Bukti Muhammad sebagai Nabi (Kenabian)
Cukup bagimu wahai anakku -semoga Allah menunjukimu jalan yang benar- dalam memutlakkan kenabian sebagai hukum kejelasan akal melalui keharusan Luthf Allah yang Maha Bijak dan adanya medium antara pencipta-yang merupakan anugerah mutlak-dengan makhluk yang memerlukan pada karunia. Perantara (utusan Allah) ini membimbing dan menentukan maslahat serta menjauhkan dari hal-hal yang membahayakan dengan berdiri di atas perintah Allah Swt dan menyampaikan kabar tentang perintah-perintah dan larangan-Nya.
Jelasnya, manusia mustahil mampu memahami sesuatu yang membahayakan atau menguntungkan-yang tak dapat dijangkau kecuali dengan pertolongan Allah. Jelasnya, ia mampu melakukan itu lewat bantuan wahyu dari Allah dan perolehan wahyu hanya dapat dicapai orang yang tidak mengumbar hawa nafsu dan kepentingan yang dapat menghalanginya memperhatikan makna-maknanya yang luhur. Ya, kedudukan ini mustahil dicapai kecuali oleh orang yang tidak terbuai dalam kelalaian serta hawa nafsu, serta tidak terbelenggu nafsu amarahnya, juga tidak berada dalam ruang yang gelap hanya karena berharap akan kesenangan dan tidak menghabiskan umurnya dalam kesia-siaan. Manusia yang paling sempurna jiwanya, selalu bermujahadah (berjuang demi kebenaran-peny.), Serta akalnya mengalahkan hawa nafsunyalah yang layak menyandang predikat orang yang bersyukur, mendapat perhatian-perhatian khusus dari Allah Swt, serta diberi atribut kenabian dan kerasulan.
Tidak diragukan lagi, tidak setiap orang mampu mengenali nabi wahyu yang dibawanya. Oleh karena itu, mengenali seorang nabi setidaknya dapat ditempuh lewat mukjizat yang dimaksudkan untuk menyingkap adanya hubungan antara pemilik mukjizat dan wajib al-wujud, serta untuk membedakan dirinya dengan yang lain berdasarkan kedudukan yang dianugerahkan Sang Pencipta.
Cukup bagimu, wahai anakku-semoga Allah menjagamu dari kejahatan-kejahatan- dalam membuktikan kenabian secara spesifik melalui akal. Sebab, akal telah menghukumi bahwa Muhammad bin Abdullah al-Hasyimi al-Quraisyi yang menyandang sifat-sifat kesempurnaan secara menyeluruh adalah seorang nabi penutup para nabi-sebagaimana dirinya di Mekah mengklaim demikian seraya memperlihatkan berbagai mukjizat guna mendukung klaimnya itu-yang intens mengajak manusia bertauhid kepada Allah dan kenabian dirinya.
Cukup bagimu al-Quran yang merupakan salah satu diantara mukjizat tersebut yang mustahil diberikan Allah kepada seorang pendusta; Maha suci Allah sekalipun dari kemungkinan tersebut. Sebabnya, akal sehat telah menghukumi dengan yakin bahwa Nabi saw adalah sosok yang jujur. Setelah kenabian 124 ribu nabi lainnya, di mana beliau merupakan penutup mereka berdasrkan kabar yang beliau sampaikan.
Adapun penjelasan bahwa al-Quran disebut sebagai mukjizat adalah dikarenakan beliau saw merupakan orang yang paling fasih di negeri Arab. Saat itu, mereka yang menguasai sastra dan bahasa Arab memiliki sejumlah pilihan; membuat satu surat seperti yang terdapat dalam al-Quran, mengimani kenabian beliau saw, atau berperang lalu hartanya menjadi rampasan dan keluarga mereka menjadi tawanan. Bila mampu membuatnya, mereka pasti akan melakukannya dan selamatlah jiwa, harta, dan kehormatan mereka dari belenggu ketaatan dan penghambaan, kehancuran dan kesia-siaan. Sebagian dari mereka menjadi hamba yang taat, sementara sebagian lainnya memilih berperang dan saling membunuh, merampas, dan menaklukkan. Ini membuktikan bahwa mereka tidak mampu membuat satupun ayat yang sama dengan ayat-ayat al-Quran.
Asumsi yang mengatakan bahwa mukjizat tak akan terjadi pada bahasa, jelas sangat keliru. Sudah jelas bahwa mukjizat takkan mampu dibuat manusia. Sebab, itu berada di luar kebisaan. Dengan ini niscaya akan tersingkap bahwa mukjizat berhubungan dengan wajib al-Wujud. Dalam pada itu, tolok ukur sesuatu tersebut berada di luar kebiasaan telah diakui para ahli tentangnya. Sebagaimana pengakuan para penyihir yang tak mampu menandingi tongkat Musa as, demikian pula dengan para ahli sastra dan bahasa yang mampu menyusun syair dengan kata-kata nan indah, teliti, dan menarik. Mereka mengakui, baik lewat lisan atau perbuatannya, bahwa mereka tak mampu mendatangkan satu surat pun yang sebanding dengan al-Quran. Lalu mereka pun pasrah dan mencopoti tujuh bayt syair yang tergantung di Kabah. Karenanya, telah terbukti di mata kami bahwa al-Quran adalah mukjizat bagi umatnya; itulah hujjah yang kuat.
Adapun berkenaan dengan masalah ke-universalannya, cukuplah dalil yang telah kita tetapkan bahwa kenabian itu absolut, terlebih setelah ditetapkannya nabi kita, Nabi Muhammad saw sebagai penutup para nabi.











