بسم الله الرحمن الحيم
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ
Artinya: “Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (Q.S Faathir: 3)
Sesungguhnya rezeki baik secara materi ataupun maknawi merupakan bagian dari nikmat Allah SWT yang diberikan kepada makhluqNya. Kedua rezeki tersebut baik yang materi ataupun maknawi, keduanya memiliki ikatan. Satu sama lain saling menyempurnakan. Sebagian dari orang orang berfikir bahwa keduanya tidak memiliki ikatan atau dalam arti terpisah. Ketika mereka mendapati rezeki berupa materi, mereka meninggalkan rezeki yang maknawi. Hal ini dijalani oleh mayoritas manusia. Begitu pula ada juga orang-orang yang berlaku sebaliknya, mereka mendapati rezeki maknawi lalu mereka meninggalkan rezeki materi. Mereka yang seperti ini berhujjah bahwa apa yang mereka melakukan adalah ajaran agama. Tentunya hal ini adalah perbuatan yang salah dan keliru dalam agama islam.
Adapun yang benar dalam agama islam adalah rezeki secara materi merupakan perantara yang penting untuk mendapatkan rezeki maknawi. Seperti harta yang ia dapatkan lalu ia keluarkan dengan bersedekah guna mendapatkan kepuasan dalam batinnya. Begitu pula sebalilnya rezeki maknawi merupakan sebab penting dalam turunnya rezeki materi.











