Nya Yang Maha Hidup. Karena dua sifat pertama sebelumnya adalah kekhususan dari setiap keberadaan yang hidup. Dan dari dua sifat sebelumnya pula cukup membuktikan keniscayaannya bahwasanya Dzat Allah Swt memiliki sifat Yang Maha Hidup.
Sesungguhnya sifat Maha Hidup bagi Allah Swt seperti layaknya sifat-sifat Dzat Allah Swt yang terhindar dari segala kekurangan, sifat Yang Maha hidupNya tidak sama dengan sifat hidupnya makhluk yang debarengi dengan kefanaan. Dia-lah Dzat Yang Maha Hidup Mutlak serta kekal abadi dan yang memberikan kehidupan pada makhluk-Nya.
Begitu pula Al-Quran menyifatiNya:
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهٖۗ
“Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya”
(Q.s Al-Furqon ayat 58)
Al-iradah dan Al-ikhtiyar (Maha berkehendak)
Sesungguhnya pelaku yang sadar dan paham atas sesuatu yang tengah dia lakukan jauh lebih sempurna dari pelaku yang tidak sadar dan tidak paham atas apa yang tengah dia lakukan, sebagaimana pelaku yang berkehendak atas sesuatu yang sedang dia lakukan dan memiliki keleluasaan/ikhtiyar (tanpa ada paksaan) jauh lebih sempurna dari pelaku yang melakukan sesuatu atas dasar ijbar atau paksaan, dalam arti terkekang yang dihadapkan dengan dua pilihan -melakukan atau tidak.
Berangkat dari kesempurnaan diatas, begitu pula sifat iradatullah. Sesungguhnya Allah Swt Yang Maha Sempurna atas segala perlakuan-Nya. Keniscayaannya Allah Swt adalah pelaku(pencipta)setiap sesuatu dengan penuh leluasa-ikhtiyar- dan tidak didasari dengan sebuah paksaan ketika berkehendak melakukan sesuatu. Demikianlah sifat iradah yang disandang oleh Dzat Allah Swt.
Begitu juga dengat sifat iradah-kehendak- Allah Swt berbeda dengan sifat iradah yang dimiliki makhluk. sifat kehendak makhluk seperti manusia didasari dengan bertahap atau berangsur-angsur dalam perwujudannya, sedangkan Allah Swt ketika berkehendak maka dengan dzatNya terjadilah sesuatu wujud tsb.
اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.”
(Q.s Yasin ayat 82).
Maka dengan pengertian ini semua, banyak penjelasan dari hadist Ahlul bayt a.s mejelaskan tentang sifat iradah Allah Swt. bahwasanya iradatullah adalah ketika Allah Swt berkendak maka terjadilah dan terealisasi segala sesuatu perkara itu dengan kesempurnaan mutlak,lain halnya dari sifat kehendak manusia ketika berkehendak apabila terjadi dan terwujud sesuatu tsb serta banyak sekali menuai pada kesalahan dan kecacatan.
Dalam hadist Imam Musa Al-Kadzim menjelaskan tentang sifat iradah Allah Swt.
قال الإمام موسى بن جعفر(ع): الإرادة من الخلق: الضمير وما يبدو لهم بعد ذلك من الفعل. وأما من الله تعالى فإرادته: إحداثه لا غير، ذلك لأنه لا يروي ولا يهم ولا يتفكر، وهذه الصفات منفية عنه وهي صفات الخلق, فإرادة الله، الفعل، لا غير ذلك يقول له كن فيكون بلا لفظ ولا نطق بلسان ولا همة ولا تفكر ولا كيف لذلك، كما أنه لا كيف له
(أصول الكافي ج ١، ص 109 باب الإرادة أنها من صفات الفعل وسائر صفات الفعل، الرواية 3)
Berkata imam musa al-kadzim a.s: Kehendak dari makhluk ialah suatu nilai yang nampak setelah terjadinya(tercipta) sesuatu perkara, Adapun kehendak allah swt ialah tidak lain mengadakan sesuatu dengan kesempurnaan yang mutlak tanpa didasari pandangan(pemahaman), kebutuhan dan rencana. Dan dasar sifat tersebut tidak ada pada makhluk, kehendak allah swt adalah tidak lain suatu aktualisasi perkara, Ketika Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu tanpa perantara lafadz dan kata lisan dan tanpa perencanaan.
(usul kafi.juz 1 hal. 109 riwayat 3)













