Hadis

Madzhab Syiah

13
×

Madzhab Syiah

Sebarkan artikel ini

Madzhab Syiah

Syiah salah satu madzhab dalam islam sebagaimana madzhab-madzhab yang terdapat dalam agama islam. Dikatakan bahwa Syiah merupakan madzhab yang lahir setelah sepeninggalnya Rasulullah SAW. bahkan dikatakan pula, bahwa syiah telah lahir dizaman Rasulullah SAW. Namun sebelum masuk lebih dalam tentang madzhab syiah, terlebih dahulu bagi kita untuk tau mankna syiah itu sendiri.

Syiah secara bahasa artinya pengikut, penolong,kelompok, sekte, dan penganut. Adapun secara istilah adalah pengikut Ali bin abi Thalib a.s. Jika kita merujuk kepada Al-Quran, maka kata syiah tidaklah asing ditelinga siapa saja yang membacanya. Al-Quran dalam ayatnya menggunakan kata syiah. Coba kita perhatikan dalam surat 

وَإِنَّ مِن شِیعَتِهِۦ لَإِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ

[Surat Ash-Shaffat 83]

Artinya: Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).(Aş-Şāffāt:83)

Dalam ayat ini, Ibrahim a.s merupakan syiahnya(pengikut) Nuh a.s. Artinya bahwa kata syiah itu sendiri telah ada dan telah diabadikan didalam Al-Quran. 

Syiah merupakan sekte yang berpegang teguh kepada Rasulullah SAW dengan mengikuti segala ajarannya yang dibawa olehnya. Pada akhir hayatnya, Rasulullah SAW adalah manusia yang paling memikirkan problem seluruh ummatnya. Dengan itu, ia tidak membiarkan ummatnya begitu saja. Beliau SAW setelah menyampaikan seluruh risalahnya dan tanggung jawabnya dengan sempurna, beliau SAW diakhir hayatnya meninggalkan pesan yang sangat amat penting. Pesan tersebut terkenang dengan hadist tsaqalain. Yaitu dua pusaka yang berat, yang harus dipegang erat oleh setiap ummatnya agar selalu berada dalam ajarannya dan tidak jatuh pada segala penyimpangan dan penyelewengan. 

Sebagaimana yang telah disinggung dalam tulisan sebelumnya, bahwa Rasulullah SAW telah berpesan dengan meninggalkan 2 pusaka yang harus dipegang oleh setiap ummatnya agar tidak melenceng dari ajaran islam. Saya akan kutip kembali pesan beliau SAW : 

يَا اَيُّهَا النَّاسُ اِنِّي تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا اِنْ اَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوْا كِتَابَ اللهِ وَعِتْرَتِي أهْلَ بَيْتِي

“Wahai manusia, sungguh kutinggalkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya kalian tidak akan tersesat: ‘Kitabullah dan Ithrati Ahlu baitku’”.

 

Hadis itu, bisa kita rujuk dalam:

[Sahih Tirmidzi jilid 5, hal.328, hadis ke 3874 cet. Darul Fikr Beirut, jilid 13 hal.199 cet.Maktabah Ash-Shawi, Mesir, jilid 2 hal.308 cet. Bulaq Mesir

Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 5 hal.182

Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal.149 ia mengatakan hadis ini sahih

Ad-Durrul Mantsur oleh Jalaluddin As-Suyuthi jilid 6 hal.7

Ash-Shawa’iqul Muhriqah oleh Ibnu Hajar Al-Haitsami hal.184

Al-Fadhail, oleh Ahmad bin Hanbal hal. 28

Tarikh Al-Khulafa oleh As-Suyuthi hal.109

Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4 hal.113, cet. Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah, Mesir. Tafsir Al-Khazin jilid 1 hal.4, cet.Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah, Mesir

Usdul Ghabah fi Ma’rifati Ash-Shahabah oleh Ibnu Atsir Asy-Syafi’i jilid 2 hal. 12.]

 

Banyak hadist yang serupa, namun berbeda dalam redaksinya. Artinya dari ucapan Nabi SAW merupakan ucapakan yang mengarah kepada satu tujuan, yaitu berpegangnya manusia kepada kedua pusaka tersebut guna selamat dari segala penyelewengan dan penyimpangan. Tentunya dari hadist ini, yang banyak menjadi pembahasan dikalangan antar kaum muslimin adalah itrah Nabi SAW. Karena itu kita akan membahas tuntas, siapakah yang dimaksud oleh itrah Nabi SAW yang diharuskan bagi ummat muslimin untuk berpegang teguh kepadanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hadis

Pendidikan    Sebagian besar dari orang tua yang…