Al-Quran

Tiga Langkah Berperang Dengan Hawa Nafsu

17
×

Tiga Langkah Berperang Dengan Hawa Nafsu

Sebarkan artikel ini

Tiga Langkah Berperang Dengan Hawa Nafsu

Telah kita bahas dalam artikel menyempurnakan diri, ada beberapa langkah dalam meniti setapak kesempurnaan, dan langkah terakhir merupakan medan besar yaitu memerangi hawa nafsu. Memingat betapa besar perjuangan dan dampak dari medan ini, kami menambahkna pembahasan khusus mengenai cara memerangi hawa nafsu.
Ada beberapa tindakan untuk manusia agar ia dapat memerangi jiwanya, yaitu tindakan pikiran, tindakan nafs, dan tindakan ruh.

1. Tindakan pikiran
Pikiran disini barmakna ilmu. Allah SWT memberikan predikat kepada orang orang yang berilmu bahwa mereka adalah orang orang yang takut kepada Allah SWT. Allah SWT Berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Artinya: Sesungguhnya yang takut kepadala Allah SWT diantara hamba-hambaNya adalah ulama’. (Q.S Faatir:28).

Dalam bahasa arab terdapat dua kata yang memiliki arti serupa namun berbeda dalam maknanya. Takut dala bahasa arab bisa dengan kata خشية، ada pula dengan kata خوف. خوف bermakna takut kepada kebahayaan. Adapun خشية bermakna takut akan keagungan yang dihadapi (Allah SWT). Allah SWT Berfirman:

وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ
Artinya: “dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti”.

Takut kepada Allah SWT merupakan hasil dari ilmu seseorang karena melihat keagungan Tuhannya. Hal ini dinamakan dengan الخشية. Hal ini berbeda dengan makna الخوف. Allah SWT memuji kaum mukminin dengan rasa takut/خوف. Allah SWT Berfirman :

إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Artinya: “Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku”. (Q.S Al-Anam:15).

Ilmu yang dimaksud diayat diatas adalah ilmu yang dinamakan ilmu rabbani.

Ada pendekatan ilmu robbani dalam kalam amirul mu’minin saat mengkelompokkan manusia menjadi tiga Jenis :
Tercatat, percakapan Amirul Mukminin a.s dengan Kumail ibn ziyad.
Kumail meriwayatkan: Amirul Mukminin a.s memegang tangan saya lalu membawa saya ke kuburan. Kemudian ia menarik nafas keluhan yang dalam seraya berkata: “Wahai Kumail, hati ini adalah wadah. Yang terbaik di antaranya adalah yang memelihara (isinya). Karena itu, peliharalah apa yang saya katakan kepada Anda. Manusia ada tiga jenis. Yang satu adalah orang berilmu dan rohaniawan (ilmu rabbani). Berikutnya adalah si pencari ilmu yang juga di jalan pembebasan. Kemudian (yang terakhir) si busuk yang memburu setiap penyeru dan tunduk kepada setiap arah angin. Mereka tidak mencari cahaya dari sinar pengetahuan, dan tidak mengambil perlindungan dari dukungan yang dapat diandalkan.
Ilmu rabbani adalah ilmu yang mengenalkan kamu kepada Tuhannya, sifat-Nya, asma’-Nya, keagungan-Nya, Rahmat-Nya, kepada ilmu aqaid, kepada ilmu irfan. Semua ilmu ini yang melahirkan ketakutan/خشية kepada Tuhannya.

2. Tindakan nafs/diri
Setiap manusia butuh pengetahuan pada jalannya. Diriwayatkan dari Nabi SAW : “Allah SWT merahmati hamba yang tahu dirinya dari mana, dan dimana, dan akan kemana”. Dianjurkan bagi setiap manusia untuk Tahu akan jalannya, matinya, dimana akan dikubur, dan hisabnya. Selayaknya bagi manusia untuk selalu mengingat kematian, dan mengingat akhiratnya, agar mereka ada pada perjalanan yang dinaungi Allah SWT.

Imam Ali Zainal Abidin a.s mengajarkan kepada kita agar kita tahu perjalanan yang sebenarnya. Beliau a.s berkata : “bagaimana aku tidak menangis dan tidak pula tahu akan kemana perjalananku, sungguh sayap kematian telah membuat kepalaku berdenyut kencang, kemudian apakah hal semua itu tidak membuatku menangis? Aku menangis karena kepergian diriku dari dunia, dan aku menangis akan gelapnya kuburanku, aku menangis dari pertanyaan munkar dan nakir kepadaku, aku menangis karena keluarnya diriku dari kuburan dalam keadaan telanjang dan hina membawa beban yang berat diatas punggungku, kadang aku melihat kekanan, dan kadang aku melihat kekiri, karenanya setiap makhluq dalam kesibukan yang bukan kesibukanku, Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan banyak pula (muka) yang pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan dan kehinaan”.
Sikap seperti ini mengingatkan kepada manusia bahwa mereka adalah makhluq yang lemah dan tiada daya, dan mengingatkan manusia pada jalannya yang sebenarnya, dan mengingatkan manusia akan ikatan dan hubungan dirinya dengan Tuhannya. Selanjutnya menuntun langkah dan manmbah daya juang manusia dalam bertindak memerangi hawa nafsu.

3. Tindakan pengembangan cinta kepada Tuhannya
Cinta kepada Allah SWT akan menghalangi dan mencegah manusia dari kemaksiatan. Sebagaimana jika manusia cinta kepada dunia, maka dunia itu akan menjadi pangkal kesalahan baginya dan menghalanginya untuk meraih akhiratnya. Manusia yang cinta kepada dunia, ia akan terdorong melakukan kesalahan. Berbeda dengan yang cinta kepada Tuhannya yang akan menjadikannya tercegah dari kemaksiatan dan kesalahan. Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai orang-orang yang bersungguh sungguh melawan jiwanya yang berhasrat pada dunia, dan semoga kita dijadikan orang-orang yang meneladani manusia yang dipilih Allah SWT sebagai hamba-Nya yang terbaik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Al-Quran

بسم الله الرحمن الرحيم  یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ قُوۤا۟…

Al-Quran

Memberi nafkah secara secara diam-diam ataupun secara terang-terangan…

Al-Quran

بسم الله الرحمن الحيم  يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا…

Al-Quran

Pendidikan Diriwayatkan dari Nabi SAW, kala itu Nabi…

Al-Quran

بسم الله الرحمن الرحيم  لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ فِیۤ…

Al-Quran

بسم الله الرحمن الرحيم  لَّقَدۡ كُنتَ فِی غَفۡلَةࣲ…