Al-Quran

Perbaiki Ibadahmu

10
×

Perbaiki Ibadahmu

Sebarkan artikel ini

Perbaiki Ibadahmu

Pada dasarnya, tabiat manusia ada yang condong kepada ibadah, dan ada juga yang enggan beribadah. Karena itu, setiap manusia tidak ada pada satu jalan. Dan darinya, terkadang ada manusia yang beribadah, sedang ia terlebur dengan ibadahnya. Terkadang juga ada manusia yang lemah bahkan meninggalkan ibadahnya. Kemudian bagaimana manusia menstabilkan dan meningkatkan koneksi dirinya terhadap ibadahnya sehingga dirinya tidak lagi menjafi lemah dalam beribadah?

Terdapat beberapa faktor yang dijelaskan Al-Quran dalam mengobati koneksi diri dengan ibadahnya.

 

Faktor pertama ialah memperbaharui waktu.

Nafs/diri ini hidup dengan beberapa tingkatan yang berbeda-beda. Sebagaimana dalam Firman Allah SWT yang berbunyi:

 

مَا لَكُمْ لا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَاراً # وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَاراً

Artinya: Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. (Q.S Nūĥ:14)

 

Artinya nafs ini hidup dari tingkatan menuju tingkatan yang lain. Dan dari keadaan menuju keadaan yang lainnya sampai kepada nafs yang selalu menyuruh kepada kejahatan, sebagaimana dalam Firman Allah SWT :

 

وَمَا أُبَرِّىءُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّيَ

Artinya: Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (Q.S Yūsuf:53)

 

Dan terkadang juga nafs ini berbalik kepada nafs allawwamah (tercela). Allah SWT Berfirman:

 

لا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ # وَلا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

 

Artinya: Aku bersumpah demi hari kiamat, Hari Kiamat,dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). (Q.S Al-Qiyamah:1-2)

 

Dan terkadang pula nafs ini menjadi pandangan dan jalan yang diinginkan. Nafs ini disebut sebagai nafs Al-Mutmainnah sebagaimana Firman Allah SWT yang berbunyi:

 

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ # ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

Artinya: Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. (Q.SAl-Fajr:28)

 

Dengan demikian, nafs hidup dalam berbagai keadaan dan berbagai tingkatan. Dan dengannya pula kita bisa melihat bahwa Hikmah Ilahiyah meminta hal demikian yaitu nafs yang berbeda-beda. Begitu pula dengan kehidupan kita, kita mendapati musim yang berbeda-beda. Ada musim panas, dingin, kemarau, dan semi. Mengapa ada perbedaan semacam ini? Mengapa tidak Allah jadikan satu musim saja? Mengapa pula manusia jumpai waktu malam, siang, kemudian siang ada yang dhuha, ada pula yang dhuhur, kemudian ada waktu ashar, dan pula waktu-waktu yang berbeda-beda didalamnya.?

 Jawabannya adalah bahwa Allah SWT ingin menjadikannya agar nafs ini hidup dan bergerak dari tingkatan menuju tingkatan lainnya, dan dari keadaan menuju keadaan yang selainnya. Maka dengan itu, kita butuh dengan tugas yang berbeda-beda, dan butuh pula pada zaman yang berbeda-beda., butuh pada waktu yang berbeda-beda. Dan seandainya nafs ini hidup dengan satu macam aja(tidak berbeda-beda), maka nafs ini akan mati demi kehidupan yang selalu dalam pembaharuan dalam ketaatan dan pekerjaannya. Karena itu Allah jadikan waktu dan zaman berbeda-

beda agar kegiatannya, pergerakannya, dan pekerjaannya selalu dalam pembaharuan. Sehingga dengannya ibadah  dan koneksi dengan Tuhannya selalu dalam pembaharuan. Andaikata tidak demikian, maka nafs ini akan mati dan tidak bergerak menuju ibadah dan Tuhannya. Karena itu dari hari-hari yang ada, dan bulan-bulan yang ada, Allah SWT meletakkan perbedaan dan keistimewaan didalamnya. Ada hari jum’at , hari raya fitri, hari raya idul ghadir, ada bulan Ramadhan, ada pula lailatul qadr, dan lain-lainnya, semua ini agar nafs selalu dalam pembaharuan. 

Faktor yang kedua ialah memperbaharui hubungan nafs dengan ibadah yang bergantian.

Sebagaimana hal ini oleh ulama irfan diibaratkan al-muraawahah, bahwa manusia pada hal tersebut mengawasi dirinya. Pada saat ia mengawasi dirinya, ia dapati dirinya yang terkadang berpaling dan terkadang pula mengikuti dan menerima isi nafsnya. Dan disaat melihat nafs yang mengikuti atau menerima, maka pada saat itu pula waktu yang senantiasa berjalan, begitu pula dengan kesempatan yang bermunculan, maka nafs didalamnya akan tenggelam dengan kenikmatan dalam berbagai macam ibadah. Yang dengannya, bekal untuk dirinya akan terus bertambah hingga pada akhirnya ia akan mendapatkan cahaya bagi kuburnya dan tempat tidurnya, dan jalan akan terbentang untuknya menuju akhirat yang disertai ketetangan dan kebahagiaan. Adapun ketika melihat nafs yang berpaling dari ibadah, maka ia akan semakin jauh dari melaksanakan kewajiban hingga ia lari dari melaksanakan ibadah. Dan hal ini telah diriwayatkan dalam hadist yang mulia yang 

 

diriwayatkan dari Imam Ali a.s dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda: “ada hati yang menerima dan ada hati yang berpaling, jika hati tersebut menerima maka mereka telah menunaikan kewajiban dan sunnah-sunnah. Adapun hati yang berpaling, maka mereka telah meremehkan kewajiban-kewajiban”.

 

Pada dasarnya hati itu tidak stabil atau sama. Terkadang hati itu ada pada kebahagiaan, dan terkadang pulang hati ada pada kesedihan. Terkadang hati itu cinta, dan terkadang pula hati itu membenci. Terkadang hati itu rindu, dan terkadang pula hati itu lari darinya. Maka hati itu tidak selalu sama, karena itu berhati-hatilah dengan hati yang selalu berpindah-pindah. Maka hati yang berpindah-pindah butuh dengan muraqabah atau pengawasan dan pengobatan. Sehingga darinya hati akan selalu terkontrol dan tertuju kepada ibadah yang diinginkan Allah SWT. Sebagian orang mengkritik seorang Imam yang meninggalkan hal yang sunnah. Kemudian apa makna maksum yang ada oada Imam? Jawabannya adalah bahwa Imam selalu menghadap dan tertuju kepada Allah SWT. Imam didalam setiap waktunya dan kesempatannya, ia tidak melihat kecuali Allah SWT. Mereka hidup dengan kecintaan kepada Allah SWT. Maka dengan demian, bagaimana ia akan berpaling dari Tuhannya, sedangkan ia telah memenuhi dirinya dengan kecintaan kepada Tuhannya!. Kalaupun ia tidak melaksanakan hal yang sunnah pada saat itu, maka disaat itu pula ia sedang berpindah kepada ibadah selainnya. Artinya mereka selalu berada dalam ibadah kepada Tuhannya. Boleh jadi orang seperti kita tidak melaksanakan shalat sunnah, namun bukan berhenti pada ibadah itu saja, kita bisa berpindah kepada ibadah selainnya yang merupakan sunnah yang dianjurkan. Seperti bersilaturrahmi, bershadaqah, mengajarkan manusia tentang hukum-hukum syariat dan pengetahuan agama dan lain sebagainya yang masuk dalam nilai ibadah. Dengan itu, manusia 

 

ketika ia awas diri, ia selalu dalam pembelajaran bagi dirinya. Kemanakah ia akan menghadap dan berpaling? Apa saja yang ia harus berpaling darinya? Jika ia dapati sesuatu yang memalingkan dirinya dari ibadah, maka selayaknya baginya untuk mencari ibadah yang dibenarkan. Sehingga pada akhirnya ia akan selalu memperbaiki dan memperbaharui hubungan nafs dengan ibadahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Al-Quran

بسم الله الرحمن الرحيم  یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ قُوۤا۟…

Al-Quran

Memberi nafkah secara secara diam-diam ataupun secara terang-terangan…

Al-Quran

بسم الله الرحمن الحيم  يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا…

Al-Quran

Pendidikan Diriwayatkan dari Nabi SAW, kala itu Nabi…

Al-Quran

بسم الله الرحمن الرحيم  لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ فِیۤ…

Al-Quran

بسم الله الرحمن الرحيم  لَّقَدۡ كُنتَ فِی غَفۡلَةࣲ…