4 Alasan Kita Tak Bisa Terlepas Dari Doa
Tuk Lapangnya Dada
Adapun alsan kedua kita tak bisa terlepas dari doa yaitu: kebutuhan manusia kepada doa untuk melapangkan dada.
Manusia jika berbuat dosa maka hatinya akan menjadi gelap. Diriwayatkan dari Imam Ja’far Assadiq a.s: “jika seorang hamba berbuat dosa, maka telah keluar dalam hatinya titik hitam. Jika ia bertaubat maka titik hitam itu akan hilang darinya. Dan jika ia kembali keperbuatan yang dosa, maka titik hitam itu akan kembali pula pada hatinya sampai ia benar benar-benar bisa menguasai hatinya hingga ia berhasil dan mensirnakan titik hitam yang ada pada hatinya selamanya.”
Hati yang gelap merupakan hasil dari perbuatan yang salah dan dosa. Hati yang ternodai dengan hal demikian akan menjadikan hatinya tidak berdenyut hingga ia tidak mendapatkan kehidupan yang sesungguhnya. Hati seperti ini, menjadikan dia tidak berintraksi dengan ibadah, doa, membaca Al-Quran. Setiap waktu yang ia lalui, ia membaca Al-Quran dalam keadaan malas dan letih. Tidak hanya dalam membaca Al-Quran, bahkan ia dalam shalatnya baik yang wajib ataupun yang sunnah dan begitupun dalam doanya, juga berlaku demikian(malas dan berat). Semua itu mengisyaratkan bahwa hatinya telah menjadi kotor dan keras. Hati yang hidup dalam kegelapan dan kekerasan, maka ia tidak akan berintraksi dengan segala bentuk ibadah dan kebaikan, bahkan ruhnya tidak berada dalam kehidupan, karena hatinya yang keras telah dikunci dan ditutup. Allah SWT Berfirman :
ثُمَّ قَسَتۡ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعۡدِ ذَ ٰلِكَ فَهِیَ كَٱلۡحِجَارَةِ أَوۡ أَشَدُّ قَسۡوَةࣰۚ وَإِنَّ مِنَ ٱلۡحِجَارَةِ لَمَا یَتَفَجَّرُ مِنۡهُ ٱلۡأَنۡهَـٰرُۚ وَإِنَّ مِنۡهَا لَمَا یَشَّقَّقُ فَیَخۡرُجُ مِنۡهُ ٱلۡمَاۤءُۚ وَإِنَّ مِنۡهَا لَمَا یَهۡبِطُ مِنۡ خَشۡیَةِ ٱللَّهِۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَـٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah SWT. Dan Allah SWT sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”. (Q.S Al-Baqarah:74).
لَوۡ أَنزَلۡنَا هَـٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ عَلَىٰ جَبَلࣲ لَّرَأَیۡتَهُۥ خَـٰشِعࣰا مُّتَصَدِّعࣰا مِّنۡ خَشۡیَةِ ٱللَّهِۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَـٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ یَتَفَكَّرُونَ
“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir”. (Q.S Al-Hasyr:21).
Terkadang hati kita melalui sedemikian rupa perjalanan yang tak terteka waktu yang telah kiota lalui. Tidak khusuk dalam mendengarkan khutbah, nasehat, dan pelajaran, tidak khusu’ dalam membaca Al-Quran, tidak khusu’ dalam doa, tidak pula khusu’ dalam shalat. Untuk mengangkat seluruh kegelapan ini, satu jawaban yang pasti adalah dengan berdoa. Allah SWT Berfirman :
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang kekal











