Al-Quran

Hikmah dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail a.s 

22
×

Hikmah dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail a.s 

Sebarkan artikel ini

Hikmah dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail a.s 

 

  1. Jelasnya penglihatan dalam mimpi. Allah SWT Berfirman:

 

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

 

Artinya: Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (Q.S As-Saafat:102)

 

Nabi Ismail sejak usia kecilnya, ia telah tahu bahwa mimpi para Nabi adalah hal yang benar dan hal itu merupakan wahyu dari Allah SWT.  Karena itu Nabi Ismail berkata kepada ayahnya: افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ  “kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu”. Artinya apa saja yang diperintahkan Allah SWT pasti bermanfaat dan baik. Dengan itu, ia mendapatkan pendidikan keimanan yang sempurna dimasa kecilnya secara jelas.

 

  1. Mendengar dan taat. Nabi Ismail a.s telah menerima kesulitan dari permintaan ayahnya. Allah SWT Berfirman :

 

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

Artinya: Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (Q.S As-Saafat:103)

 

Artinya ia telah menerima perintah Allah SWT yang dikabarkan kepadanya. Maka Nabi Ibrahim a.s ketika hendak menyembelih putranya, ia memalingkan pandangannya dari putranya.

 

  1. Balasan (pengganti) yang cepat karena kebaikan dan ketaatan. Ketika manusia taat kepada Tuhannya, dan kebaktian putra kepada ayahnya didalam perkara yang tidak disukainya, maka Allah SWT akan mengantinya dengan kebaikan kepadanya. Allah SWT Berfirman :

 

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ . قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ . إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ . وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Artinya: Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (Q.S Aş-Şāffāt: 104-107)

 

  1. Kerjakanlah hal-hal yang baik dan tinggalkan hasilnya. Amal yang baik memiliki umur yang panjang sebagaimana kisah penyembelihan Nabi Ibrahim a.s atas putranya,menjadi pelajaran bagi setiap manusia. sampai-sampai hal ini tercatat dalam sejarah sebagai peristiwa yang agung, yang dengannya pula Al-Quran mengabadikannya.

 

  1. Pertemanan yang didasari pendidikan. Telah tampak jelas 

 

percakapan antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail a.s, bahwa keduanya memiliki ikatan yang kuat. Bahkan keduanya memiliki ikatan yang lebih dari ikatan sebagai orang tua kepada anaknya,  sesungguhnya ikatan mereka adalah ikatan pertemanan. Karena itu, Nabi Ibrahim a.s mendapati kesulitan diwaktu indahnya ikatan pertemanan dimasa remaja Ismail a.s. Allah SWT Berfirman:

 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ

Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.

(Q.S As-Saafat:102)

 

  1. Percakapan yang melambangkan kesuksesan. Allah SWT Berfirman

 

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى

Artinya: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” (Q.S As-Saafat:102)

 

Ketika Nabi Ibrahim a.s mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putranya, beliau berkata kepada putranya “apa pendapatmu?”. Perkataan demikian adalah isyarat yang menjelaskan pendidikan yang penting tentang bagaimana berkomunikasi antara ayah dan anaknya, meskipun pada perkara-perkara yang wajib dan diterima oleh anaknya karena hal itu adalah perintah Allah SWT. Sesungguhnya seorang anak yang ada pada masa remaja, ia akan melihat setiap komusikasi dari siapapun. Dan Nabi Ismail mendapatkan penghormatan dari 

 

ayahnya, sehingga ia tidak terpaksa dengan apa yang diwajibkan Allah SWT kepada ayahnya.

 

  1. Kesabaran atas perkara-perkara yang sulit. Allah SWT Berfirman:

 

سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya: “insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Q.S As-Saafat:102)

 

Nabi Ismail a.s disaat umurnya baru masuk kepada masa remaja,yang pada saat itu umurnya kurang lebih 15 tahun, telah mengetahui makna kesabaran, dan ia hidup pula dengan kesabaran secara amaliyah, dan ia selalu memohon pertolongan kepada Tuhannya untuknya. Dan hal ini menujukkan kesuksesan pendidikan yang ada didalam rumah Nabi Ibrahim a.s, yang darinya ia bisa bersabar menghadapi kesulitan dan tanggung jawab yang datang kepadanya. Pendidikan ini memberikan 2 hal yang penting: yang pertama adalah kesabaran, dan yang kedua adalah memohon pertolongan kepada Tuhannya agar kesabaran itu tidak hilang dari dirinya.

