Tingkatan Taqwa paling Tinggi
Dalam tingatan ketiga yang merupakan tingkatan yang paling tinggi dimana seorang hamba beribadah kepada Tuhannya atas dasar cinta kepadaNya. Dalam beribadah atas dasar cinta kepadaNya, meniscayakan perbedaan pula bagi setiap hambaNya. Ada yang cintanya masih pemula, ada juga cintanya yang sudah kuat atau totalitas. Oleh karena itu, beribadah atas dasar cinta memiliki tingkatan tingkatan.
1. Tingkatan yang pertama adalah tawakkal yaitu ketika manusia cinta kepada Allah SWT, mereka benar-benar mempercayai secara mutlaq segala qadha’ dan qadarnya Allah SWT. Bahwa Allah tidak melakukan sesuatu kecuali didalamnya terdapat kebaikan. Allah SWT berfirman :
وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Artinya: dan hendaklah bagi orang orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja. (QS : Al-Imran : 122)
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Artinya: dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. (QS : At-Talaq : 3)
Imam Ja’far As-Shadiq a.s berkata : siapa yang berdoa, maka ia akan dapatkan ijabah dari doanya. Sebagaiamana Allah SWT berfirman :
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Artinya: berdoalah kepadaku, niscaya aku ijabahi doa kalian. (QS : Al-Mukmin : 60)
Dan siapa yang bersyukur maka akan ditambah kepadanya kenikmatan.
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
Artinya: sesungguhnya jika kalian bersyukur niscaya akan aku tambahkan nikmat kepada kalian. (QS : Ibrahim : 7)
Dan siapa yang bertawakkal, maka akan diberikan kepadanya kecukupan. Sebagaimana firman Allah SWT diatas ” barang siapa yang bertawakkal kepadaNya niscaya Allah akan memberikan kecukupan kepadanya.
2. Tingkatan kedua ridha. Apakah setiap manusia ridha atas musibah yang turun padanya dari Allah SWT?
Umumnya manusia tidak ridha dengan musibah yang turun padanya. Boleh jadi ia sabar atas musibah, namun ia tidak ridha dengannya. Karena itu banyak kita dapati orang yang ditimpa musibah mereka berkata “aku bersabar karena aku tidak memiliki daya dan kekuatan untuk merubah sesuatu” perkataan demikian realitanya mereka berkata aku bersabar namun aku tidak ridha
akan musibah yang turun kepadaku. Hal ini terjadi pada mayoritas manusia. Namun jika kita lihat, kita akan dapati sebagian manusia yang ridha akan musibah yang turun kepadanya. Mereka meyakini bahwa musibah itu adalah kebaikan untuknya dan bukanlah bencana seperti yang dipikirkan banyak orang. Sebagian manusia ini yang menganggab musibah sebagai kebaikan, dasar mereka adalah bahwa yang mereka lihat hanyalah keindahan Allah SWT. Maka seluruh yang ada merupakan keindahan karena ia bersumber dari keindahan Allah SWT. Allah SWT adalah Yang Maha Baik secara mutlaq, maka tidak ada yang diciptakan olehNya kecuali kebaikan. Pada initinya dalam tingkatan yang kedua ini, yang mereka lihat ini, hanyalah nikmat dari Allah SWT.
Manusia yang hidup dalam tingkatan ini, akan lahir dalam dirinya ketenangan jiwa. Mereka yang cinta kepada Allah SWT dan ridha kepadaNya, maka mereka akan dapati ketenangan dalam dirinya. Jika kita melihat Firman Allah SWT, mereka disebut sebagai para wali Allah SWT.
ألَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. ( QS: Yunus : 62)
Mereka hanya hidup dengan ketenangan, karena hidup dengan lezatnya ridha dengan Tuhannya. Allah SWT Berfirman :
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ * ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
Artinya:Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. (QS : Al-Fajr : 27-28)
3. Tingkatan yang ketiga تسليم atau penyerahan diri sepenuhnya.
Tingkatan ini merupakan tingkatan yang paling tinggi dalam hamba yang beribadah atas dasar cinta. Tingkatan yang ketiga ini, mereka tidak melihat dirinya sesuatu dihadapan Allah SWT. Berbeda dengan tingkatan yang pertama ataupun yang kedua. Keduanya melihat dua sisi yaitu mereka melihat Tuhan dan mereka melihat hamba. Adapun tingkatan yang ketiga ini yang sampai pada kedudukan penyerahan diri yang sepenuhnya, mereka tidak melihat dua sisi sebagaimana tingkatan pertama dan kedua. Mereka tidak melihat kecuali wujud yang tunggal, dan Dia adalah Allah SWT.
يا من دل على ذاته بذاته
Artinya: wahai yang menunjukkan dzatNya dengan dzatNya.
Tingkatan yang ketiga ini merupakan tingkatan yang paling tinggi dari tingkatan taqwa.
Hal ini yang dikatakan oleh Imam dihari asyura ketika anak panah bercabang tiga diluncukarkan yang kemudian menancap tepat dileher bayi yang mungil, seraya Imam berkata :
اللهم رضا بقضائك، وتسليما لأمرك
wahai Tuhanku, sesungguhnya aku ridha dengan ketentuanmu dan berserah diri atas ketetapanmu.
Mereka yang sampai pada kedudukan yang tinggi ini dengan cinta kepada Allah SWT, mereka selalu hidup dengan ketenangan, menerima segala ketentuan Allah, mereka tidak melihat dalam keberadaan ini keburukan, yang mereka lihat hanyalah keindahan yang bersumber langsung dari Allah SWT. Sayyidah Zainab a.s ketika ditanya pada saat saudaranya dibantai dipadang karbala, beliau hanya berkata : ” tidak aku lihat kecuali keindahan”











