Hadis

Wara’ (Kehati-hatian)

27
×

Wara’ (Kehati-hatian)

Sebarkan artikel ini

Berkata Imam Ja’far Shadiq a.s:

اَوْرَعُ النَّاسِ مَنْ وَقَفَ عِنْدَ الشُّبْهَهِ

Orang paling wara’ (bertakwa) itu adalah orang yang berhenti dalam hal (menghadapi) perkara yang syubhat.”

Menurut definisi ahli makrifat terkemuka, Khwajah Abdullah Ansyari, wara’ adalah Kehati-hatian yang tinggi disertai rasa takut atau disiplin ketat untuk memuliakan Allah swt. Dan ini meliputi semua tingkatan, karena wara’ itu sendiri bertingkat-tingkat.

Tingkat-tingkat Wara’ :

Wara’ pada kalangan awam adalah meninggalkan dosa-dosa besar.

 

Wara’ pada kalangan elit adalah berpantang dari hal-hal yang subhat, karena takut tergelincir kedalam hal-hal yang haram.

 

Wara’ pada kalangan zahid adalah berpantang dari hal-hal yang dibolehkan (mubah) demi menghindari beban tanggungan yang menyertainya.

 

Wara’ pada kalangan ahli suluk adalah berpantang dari memandang dunia untuk mencapai pelbagai maqam.

 

Wara’ pada kalangan yang tertawan hatinya dalam Wujud Ilahiah (majdzub) adalah melepaskan maqam demi mencapai ambang pintu Allah swt dan menyaksikan keindahannya.

 

Wara’ para wali Allah adalah menghindari perhatian pada tujuan-tujuan (ghayat).

 

Masing-masing tingkatan mempunyai uraian yang panjang, tetapi yang perlu diketahui dalam hubungan ini adalah bahwa wara’ terhadap apa yang telah diharamkan Allah (muharramat) merupakan dasar bagi semua keutamaan rohaniah dan maqamat uhrawi. Karena tak seorang pun dapat mencapai suatu maqam sebelum dia berpantang dari hal-hal yang haram.

    “Sayyid Ruhullah Al Musawi q.s”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hadis

Pendidikan    Sebagian besar dari orang tua yang…