Sejarah

Selayang Pandang Sejarah Maulid

33
×

Selayang Pandang Sejarah Maulid

Sebarkan artikel ini

Selayang Pandang Sejarah Maulid

Awal ridha Rasulullah SAW atas pujian tentang kemuliaan-nya.

Suatu ketika seorang sahabat dan penyair Arab yang bernama Ka’ab bin Zuhair, bertemu Nabi Muhammad SAW, dan melantunkan pujian-pujian kepada Nabi SAW.

Kemudian Nabi SAW menghadiahkan kepadanya selimut yang bergaris, yang mana selimut bergaris itu dalam bahasa arab disebut dengan “Burdah”

Inilah yang menjadi dalil bahwa Nabi SAW tidak melarang orang untuk memuji beliau, bahkan beliau memberikannya hadiah, yang mana itu menunjukkan bahwa beliau Ridho dan senang terhadap hal semacam itu

Yang pertama kali mengadakan acara Maulid

Yang pertama kali mengadakan acara Maulid Rasul SAW ada beberapa pendapat :

Pendapat pertama, adalah Al-Mu’iz Al-Qohir lidinillah Kholifah Fathimiyyah ke-4, di Mesir pada tahun 361H

Pendapat kedua, adalah Syamsyu Daulah, di Iraq

Pendapat ketiga, adalah Abul al-Abbas al-Azafi

Pendapat keempat, adalah Sultan Al-Muzhaffar

Pendapat kelima, Sultan Salahuddin Al-Ayyubi

Kitab Maulid yang masyhur di Indonesia

1. Albarzanji

Kitab Maulid Nabi SAW Pertama kali di Indonesia adalah kitab Maulid Albarzanji, yang di kirim ke kerajaan Samudra Pasai di Aceh dari kekhalifahan Utsmaniyah di Turki. Nama “Berzanji” diambil dari nama pengarangnya yaitu Syekh Ja’far al-Barzanji bin Hasan bin Abdul Karim. Ia lahir di Madinah tahun 1690 dan meninggal tahun 1766. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj. Karya tersebut sebenarnya berjudul ‘Iqd al-Jawahir (artinya kalung permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw, meskipun kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya.

Isi Berzanji bertutur tentang kehidupan Nabi Muhammad, yang disebutkan berturut-turut yaitu silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Di dalamnya juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad SAW, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia.

2. Burdah

Setelah Ka’ab bin Zuhair yang melantunkan pujian-pujian kepada Nabi SAW, kemudian Nabi memberikan hadiah “burdah” kepada nya.

Setiap pujian dan syi’ir yang berisi pujian-pujian kepada Nabi SAW disebut dengan “Burdah”. Syair tersebut diciptakan oleh Imam al Busiri dari Mesir. Burdah bukan sekadar karya. Ia dibaca karena keindahan kata-katanya. Dr. De Sacy, seorang ahli bahasa Arab di Universitas Sorbonne, Prancis, memujinya sebagai karya puisi terbaik sepanjang masa.

Di Hadhramaut dan banyak daerah Yaman lainnya diadakan pembacaan qashidah Burdah setiap subuh hari Jum’at atau ashar hari Selasa. Sedangkan para ulama Al-Azhar di kota Mesir banyak yang mengkhususkan hari Kamis untuk pembacaan Burdah dan mengadakan kajian. Sampai kini masih diadakan pembacaan Burdah di masjid-masjid besar di kota Mesir, seperti Masjid Imam Al-Husain, Masjid As-Sayyidah Zainab. Di negeri Syam (Syiria) majelis-majelis qashidah Burdah juga digelar di rumah-rumah dan di masjid-masjid, dan dihadiri para ulama besar. Di Maroko pun biasa diadakan majelis-majelis besar untuk pembacaan qashidah Burdah dengan lagu-lagu yang merdu dan indah yang setiap pasal dibawakan dengan lagu khusus.

Ada sebab indah dikarangnya qashidah Burdah. Suatu ketika Al-Bushiri menderita sakit lumpuh sehingga tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Lalu dibuatnya syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi, dengan maksud memohon syafa’at-nya. Di dalam tidurnya, ia mimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. Nabi mengusap wajah Al-Bushiri, kemudian dia melepaskan jubahnya dan mengenakannya ke tubuh Al-Bushiri. Saat ia bangun dari mimpinya, seketika itu juga ia sembuh dari lumpuhnya.

Dan Qasidah Burdah ini pun terkenal dan banyak digunakan di Indonesia.

3. Simthu duror (maulid Habsyi)

Maulid simtudurror disusun oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi. Beliau menyusun sebuah karangan yang berjudul “Simtud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar”.

Karangan ini merupakan bentuk risalah kecil yang berisi kisah Maulid Nabi Muhammad SAW. Isinya memuat tentang kisah Rasulullah dari lahir hingga wafat.

Maulid simtudduror tersebar luas di Seiwun hingga ke seluruh Yaman dan Hadhramaut. Bahkan maulid ini tersebar pula ke beberapa negeri lainnya yang jauh seperti Afrika dan Indonesia.

4. Ad-Dhiya’ul Lami’

Adh-Dhiyaul Lami’ artinya cahaya yang terang-benderang, merupakan kitab Maulid yang dikarang oleh al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz pada tahun 1994 di Kota Syihr dekat Mukalla, Yaman. Habib Umar bin Hafidz malam itu memanggil seorang muridnya yang penulis lalu berkata: “Bawakan kertas, tulislah”. Kemudian beliau berucap, melantunkan Maulid adh-Dhiyaul Lami’ ini mulai tengah malam. Dan sekitar sepertiga malam terakhir seluruh kitab Maulid adh-Dhiyaul Lami’ sudah selesai.

Habib Umar bin Hafidz mampu menuliskan dengan penuh hampir seluruh dari sejarah Rasulullah Saw. Mulai dari masa lahir, tanggal lahir, bulan, tahun, jumlah peperangan, perjuangan di Mekkah, perjuangan di Madinah, usia, jumlah Ahlul Badr yang wafat, tahun Perang Badar, tanggal, bulan, hingga ratusan sejarah lain yang terjadi di masa Rasulullah Saw.

Angka-angkanya pun menuliskan sejarah Nabi Saw. Semisal bait-bait shalawat pembukanya berjumlah 12, Lalu pasal pertamanya dipadu dari 3 surah, yaitu al-Fath, at-Taubah dan al-Ahzab. Tiga surah ini melambangkan kelahiran Nabi Saw. adalah pada bulan ke-3, yaitu Rabi’ul Awal. Dan bila dihitung baitnya dari pasal pertama sampai Mahallul Qiyam jumlahnya 63, melambangkan usia Nabi Muhammad Saw.

Wallahu A’lam bis Showab

Musa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sejarah

Ghadir Khum Nabi Muhammad SAW memberitahukan kepada para…

Sejarah

Haji Wada’ Haji Perpisahan (wada’) merupakan haji terakhir…

Sejarah

Sebelum perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah SAW bermimpi bahwa muslimin…

Sejarah

Sejarah Nabi SAW, Perang Uhud Setelah kaum muslimin…

Sejarah

Peperangan Badar   Diceritakan kaum Muslimin ketika itu…