Hadis

Kelompok yang Selamat

13
×

Kelompok yang Selamat

Sebarkan artikel ini

Kelompok yang Selamat

Kelompok yang selamat adalah kelompok yang beriman kepada Allah SWT dan mengikuti utusannya yaitu Nabi Muhammad SAW, dan beramal dengan apa yang telah diwasiatkan olehnya kepada kita, serta berpegang teguh kepadanya. Sebagaimana Rasulullah SAW telah memberikan kewaspadaan dari fitnah, perbedaan dan kesesatan. Dengan itu Rasul SAW memberikan keamanan kepada ummatnya dengan perahu yang akan membawa siapa saja yang menaikinya kepada keselamatan. 

Sebelum masuk kepada siapakah yang dimaksud dengan perahu keselamatan tersebut, maka terlebih dahulu kita harus kenal dengan Rasul sang utusan Allah SWT, guna menepis segala penyimpangan. 

Allah SWT Yang Maha Sempurna menciptakan alam semesta bersamaan dengan diutusnya utusanNya untuk menghantarkan setiap makhluq kepada jalan yang lurus dan jalan keselamatan. Mereka disebut sebagai HUJJAH Allah SWT. Allah SWT mengutus mereka karena bentuk LuthufNya dan KeadilanNya. Karena andai kata Allah SWT tidak memberikan hujjah kepada setiap malhluq, maka akan meniscayakan kedzaliman kepadaNya. Dan hal itu mustahil terjadi. Maka dengan itu, Allah SWT Yang Maha Sempurna mengutus utusanNya(hujjah) yang sempurna untuk mengantarkan setiap makhluqNya kepada kesempurnaan.

Dari prolog diatas, kita pahami bahwa Nabi merupakan koneksi antara makhluq dan Khaliqnya. Maka dengan demikian, sudah dipastikan bahwa setiap makhluq membutuhkan Nabi untuk menjadi perantaranya sampai kepada Khaliqnya. 

Pertanyaannya: setelah kita tahu pentingnya keberadaan seorang Nabi, bagaimana dengan sepeninggalnya Nabi? Siapakah yang menjadi koneksi antara makhluq dan Khaliqnya?

 

Setelah pasca wafatnya Nabi SAW, hadist dari Nabi SAW tentang perbedaan golongan diantara ummatnya mulai terurai dan terpampang jelas dengan realitasnya. Sebagian muslimin 

mengedepankan sifulan, begitu pula sebagian lainnya. Berkelompok kelompok, satu sama lain berselisih tentang siapa yang pastas menggantikan Arrasul SAW. Setiap kelompok mengusung orang yang dianggapnya sebagai orang yang pantas menggantikan posisi Rasulullah SAW. Namun, terlepas dari perselisihan itu, jika ummat islam kembali kepada ucapan dan pesan Nabi, maka siapa saja yang beramal sesuai pesannya, maka sudah dipastikan bahwa ia akan berada dalam perahu keselamatan. 

Pada tulisan sebelumnya, telah disinggung bahwa setiap era dan zaman, tidak akan pernah kosong dari Hujjah-Hujjah Allah SWT. Karena jika alam ini kosong dari keberadaan mereka, maka Allah SWT dzolim tehadap makhluqNya. Dan hal ini mustahil bagiNya. Karena Allah Maha Adil dan tidak dzalim, maka sudah dipastikan Allah akan menurunkan HujjahNya kepada makhluqNya, guna membeeikan koneksi antara makhluqNya dan denganNya, guna menghantarkannya kepada jalan keselamatan. 

Pesan Nabi SAW merupakan dua pusaka atau dua perisai hidup untuk keselamatan manusia. Tentunya, pesan ini tidaklah asing ditelinga kaum muslimin. Karena hadist atau ucapan Nabi tentang hal ini, dikategorikan sebagai hadist yang mutawaatir. Yang maknanya(mutawatir), banyak yang meriwayatkannya dan bersepakat atas benarnya hadist tersebut. Isi hadistnya sebagai berikut:

 

يَا اَيُّهَا النَّاسُ اِنِّي تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا اِنْ اَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوْا كِتَابَ اللهِ وَعِتْرَتِي أهْلَ بَيْتِي

“Wahai manusia, sungguh kutinggalkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya kalian tidak akan tersesat: ‘Kitabullah dan Ithrati Ahlu baitku’”.

 

Hadis itu, bisa kita rujuk dalam:

[Sahih Tirmidzi jilid 5, hal.328, hadis ke 3874 cet. Darul Fikr Beirut, jilid 13 hal.199 cet.Maktabah Ash-Shawi, Mesir, jilid 2 hal.308 cet. Bulaq Mesir

Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 5 hal.182

Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal.149 ia mengatakan hadis ini sahih

Ad-Durrul Mantsur oleh Jalaluddin As-Suyuthi jilid 6 hal.7

Ash-Shawa’iqul Muhriqah oleh Ibnu Hajar Al-Haitsami hal.184

Al-Fadhail, oleh Ahmad bin Hanbal hal. 28

Tarikh Al-Khulafa oleh As-Suyuthi hal.109

Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4 hal.113, cet. Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah, Mesir. Tafsir Al-Khazin jilid 1 hal.4, cet.Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah, Mesir

Usdul Ghabah fi Ma’rifati Ash-Shahabah oleh Ibnu Atsir Asy-Syafi’i jilid 2 hal. 12.]

 

Banyak hadist yang serupa, namun berbeda dalam redaksinya. Artinya dari ucapan Nabi SAW merupakan ucapakan yang mengarah kepada satu tujuan, yaitu berpegangnya manusia kepada kedua pusaka tersebut guna berada dalam keselamatan.

 

Pertanyaannya: siapakah ahlulbait dalam pesan Nabi SAW?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hadis

Pendidikan    Sebagian besar dari orang tua yang…