Menyempurna Dengan Rasa Takut
بسم الله الرحمن الرحيم
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
Artinya: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”. (Q.S An Nazi’at:40-41).
Bagaimana manusia memiliki pertahanan dalam dirinya dari keinginan hawa nafsunya? Bagaimana manusia mengendalikan dan menundukkan dirinya dari condong kepada hawa nafsunya yang selalu tertuju pada keburukan?
Manusia memiliki kemampuan untuk mengadapi dan melewati itu semua. Semua itu bisa dilewati jika manusia itu selalu mawas-diri. Manusia tidak akan berubah dirinya menjadi lebih baik kecuali dengan mawas-diri. Allah SWT Berfirman:
إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Q.S Ar Raa’ad:11).
Merubah diri disini yang dimaksud adalah mawas-diri. Mawas-diri merupakan pondasi perubahan diri dan jalan menuju kebaikan dan kesempurnaan bagi setiap insan.
Setiap lembaga dan perusahaan dan semacamnya, tidak akan menghasilkan sesuatu kecuali jika ia memiliki program pengawasan terhadap lembaganya. Pengawasan ini, dengan mempelajari tentang sistemnya, kemudian kekurangan dan kelebihannya, lalu apa saja yang akan melemahkan atau menguatkan berjalannya lembaga tersebut, maka dengan semua ini (mawas-diri), ia akan merubah lembaga tersebut dan menjadikannya sebagai lembaga yang unggul dan berkualitas. Manusia yang tidak mawas-diri, ia tidak akan merubah perilaku buruknya menjadi perilaku yang baik.
Kemudian bagaimanakah kita mengoptimalkan dan mensempurnakan pengawasan untuk diri kita ini?
Jawabannya akan kita paparkan pada postingan selanjutnya, dalam tema mengolah diri dalam pandangan ulama irfan(tasawuf).











