Aqidah Remaja

Tauhid Penghambaan (Ibadah)

33
×

Tauhid Penghambaan (Ibadah)

Sebarkan artikel ini

Tauhid penghambaan (Ibadah).

Tauhid dalam ibadah ialah menjadikan Dzat Allah Swt Yang Esa, hanya kepadaNya kita menghamba serta beribadah, dan bukan kepada selainNya, terlebih itu pula tujuan utama diturunkannya para Rasul dan Nabi tidak lain agar menyeru manusia untuk menghamba kepada Allah Swt.


وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ

“Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah tagut!” Di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang ditetapkan dalam kesesatan. Maka, berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).”

(Q.S An-Nahl ayat: 36)

Agama islam terutama menjadikan shalat sebagai syiar sebuah penghamban/ibadah kepada Allah Swt demikian kesepakatan semua kaum muslimin didalam shalat mereka senantiasa mengikrarkannya. 

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”

(Q.S Al-Fatihah ayat: 5)

Maka dengan demikian tidak ada satu dari kaum musliminpun yang mengingkari hakikat ibadah tersebut tidak lain hanya penghambaan kepada Allah Swt.

Kita imamiyah meyakini bahwasanya Allah Swt lah sebagi dzat wajib wujud yang layak disembah dan dihamba dan hanya kepada-Nyalah kita  beribadah.’’ Kita memaknai hakikat ibadah/penghambaan secara istilah adalah tunduk dan merendah secara lisan dan amal dengan meyakini bahwa yang kita tunduk kepada-Nya dan merendah terhadap-Nya(disembah) tidak lain Ialah Allah Swt Tuhan Pencipta bagi alam semesta dan Tuhan setiap makhluk”. 


ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوْهُۚ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ

“Itulah Allah Tuhanmu. Tidak ada tuhan selain Dia, pencipta segala sesuatu. Maka, sembahlah Dia. Dialah pemelihara segala sesuatu.”

(Q.S Al-An’am ayat: 102)

Akan tetapi permasalahan yang ada mengenai perujudan dari pengertian penghambaan/ibadah kepada Allah Swt semata menuai beberapa polemik. Sebagian firqoh (kelompok) dari kaum muslimin menilai bahwa ibadah dengan bertawasul, bertabaruk bahkan sujud penghormatan kepada kuburan para Nabi dan Aulia bukanlah suatu peruwujudan ibadah, bahkan kesesatan dan keluar dari konsep penghambaan kepada Allah Swt.

Atas dasar pemahaman yang keliru menurut beberapa firqoh dari kaum muslimin perlunya kita menelaah hakikat dan batasan tauhid dalam beribadah kepada Allah Swt.  

Berangkat dari pengerian hakikat mengenai ibadah/penghambaan menurut kesepakatan kaum muslimin, sesungguhnya ibadah hanya kepada Allah Swt semata dan tidak menyembah kepada selainNya, hal ini tidak ada perbedaan didalamnya. Adapun perbedaan dari perwujudan sebuah ibadah dan apakah dari beberpa ritual yang dijalankan oleh kebanyakan kaum muslimin seperti ziarah kubur, bertawasul, tabaruk bahkan sujud ta’dziman/tak’riman(penghormatan) kepada kuburan para Nabi & Aulia Allah Swt termasuk perwujudan dari ibadah atau sebuah penyimpangan dari konsep ibadah?

Tentunya penyembahan kepada para Nabi dan Aulia bahkan kepada kedua orang tua adalah sebuah kesyirikan yang tak diragukan lagi. Akan tetapi sebuah penghormatan terhadap mereka termasuk salah satu perwujudan dari konsep Tauhid ibadah, karna makna dari ibadah adalah tunduk dan merendah serta atas seizin dan perintah Allah Swt. Mari kita lihat perintah Allah Swt dalam beberapa ayat Al-Quran.

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.”

(Q.S Al-Isra ayat: 24)

Begitu pula tunduk dan merendah diri dan bertawasul serta bertabaruk kepada makhluq atas perintah Allah Swt dan bimbingan dari-Nya. Seperti kepada para Nabi dan Aulia terutama Nabi Muhammad SAW, para washi Allah a.s, bahkan tunduk kepada setiap orang mu’min, atau juga kepada setiap benda mati yang terdapat keutamaan atau manzilah disisi Allah Swt, seperti Al-Quran, masjid, hajar aswad dan selainnya yang berhubungan dengan simbol-simbol Agama. Adapun ketundukan pada sudut pandang yang ketiga ini, termasuk yang dicintai Allah Swt. Dia berfirman dalam ayatnya :


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓۙ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut pada celaan orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

(Q.S Al-Maidah ayat:54)

Adapun  penjelasan dari kutipan ayat suci diatas yaitu “Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Tidak lain maksud dan tafsiran  dari kalimat “minkum” disni  ialah mereka Rasullah Saw dan para washi-washinya Allah Swt demikianlah maksud yang dijelaskan kebanyakan secara umumnya dari para ulama islam. 

Sesungguhnya ketundukan dan merendah serta mencintai Rasulullah Saw serta ahlul baitnya a.s ialah hakikat dari sebuah ketundukan kepada Allah Swt dan cerminan yang nyata dari sebuah tauhid ubudiyah makhluq disisi Allah Swt.

Apakah mengambil berkah dari kuburan Nabi, atau para Aulia’ serupa dengan menyembah berhala? 

Sesungguhnya orang beriman  adalah seorang yang rohani dan maknawinya hidup, salah satunya dengan menziarahi kuburan para Aulia Allah Swt  dalam artian kuburan para Aulia’ yang didalamnya terdapat berkah dan kesembuhan bagi sang pemilik hajat. Allah Swt berfirman didalam ayat sucinya: 

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”

(Q.S Al-Isra’ ayat: 82)

 

Coba kita perhatikan dan kita renungkan kisah yang terjadi pada Nabi Allah Swt Ya’qub a.s yang dimana bercerita terhadap kesembuhan dan kembalinya kedua matanya dengan perantara gamis/bajunya yusuf a.s. Allah Swt berfirman: 

فَلَمَّا أَنْ جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَىٰ وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا ۖ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, Maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu Kembalilah Dia dapat melihat. berkata Ya’qub: “Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya”.

(Q.S-Yusuf ayat: 96)

Maka dalam kisah tersebut terdapat sebuah pertanyaan yang mendasar bagi kita: Apakah Nabi Ya’kub as hidup dengan kesia-siaan dalam arti beliau tidak akan sembuh kecuali diletakkannya gamis Yusuf a.s kewajah ya’qub a.s?, atau bahwasanya  Yusuf a.s adalah Nabi dan utusan Allah yang bertauhid sehingga ya’qub a.s mengambil berkah dari gamisnya?  

 Apakah perlakuan tabaruk-kan bani israil terhadap tabut atau peti yang didalamnya terdapat berkah dari keluarga Nabi Musa as dan harun as,   itu serupa dengan penyembahan berhala yang sia-sia dan tidak ada manfaatnya? Apakah demikian yang di kehendaki Allah ?. Sebagaimana Allah Swt berfirman : 

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi Raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan[156] dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.”

(Q.S. Al-Baqarah ayat: 248)

*Tabut ialah peti tempat menyimpan Taurat yang membawa ketenangan bagi mereka. 

Tabut itu adalah peti yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa as,  yang didalamnya terdapat sumber ketenangan,  yang ketika itu (peti) di hanyutkan bersama musa ke tepi sungai. Dan pada saat itu Bani Israel mengagungkan bahkan mengambil berkah dan bertabarruk dari peti tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *