Mu’atabah Bagian Ketiga Dalam Menyempurna
3. Tingkatan Mu’atabah
Mu’atabah artinya menegur dan menasehati diri. Kita sebagai manusia butuh pada teguran dan nasehat untuk diri kita. Kita butuh teguran untuk diri kita yang jatuh pada lobang kemaksiatan, dan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Maka kita perlu berhenti sejenak melihat segala kesalahan dan dosa yang kita perbuat dengan penuh penyesalan atas hal itu. Kita butuh pada doa-doa sebagai teguran untuk diri kita. Seperti doa kumail, doa abi hamzah asstumali, doa munajat, dan seluruh doa yang memberikan teguran dan nasehat kepada diri kita ini. Hal ini merupakan perbuatan dari manusia yang bermu’atabah atas segala kesalahannya.
Muatabah dapat mengeluarkan dan melemahkan usaha kita dari berbuat yang salah dan dosa. Diriwayatkan dari Nabi SAW : “paling beratnya dosa adalah ketika sipelaku maksiat meremehkan dosanya”.
Manusia ketika meremehkan dosanya dengan berkata “dosa ini adalah dosa yang kecil yang tidak memiliki pengaruh terhadap diriku, tidak memiliki pengaruh pada jalanku”. Ini merupakan awal dari penyelewengan dan kesesatan untuk dirinya. Ada pula manusia yang berdosa, ia melemahkan perbuatannya untuk berlaku dosa dan ia akan memberi pelajaran pada dirinya tentang besarnya perbuatan dosa. Ia pula akan menata dirinya dengan penuh kehati-hatian agar ia tidak jatuh pada dosa yang pernah ia lakukan ataupun yang belum pernah ia lakukan.
Diriwayatkan Nabi SAW bersabda : “orang munafiq ketika ia memiliki dosa, ia seperti lalat yang mengitari dirinya, dan terbang disekitar tangannya yang berusaha memusnahkannya. Adapun orang mukmin ketika ia memiliki dosa, ia seperti dadanya ditindih oleh gunung yang tegak”.
Seorang mukmin bila mana ia melihat dosa, ia akan melemahkannya. Dosa baginya seperti setetes dari pada api neraka. Apakah manusia mampu meletakkan jari-jarinya diatas bara besi yang panas? Tentunya tidak mungkin mampu manusia yang lemah ini meletakkan jarinya diatas bara besi yang panas dan membakar. Manusia itu akan merasakan kesakitan, karena pada dasarnya ia adalah anak Adam yang lemah. Kutu yang kecil ia mampu menyakiti manusia, bagaimana dengan bara besi panas yang siap melumat jemari lemah manusia?
Allah SWT berfirman :
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ قُوۤا۟ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِیكُمۡ نَارࣰا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَیۡهَا مَلَـٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظࣱ شِدَادࣱ لَّا یَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَاۤ أَمَرَهُمۡ وَیَفۡعَلُونَ مَا یُؤۡمَرُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah SWT terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (Q.s At-Tahrim:6).
Dengan perbuatan Mu’atabah, manusia akan selalu menegur dan memelihara dirinya dari segala perbuatan salah dan dosa.











