Al-Quran

Perbaiki Ibadahmu 2

12
×

Perbaiki Ibadahmu 2

Sebarkan artikel ini

Faktor ketiga ialah pengobatan atau perawatan nafs dalam beribadah.

 

Dalam faktor yang ini, manusia pada dasarnya memilih berbagai macam ibadah yang berbeda-beda dalam mengkoneksikan dirinya dalam ibadah. Ada pandangan yang dipaparkan para ulama, yaitu pandangan pengaruh himpunan akal manusia. Dalam arti bahwa secara tabiat manusia, manusia mendapatkan pengaruh dari hal-hal yang masyhur. Jika ia dapati dari perkumpulan yang berkata ada seseorang yang sedang bertindak kejahatan, maka ia akan dapati pengaruh dari perkumpulannya yang berkata demikian hingga ia sampai membenarkan pernyataan yang mereka katakan.  Karena itu kita banyak melihat manusia yang terpengaruh karena ulah kebiasaan dan tradisi perkumpulan disekitarnya. Sebagaimana hal itu kita jumpai dalam kehidupan kita masing-masing. Dan pada hal ini, kita bisa melihat bahwa ukuran kebenaran diletakkan pada kuantitatif oleh banyak manusia. Sehingga dengannya ia menjadikan bukti kebenaran dan 

keyakinannya diatas kuantitatif. Jika kita merujuk kepada kitab karangan Sayyid Muhammad Bagir Sadr yang berjudul “ususul mantiqiyyah lil-istiqra'”, beliau menyebutkan bukti atau dalil sampainya manusia kepada keyakinan. Beliau menyebutkan ada dua faktor untuk sampainya manusia kepada keyakinan. Faktor yang pertama ialah manusia melihat kepada kuantitatif. Namun jika ia hanya memegang pada satu faktor ini saja, maka ia tidak akan sampai pada keyakinan yang benar. Karena itu beliau menambahkan faktor yang kedua sebagai penyempurna untuk sampainya manusia kepada keyakinan. Faktor yang kedua ini ialah dimana manusia  ini melihat kepada bagaimana yang ada didalam perkumpulan tersebut. Boleh jadi kabar yang disampaikan banyaknya (kuantitatif) orang tidak benar karena mereka adalah setiap dari orang-orang tersebut adalah keluarga besar yang satu sama lain terpangaruh dengan satu sama lainnya. Kabar dari 100 orang yang terdapat dari satu keluarga yang mengabarkan bahwa ada seseorang yang berbuat kejahatan, tidak menjadikan kabar tersebut sebagai kebenaran dan keyakinan kita kepadanya. Yang boleh jadi mereka sedang berkumpul dan bersepakat dalam kedustaan. Karena itu, jika kita jadikan kuantitatif sebagai ukuran kebenaran dan keyakinan, maka ia tidak akan sampai pada keyakinan sebenarnya. Dengan itu kita butuh kepada faktor kedua yaitu dengan kita melihat berbagai macam sumber kabar yang berbeda-beda dari orang yang berbeda-beda. Karena itu dalam hal ini Al-Quran mengkritik orang-orang yang berpegangan pada kuantitatif. Allah SWT Berfirman:

 

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Artinya: Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman — walaupun kamu sangat menginginkannya. (Q.S Yūsuf:103)

 

Artinya janganlah kalian bersandar pada kebanyakan orang(kuantitatif).  Karena kebanyakan dari mereka bukanlah orang-orang yang beriman. Allah SWT juga Berfirman: 

 

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ

Artinya: Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (Q.S Al-‘An`ām:116) 

 

Dengan demikian setelah kita mengetahui pengaruh dari himpunan akal manusia, jalan yang layak dijadikan sandaran manusia untuk mengobati nafsnya dalam ibadah dan dalam kedekatannya dengan ibadah adalah dengan bersandar kepada sebagian waktunya dalam mengambil sesuatu dari himpunan akal manusia dalam beribadah dan mongkoneksikan dirinya dengan Tuhannya. sebagaimana yang dijelaskan diatas. Contohnya yaitu ketika kita shalat sendian dirumah, terkadang shalat itu tidak kita lakukan dengan sebenarnya. Namun ketika kita datang kemasjid yang terdapat berbagai macam spritualitas yang didalamnya kita melihat ada orang sedang menangis karena kekurangan dirinya dihadapan Allah SWT dan lain-lainnya. Sebagaiman juga dengan doa, ketika kita membaca doa sendiri, kita tidak bisa menikmati dan masuk kedalam doa yang kita panjatkan. Akan tetapi jika kita membaca doa bersama jamaah(kumpulan), berbagai doa kebaikan dipanjatkan dengan suara yang lantang, pada sat itu pula kita akan tenggelam didalam doa yang kita panjatkan bersama. Himpunan akal ini memberikan pengaruh dan dorongan 

yang besar kepada manusia khususnya dalam sebagian ibadah kita. Karena itu kita dapati hadist Nabi SAW yang memberikan sunnah kepada kita untuk melaksanakan shalat berjamaah. Dikatakan bahwa shalat berjamaah lebih utama dari pada shalat yang dilakukan secara individu.  Jika shalat dilaksanakn dengan banyak orang, maka pahala dsrinya tidak akan ada yang bisa menghitungnya kecuali Allah SWT. Hikmah dari shalat yang dilaksanakan berjamaah adalah ketika ada satu makmum yang diterima shalatnya, maka shalatmakmum selainnya yang boleh jadi termasuk diri kita, akan diterima pula seluruh shalatnya. Hal ini merupakan buah dari himpunan akal, yang dengannya pula hubungan nafs/dirinya dalam ibadah selalu dalam pembaharuan. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Al-Quran

بسم الله الرحمن الرحيم  یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ قُوۤا۟…

Al-Quran

Memberi nafkah secara secara diam-diam ataupun secara terang-terangan…

Al-Quran

بسم الله الرحمن الحيم  يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا…

Al-Quran

Pendidikan Diriwayatkan dari Nabi SAW, kala itu Nabi…

Al-Quran

بسم الله الرحمن الرحيم  لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ فِیۤ…

Al-Quran

بسم الله الرحمن الرحيم  لَّقَدۡ كُنتَ فِی غَفۡلَةࣲ…