 

  1. Musibah atau ujian keluarga. Allah SWT Berfirman:

 

إنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ . وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ . وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ . سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ

Artinya: Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. (Q.S As-Saafat:106-109)

 

Nabi Ibrahim a.s tidak dikarunia seorang anak sampai pada umur 86 tahun. Kemudian ia dikarunia seorang anak yang bernama Ismail a.s yang dinanti sekian lama, dan ia putra semata wayang. Ketika ia hadir disamping Nabi Ibrahim a.s, beliau dengan susah payah mendidiknya sampai datang perintah dari Allah SWT agar beliau menyembelih putranya. Dan hal yang paling sulit baginya dari perintah Allah SWT adalah penyembelihan terhadap putranya yang dieksekusi secara langsung ditangan ayahnya yang hidup dalam penantian datangnya putranya. Hal ini merupakan ujian yang amay berat baginya. Ketika Nabi Ibrahim sukses menhadapi ujiannya kemudian ia mengambil sikap atas ikhtiyarnya dengan tegas, Allah SWT memberikan imbalan dan balasan yang agung dengan mengganti seekor domba untuk menggantikan putranya. Maka dengan demikian, hal ini menjadi tahun yang agung bagi kaum muslimin untuk berkorban dan mengambil pelajaran tentang makna kesabaran atas ujian, atas musibah, dan mendengar serta taat kepada perintah-perintah Allah SWT.

 

  1. Kemudahan setelah kesusahan. Allah SWT Berfirman:

كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

Artinya: Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

(Q.S As-Saafat:110)

 

Sesungguhnya balasan ini untuk orang-orang yang bertakwa, dan pertolongan akan datang bersama kesabaran, dan kemudahan setelah kesulitan, dan banyak nilai-nilai yang agung yang bisa kita petik dari kisah Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Isamail. Allah SWT telah mensifati keduanya sebagai orang -orang yang berbuat baik.  Orang-orang yang baik itu adalah orang yang ikhlas dalam 

amalnya, yang selalu marasa diawasi Tuhannya, yang sempurna dalam pekerjaannya, yang mencurahkan dirinya untuk hal-hal yang makruf dan baik, dengan itu, ia menghamba kepada Tuhannya seakan-akan ia melihatnya, kalupun ia tidak melihatNya sesungguhnya Dia telah melihatnya. Maka dengannya ia akan merasakan bahwa Allah selalu hadir dan selalu melihatnya.

 

  1. Kemuliaan Allah SWT Yang Agung. 

 

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ . وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

Artinya: Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.

(Q.S As-Saafat:111-112)

 

Barang siapa yang bersabar atas perintah-perintah Allah SWT yang sulit, maka Allah SWT akan melimpahkan kepadanya kemuliaanNya yang banyak yang diharapkan setiap manusia. Maka termasuk dari kemulian Allah SWT dengan diberikannya anak yang selainnya yang merupakan hasil dari kesabarannya, ketaatannya, kesuksesannya dalam ikhtiyarnya, Allah SWT karuniai kepada anabi Ibrahim a.s seorang putra yang bernama Ishaq a.s. 

 

  1. Turunnya keberkahan karena ketaatan. Allah SWT Berfirman:

وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ

Artinya: Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. (Q.S As-Saafat:113)

 

Setelah Kemuliaan Allah SWT yang diberikan kepada Nabi Ibrahim a.s dan keturunannya disebabkan ketaatannya, Allah SWT memberikan keberkahan kepada keturunan Ismail yang darinya lahirlah Nabi kita Nabi Muhammad SAW. Begitu oula kepada keturunan Ishaq yang darinya lahirlah Nabi ya’kub dan Nabi Yusuf a.s. hal ini merupakan balasan dari kesuksesan Nabi Ibrahim a.s menhadapi ujian dengan mendapat oerintah dari Allah SWT untuk menyembelih putranya Ismail.

 

  1. Penenfangan atas musuh yang besar. Musuh tersebut adalah syaitan yang membujuk Nabi Ibrahim untuk tidak melaksanakan perintah Allah SWT. Pada saat itu Nabi Ibrahim a.s terdiam kemudian ia mengambil sikap atas ikhtiyarnya, dan lalu ia melaksanakan perintah Allah SWT. Allah SWT Berfirman:

 

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Artinya: Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS : As-Saafat : 107)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Al-Quran

بسم الله الرحمن الرحيم  یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ قُوۤا۟…

Al-Quran

Memberi nafkah secara secara diam-diam ataupun secara terang-terangan…

Al-Quran

بسم الله الرحمن الحيم  يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا…

Al-Quran

Pendidikan Diriwayatkan dari Nabi SAW, kala itu Nabi…

Al-Quran

بسم الله الرحمن الرحيم  لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ فِیۤ…

Al-Quran

بسم الله الرحمن الرحيم  لَّقَدۡ كُنتَ فِی غَفۡلَةࣲ…