Al-Quran dan Pengutusan Para Nabi
Sekarang, ada baiknya kita membahas kebutuhan pada kenabian dengan fokus pada tujuan-tujuannya, berdasarkan sudut pandang Al-Quran dan sunnah. Namun, perlu ditekankan bahwa perspektif Al-Quran seputar masalah ini membentuk semacam ‘analisis intelektual’ [maksudnya, apa yang diajarkan Al-Quran sesuai dengan yang dipahami akal]. Al-Quran mengaitkan tujuan diutusnya para Nabi a.s dengan faktor-faktor berikut,
1. hubungan fondasi tauhid, serta penentangan segala bentuk penyimpangan darinya. Sebagaimana difirmankan,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ
Dan sungguh Kami telah mengutus seorang rasul di setiap umat [dengan menyerukan], “Sembahlah Allah dan jauhilah para thagut.” Di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang ditetapkan dalam kesesatan. Maka, berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).
(QS. al-Nahl [16]:36)
Dengan demikian, para nabi as yang mendapat wahyu Allah Swt selalu bertentangan dengan kaum musyrik, seraya harus mengalami pelbagai derita sebagai akibatnya.
Imam Ali as berkata, dalam hubungannya dengan tujuan diutusnya para Nabi Allah a.s, “Para Nabi a.s diangkat untuk mengajarkan manusia tentang Tuhan mereka, yang tersingkap dan mereka tidak tahu; untuk mengajarkan mereka perkara ketuhanan-Nya setelah mereka mengingkarinya; dan untuk mendorong mereka menyatakan keesaan ketuhanan-Nya setelah menyimpang darinya.
2. Untuk mengajarkan umat manusia ilmu-ilmu agama, risalah Tuhan, dan menunjukkan jalan yang benar, serta cara menyucikan diri. Sebagaimana dinyatakan Al-Quran,
هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ
“Dia-lah Yang mengutus di tengah-tengah mereka yang buta huruf seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan untuk mereka ayat-ayat-Nya, untuk menyucikan mereka, serta mengajarkan mereka kitab dan hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
(QS. al-Jumu’ah [62]:2)
3. Menegakkan keadilan di tengah masyarakat manusia. Sebagaimana dinyatakan Al-Quran,
لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنٰتِ وَاَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتٰبَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِۚ
Sungguh Kami telah mengutus para Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti, dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca, agar manusia dapat menegakkan keadilan…
(QS. al-Hadid [57]:25)
penegakan keadilan mengharuskan seseorang mengetahui apa yang dituntut keadilan dalam seluruh bidang, dan pada tahap berbeda. Kemudian, dia menjadikannya berhasil sesuai ketentuan kuasa Allah Swt.
4. Memberi keputusan sebagai penentu (otoritatif) dalam berbagai hal. Ini sebagaimana disinggung dalam inti ayat Al-Quran.
كَانَ النَّاسُ اُمَّةً وَّاحِدَةًۗ فَبَعَثَ اللّٰهُ النَّبِيّٖنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَۖ وَاَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِۗ
“ Umat manusia itu [dahulunya] merupakan satu umat, lalu Allah mengutus para Nabi sebagai pembawa berita gembira dan peringatan. Dan Dia menurunkan bersama mereka kitab dengan kebenaran untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. “
(QS. alBaqarah [2]:213)
Jelas, perselisihan di tengah umat manusia tidak terbatas pada wilayah kepercayaan, melainkan juga dijumpai dalam berbagai sektor kehidupan manusia.
5. Untuk mengakhiri rangkaian argumen para hamba-Nya untuk menentang Allah Swt. Sebagaimana dinyatakan Al-Quran, Para Rasul itu adalah pembawa berita gembira dan peringatan agar tidak ada argumen bagi manusia untuk menentang Dzat Allah Swt setelah para Rasul itu.
رُسُلًا مُّبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّٰهِ حُجَّةٌ ۢ بَعْدَ الرُّسُلِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا
“(kamimengutus) rasul-rasul sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu (diutus). Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
(QS. al-Nisa [4]:165)
Allah Swt memiliki tujuan dalam mencipta manusia, dan harus dijalankan lewat perencanaan yang sempurna dalam segala urusan manusia. Rencana ini dibuat Allah Swt bagi seluruh manusia, sedemikian, sehingga tidak terdapat celah untuk membantah-Nya, atau mengajukan alasan-alasan dengan menyatakan, misal, “Aku tidak mengetahui jalan yang benar untuk mengarungi hidupku.”













