Akidah

Tauhid (Esa-kan Tuhanmu)

11
×

Tauhid (Esa-kan Tuhanmu)

Sebarkan artikel ini

Sekelumit Tentang Lima Pokok Agama

Ketahuilah wahai anakku -semoga Allah memberi petunjuk padamu jalan yang lurus, dan menjauhkanmu dari maksiat dan penyimpangan- bahwasannya pertama kali harus engkau ketahui adalah pokok-pokok agamamu dan kokohkan keyakinanmu terhadap penciptamu serta para nabi dan wali-Nya dengan argumen-argumen yang kuat. Agar keberadaanmu tidak sia-sia seperti hewan.

Tujuanku bukanlah menyibukkan diri dalam ilmu kalam dan filsafat serta merujuk kitab-kitab yang berkenaan dengan itu. Bahkan saya sangat melarangmu melakukannya sebelum potensimu terasah. Sebab, di dalamnya terkandung keragu-raguan (sofisme), yang barangkali akan menjungkalkanmu ke jurang ateisme atau kesesatan. Sebab, terdapat beberapa hadis Ahlul Bayt yang mutlak melarang mengkaji ilmu teologi dan filsafat. Maksudku adalah merujuk ke kitab-kitab akidah milik al-Fadhil al-Majlisi, misalnya, demi membangun akidahmu di atas argumen-argumen yang menghantarkan pada keyakinan. Cukup bagimu untuk membuktikan adanya pencipta apa-apa yang kamu lihat dari tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban serta keberaturan alam; bahwa adanya akibat mengharuskan adanya sebab. Sungguh indah insan yang mengucapkan kata-kata ini, “Dan bagi Allah, saksi dalam semua yang gerak dan diam, dan Dia memiliki tanda dalam segala sesuatu yang menunjukkan Dia adalah satu.”

Yang lain juga berkata, “Dalam bumi terdapat tanda-tanda, maka janganlah kamu mengingkarinya. Sebab keajaiban-keajaiban dari segala sesuatu merupakan tanda-tanda-Nya.”

Dengan pengertian seperti ini, Imam Ali bin Abi Thalib, penghulu para ahli tauhid dan pemimpin kaum muslimin, telah mengisyaratkan dalam sebagian khutbahnya, “Mereka beranggapan bahwa keberadaan mereka seperti tumbuhan tanpa ada yang menanam dan keanekaragaman bentuk mereka tidak ada yang menciptakan. Klaim mereka tidak bersandar pada dalil serta penelitian yang mendalam. Mungkinkah sebuah bangunan dapat terwujud tanpa ada yang membangun atau sebuah kasus kriminal terjadi tanpa ada pelakunya?”

`Tujuan Imam Ali adalah membandingkan itu dengan hal-hal yang terinderai (sensible) dan mengajarkan metode berargumen, seraya menjadikan orang yang mengingkari pencipta tampak di mata kita sebagai orang yang mengklaim sesuatu yang bertentangan dengan ucapan lahiriahnya, yaitu bergantungnya akibat pada adanya sebab; begitu pula dengan orang yang mengingkari (Tuhan). Inilah cara terbaik dalam berdialog. Sebab, dalam hal ini si pengingkar tak punya argumentasi untuk membuktikan klaimnya; yaitu terjadinya sesuatu tanpa sebab. Sementara bagi kita, semua itu sudah jelas. Mengingat tersingkapnya (pengetahuan tentang) pemberi dampak justru dikarenakan adanya dampak-dampak tersebut -cara seperti ini tentu ada dalam setiap benak. Bahkan seorang badui sekalipun dapat mengenal Tuhannya dengan cara tersebut dengan mengatakan “Adanya kotoran unta bukti adanya unta, dan bekas tapak kaki menjadi bukti adanya orang yang berjalan.”

Bukankah langit memiliki gugusan bintang dan bumi memiliki jalan di antara dua gunung yang menunjukkan adanya Allah yang Maha lembut dan Mahatahu? Demikian pula yang diperbuat seorang tua, yang memerintahkan kita mengambil agamanya yang dilandasi argumen kausalitas -yang merupakan paling kuatnya cara untuk membuktikan keberadaan sang pencipta.

Dan cukup bagimu, wahai anakku-semoga Allah menjauhkanmu dari syirik dan kemunafikan-untuk menetapkan bahwa pencipta itu satu. Akal telah menghukumi bahwa, jika Tuhan tetbilang, niscaya akan terjadi perbedaan yang mengakibatkan kehancuran dan ketidakberaturan alam, sebagaimana yang disinggung dalam firman Allah: “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah maka keduanya telah rusak binasa, dan firman Allah lainnya: Allah sekali-kali tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya. Kalau ada Tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya dan sebagian tuhan-tuhan itu akan mengalahkan tuhan yang lain.” Imam Ali telah menunjukimu tentang itu lewat ucapan beliau, “Andaikata ada Tuhan lain bersama-Nya, sungguh akan datang padamu utusan-utusannya”

Imam Ali pun telah mengajarkan pula metode berargumen yang menjadikan orang yang mengingkari (keesaan Allah) yang mengajukan klaim dari sisi tidak adanya akibat (tidak datangnya utusan dari tuhan-tuhan yang lain), membutuhkan dalil yang sulit-bahkan mustahil-ditemukan! Katakanlah tuhan itu banyak. Jelas, ini mengandaikan adanya perbedaan satu sama lain. Dan dengan adanya perbedaan tersebut, tentu mustahil terjadinya kesamaan dalam setiap akibat. Sebab sulit diterima akal sehat bahwa sesuatu yang berbeda identik dengan sesuatu yang memiliki kesamaan. Karenanya, tatkala akibat tidak banyak, maka itu artinya Dia tunggal. Jelas, jika ada tuhan yang saling bergantung dalam hal menciptakan, akan mengakibatkan keduanya saling membutuhkan dan ini menjadi kelemahan bagi keduanya. Dan pada gilirannya, antara yang pertama dan yang kedua akan terlibat dalam perselisihan. Kalaupun dalam hal menciptakan keduanya saling tidak memerlukan, maka yang lain (salah satunya) akan keluar dari kekuatan pencipta yang sempurna, dan itu jelas-jelas batil (tidak logis).

Cukup bagimu, wahai anakku-semoga Allah mencurahkan taufik untuk menyucikanmu dan memberi keyakinan padamu-dalam menolak (meniadakan) sifat-sifat negatif baginya. Sebab itu merupakan kekurangan (kelemahan) yang mustahil dimiliki wajib al-wujud (wujud yang mesti-peny.). Imam Ali telah memberi petunjuk padamu tentang argumen yang berkenaan dengan masalah ini dalam sebagian khutbahnya, diantaranya, “kesempurnaan iman akan keesaan-Nya adalah menolak sifat-sifat-Nya. Karena setiap sifat merupakan bukti bahwa (sifat) itu berbeda dengan yang disifatinya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *