Aqidah Remaja

Dalil Keteraturan secara Nash

37
×

Dalil Keteraturan secara Nash

Sebarkan artikel ini

Keteraturan dari sisi nash agama

Sesungguhnya wahyu ilahi berperan penting dalam mengabarkan akan sebuah bukti keteraturan guna membuktikan adanya wujud sang pencipta atas alam semesta ini jauh sebelum akal logika menghukumi keteraturan merupakan bukti akan adanya sang khaliq, alquran telah menekankan dan menyinggung para orang orang yang berakal dengan  sebuah argumentasi keteraturan untuk membuktikan wujud sang khaliq. seperti kita kutip pada beberapa ayat alquran : 

 

سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰفَاقِ وَفِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَقُّۗ اَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ اَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ.

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? 

( Q.S Fushilat ayat 53 )


قُلِ انْظُرُوْا مَاذَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَمَا تُغْنِى الْاٰيٰتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُوْنَ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Perhatikanlah apa saja yang ada di langit dan di bumi!” Tidaklah berguna tanda-tanda (kebesaran Allah) dan peringatan-peringatan itu (untuk menghindarkan azab Allah) dari kaum yang tidak beriman.

( Q.S Yunus ayat 101 )


اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang bahtera yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengannya Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering), dan Dia menebarkan di dalamnya semua jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti.

( Q.s Al Baqarah ayat 164 )

Begitu pula di nahjul balagah khutbah imam ali 185/ sabda Imam Ali di kitab muhadarat ilahiyah hal :

 

ألا ينظرون إلى صغير ما خلق؟ كيف أحكم خلقه وأتقن تركيبه، وفلق له السمع والبصر، وسوى له العظم والبشر، أنظروا إلى النملة في صغر جثتها ولطافة هيئتها لا تكاد تنال بلحظ البصر ولا بمستدرك الفكر، كيف دبت على أرضها وصبت على رزقها، تنقل الحبة إلى جحرها وتعدها في مستقرها، تجمع في حرها لبردها وفي وردها لصدرها  فالويل لمن أنكر المقدر وجحد المدبر

Artinya: Tidakkah mereka melihat hal-hal kecil yang telah diciptakan-Nya, bagaimana Dia memperkuat jaringannya dan membuka bagi mereka pendengaran dan penglihatan dan membuat bagi mereka tulang dan kulit? Lihatlah semut dengan tubuhnya yang kecil dan bentuknya yang halus. Dia hampir tak terlihat di sudut mata, tak dapat pula ditangkap oleh imajinasi—betapa ia berjalan di bumi dan menggunakan rezekinya. Dia membawa gabah ke lubangnya dan menyimpannya di tempat kediamannya. Dia mengumpul selama musim panas untuk musim dinginnya, dan selama kuat untuk masa lemahnya. Maka celakalah orang yang tidak mempercayai Pengatur dan menolak Penguasa. 

Metode lain yang barangkali lebih tebat dalam membuktikan keberadaan Allah Swt adalah Kutipan kalimat Sayyidina Husain a.s dalam doa Arafah yang menjelaskan tentang pembuktian wujud Allah Swt.  

 

كيف يستدل عليك بما هو في وجوده مفتقر إليك؟ أيكون لغيرك من الظهور ما ليس لك حتى يكون هو المظهر لك، متى غبت حتى تحتاج على دليل يدل عليك؟ ومتى بعدت حتى تكون الآثار هي التي توصل إليك؟ عميت عين لا تر.

Artinya: Bagaimana Engkau dapat dibuktikan dengan sebuah wujud yang membutuhkan padaMu ? Apakah selainMu memiliki dzuhur (kejelasan) sehingga ia menjadi penjelas untukMu ? Kapan Engkau tiada hingga Engkau butuh pada dalil yang menunjukan padaMu ? Dan kapan kau jauh sehingga tanda-tanda lah yang dapat mengantarkan padaMu ? Sungguh telah buta mata yang tidak melihatMu.

Apakah membuktikan keberadaan Tuhan melalui “akibat” adalah suatu kesalahan? 

Kandungan teks doa yang mulia ini mengisyaratkan tentang adanya argumentasi kausalitas (Hukum Sebab-Akibat ) yaitu seperti pembuktian tentang tingginya suhu panas pada kadar tertentu yang menyebabkan pemuaian suatu zat, seperti proposisi berikut ini : Suhu panas pada besi naik dan setiap besi yang suhu panasnya naik pada kadar tertentu maka dia akan memuai, maka hasilnya : setiap besi dapat memuai  dengan suhu panas. 

Berdasarkan kesepakatan rasional bahwa ‘sebab’ lebih unggul secara eksistensi dibandingkan ‘akibat’ maka (bagaimana mungkin seseorang dapat berargumen atas keberadaan-Mu dengan sebuah zat yang keberadaannya butuh kepada-Mu ? Seakan ada dzat selain-Mu yang lebih jelas.) Sayyidina husain a.s dalam doanya mengisyaratkan tentang realita ini. Bahwa ‘sebab’ lebih dahulu ada dibandingkan akibat-akibatnya.

Betul, cara argumentasi yang sering digunakan oleh kebanyakan orang adalah argumentasi-demonstratif yang menjadikan fakta valid tentang keberadaan ‘akibat’ sebagai landasan untuk mengetahui keberadaan ‘sebab’ sebagaimana adanya suatu zat yang memuai menunjukan bahwa adanya suhu panas pada kadar tertentu yang menyebabkan zat tersebut memuai. 

Sedangkan Imam Husain a.s dalam doanya mengatakan : 

“Bagaimana Engkau dapat dibuktikan dengan sebuah wujud yang membutuhkan padaMu ? Apakah selainMu memiliki dzuhur (kejelasan) sehingga ia menjadi penjelas untukMu”. 

Kutipan dalam doa imam Husain a.s  menunjukan bahwa setiap ‘sebab’ meskipun zat dan ekstistensinya menyebabkan keberadaan sebuah ‘akibat’, akan tetapi terkadang nyaris tidak dihiraukan keberadaannya karena lemahnya seseorang dalam memahami hal ini dan lalai karena terlena dengan keberadaan ‘akibat-akibat’ ini. oleh karena itu sebagian ‘akibat’ dengan segala karakternya menjadi tumpuan bagi seseorang dalam mengetahui keberadaan sebuah ‘sebab’… maka kesalahan berfikir dan beragumentasi ini penyebabnya adalah seseorang itu sendiri bukan yang menciptakan hukum kausalitas ini.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *