Sejarah

Kurban, Simbol Kepasrahan Mutlak

16
×

Kurban, Simbol Kepasrahan Mutlak

Sebarkan artikel ini

Kurban, Simbol Kepasrahan Mutlak

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡیَ قَالَ یَـٰبُنَیَّ إِنِّیۤ أَرَىٰ فِی ٱلۡمَنَامِ أَنِّیۤ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ یَـٰۤأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِیۤ إِن شَاۤءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِینَ (102) فَلَمَّاۤ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِینِ (103) وَنَـٰدَیۡنَـٰهُ أَن یَـٰۤإِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ (104) قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡیَاۤۚ إِنَّا كَذَ ٰ⁠لِكَ نَجۡزِی ٱلۡمُحۡسِنِینَ (105) إِنَّ هَـٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَـٰۤؤُا۟ ٱلۡمُبِینُ (106) وَفَدَیۡنَـٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِیمࣲ (107) وَتَرَكۡنَا عَلَیۡهِ فِی ٱلۡـَٔاخِرِینَ (108) سَلَـٰمٌ عَلَىٰۤ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ (109) كَذَ ٰ⁠لِكَ نَجۡزِی ٱلۡمُحۡسِنِینَ (110) إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِینَ (111)

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya-Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah).
Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim!
sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
”Selamat sejahtera bagi Ibrahim.”
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
[Surat Ash-Shaffat: 102-111]

Bagi Ibrahim, Ismail bukan hanya sekedar seorang anak untuk bapaknya, tapi juga buah hati yang sudah didambakan sepanjang hidup, dan imbalan bagi kehidupan yang penuh perjuangan. Sebagai anak, Ismail adalah anak yang sangat dicintai dari seorang bapak tua yang sudah bertahun-tahun menanggung penderitaan.
Di tengah kebahagian seperti itu turunlah wahyu agar Ibrahim menyembelih anaknya, Ismail, dengan tangannya sendiri. Dapatkah kita melukiskan betapa terguncangnya Ibrahim dengan turunnya perintah ini? Meskipun ia sangat terguncang dengan pesan perintah ini, namun ini adalah perintah Allah.

Ibrahim mempunyai dua alternatif: mengikuti jeritan hatinya dan ‘menyelamatkan’ Ismail, atau mengikuti perintah Tuhan dan ‘mengorbankan’ Ismail.

Ia harus memilih salah satu! ‘Cinta’ dan ‘kebenaran’ sedang berkecamuk dalam batinnya (cinta yang merupakan kehidupannya dan kebenaran yang merupakan keyakinannya).

peperangan yang paling besar adalah perang melawan diri sendiri. Ibrahim dihadapkan pada suatu konflik batin untuk memilih antara Allah dan Ismail. Mana yang akan engkau pilih?,
Allah atau dirimu sendiri?
Kepentingan atau nilai?
Keterikatan atau kemerdekaan?
Politik atau fakta?
Berhenti atau maju?
Kebahagiaan atau kesempurnaan?
Menikmati atau menanggung sakitnya memikul tanggung jawab?
Hidup hanya untuk hidup atau hidup demi tujuanmu?
Kedamaian dan cinta atau keyakinan dan perjuangan?
Mengikuti sifat alamiahmu atau mengikuti kehendak sadarmu?
Meneladani perasaanmu atau meneladani keimananmu?
Menjadi seorang bapak atau nabi? Mempertahankan sanak keluarga atau melaksanakan pesan?
Dan yang terakhir, Allah atau Ismailmu yang kau
pilih?

Demi kebenaran, maka engkau harus melepaskan segala kepentingan yang menguasai pikiranmu dan menghalangimu dari berkomunikasi dengan Tuhan.

Ibrahim, sang pecinta Allah yang sejati, terlebih dahulu menghancurkan perasaan suka mementingkan diri sendirinya dan menyandarkan diri hanya kepada Allah semata. Kemudian ia membawa korban yang masih muda itu ke tempat pengorbanan, menyuruhnya berbaring di atas tanah, memegang kakinya, menggenggam rambutnya dan mendongakkan kepalanya ke belakang agar dapat melihat urat lehernya. Dengan menyebut nama Allah ia menempelkan pisau ke leher Ismail dan berusaha memotongnya secepat mungkin. Namun tiba-tiba Allah mengirim seekor domba sebagai tebusan bagi Ismail untuk kurbannya.

Inilah kehendak Tuhan Yang Mahakuasa, yang paling pengasih dan penyayang kepada manusia. Tuhan telah mengangkat dan memuliakan Ibrahim sampai pada taraf kesiapan untuk mengorbankan Ismail yang ternyata tidak benar- benar membunuhnya. Tuhan juga memuliakan Ismail dengan menjadi korban-Nya, namun ternyata ia sama sekali tidak terluka.

Sesungguhnya tatkala Allah Ta’ala memerintahkan Ibrahim untuk menggantikan anaknya dengan seekor domba, Ibrahim berharap bahwa Ismail-lah yang ia korbankan. Sungguh sudah ia lepaskan seluruh ikatan, seluruh kecintaan, seluruh hubungan. Tujuannya hanya ridho Tuhan. Ibrahim berharap bergetar dalam hatinya perasaan orang yang telah mengorbankan yang paling dicintainya. Ibrahim ingin menunjukkan kesempurnaan pelaksanaan ujiannya. Bayangkan ketaatan seorang ayah menyembelih putra yang sangat dikasihinya. Bayangkan besarnya sabar dari musibah yang datang dari kehilangannya. Ibrahim berharap daripadanya, derajat yang tinggi di sisi TuhanNya.
Sehingga Tuhan utus malaikat menyampaikan pada Ibrahim pesanNya,

Wahai Ibrahim, siapakah makhluk yang paling kau cintai?

Ibrahim menjawab, “Wahai Tuhanku, tiada makhluk yang paling aku cintai selain kekasihmu Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.” Ibrahim menyebut nama nabi akhir zaman itu.

Kemudian Tuhan bertanya, “Siapakah yang lebih kaucintai. Dirinya atau dirimu?

Ibrahim menjawab, “Dia lebih aku cintai dari diriku sendiri.”

Maka siapakah yang lebih kaucintai: putranya atau putramu?

“Sungguh, putranya lebih aku cintai.”

Ketahuilah, sungguh kelak putra Muhammad akan tersembelih dalam keadaan terzalimi, dianiaya musuh-musuhnya. Apakah tersayatnya leher putra Muhammad dalam keadaan teraniaya, oleh musuh-musuhnya lebih membuatmu berduka? Ataukah tajam belati yang mengiris leher putramu dalam ketaatan kepadaKu?

“Sungguh ya Allah, gugurnya putra Muhammad oleh tangan musuh-musuhnya lebih aku tangisi, lebih mengiris dan mengoyak-koyak kalbuku.”

Wahai Ibrahim, sesungguhnya sekelompok kaum yang mengaku menjadi umat Muhammad akan menyembelih Al-Husain putra Muhammad dalam keadaan terzalimi, sebagaimana mereka menyembelih seekor domba. Bagi mereka murkaKu.

Maka bergetarlah Nabiyullah Ibrahim. Tersungkur dan terhempas di hadapan Tuhannya. Air mata mengalir, tangisan tak berhenti. Hingga Allah Ta’ala mengilhamkan padanya, “Wahai Ibrahim, bagimu kedudukan yang mulia, derajat yang utama bagaikan seorang ayah yang telah mengorbankan putranya dengan tangannya sendiri, karena kau telah menangis untuk musibah terbunuhnya Al-Husain putra Muhammad.

(Uyun Akhbar al-Ridha as, Al-Khishal Syaikh Shaduq 58)

Dan untuk inilah Al-Qur’an berfirman “Dan telah kami tebus ia dengan sembelihan yang agung.” (QS. Al-Shaafaat [37]:107)

Sungguh, telah Tuhan tebus Ismail dengan sembelihan yang agung.
Inilah pengakuan kita, ketika kita pasrah di hadapan Tuhan, tersungkur pada ungkap syukur atas setiap pembimbing yang diturunkanNya bagi kita; untuk setiap penerang jalan; untuk setiap pelita kegelapan; untuk setiap petunjuk kebimbangan.

Di Arafah itu pula kelak, sang sembelihan Agung mengawali perjalanannya menyerahkan seluruh dirinya, seluruh kepasrahannya, seluruh kepatuhan dan ketaatannya. Kelak, 10 Muharram, sebulan setelah 10 Dzulhijjah, Al-Husain putra Rasulullah dikorbankan di Padang Karbala. Pada 61 H, ia berjuang menyelamatkan agama kakeknya dari penyelewengan. Ia disembelih, bagai seekor domba yang kehausan. Tubuhnya disayat ratusan pedang. Punggungnya ditikam panah dan lisan sucinya ditekak tombak. Dan untuk semuanya, Zainab adiknya mengangkat tangan ke langit dan berdoa, dalam linangan airmatanya… “Ya Allah…terimalah (pengorbanan ini) dari Muhammad dan keluarga Muhammad…”

Di Padang Arafah itu, Al-Husain berdoa.,

“Ya Alah, aku bersaksi kepadaMu..
Dengan kedua mataku (yang penuh dengan darah)
Dengan pelipis dahiku (yang dihantam anak panah)
Dengan kedua bibirku (yang dipukul batang tombak)
Dengan urat di leherku (yang terputus disayat pedang)
Dengan dadaku (yang diinjak-injak binatang)
Dengan hatiku (yang dikoyak-koyak belati)
Dengan jemariku (yang diiris-iris duri)
Dan dengan seluruh apa yang ada pada diriku
Sungguh, Tak mampu sesaat pun aku mensyukuri setiap nikmatMu…wahai Tuhanku.
Inilah pengakuan yang sesungguhnya.

Musa
07-07-2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sejarah

Ghadir Khum Nabi Muhammad SAW memberitahukan kepada para…

Sejarah

Haji Wada’ Haji Perpisahan (wada’) merupakan haji terakhir…

Sejarah

Sebelum perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah SAW bermimpi bahwa muslimin…

Sejarah

Sejarah Nabi SAW, Perang Uhud Setelah kaum muslimin…

Sejarah

Peperangan Badar   Diceritakan kaum Muslimin ketika itu…