Ridha atas Musibah
Apakah ada orang yang tertimpa musibah kemudiah ia ridha dengan musibah yang datang padanya? Walaupun ia sudah bertawakkal kepada Allah SWT, terkadang ketika ia tertimpa musibah berupa musibah yang ada pada jasadnya, anaknya, dan hartanya, ia tidak ridha dengan musibah yang turun kepadanya. Orang seperti yang tidak ridha dengan musibah yang menimpanya, karena ia menganggap musibah itu bukanlah nikmat yang turun kepadanya. Maka disini ada sebagian orang kecil yang memiliki hubungan khusus dengan Allah SWT. Mereka disebut dengan para wali Allah SWT. Mereka adalah orang orang yang ridha dengan segala ketentuan yang ada, meskipun musibah yang menimpanya. Bahkan mereka menganggap bahwa musibah yang menimpanya sebagai nikmat dari Allah SWT.
Imam Husein a.s berkata: Abu Dzar pernah berkata “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kefaqiran lebih aku cintai dari kekayaan. Adapun Imam Husein a.s berkata “Wahai Tuhanku, sesungguhnya apa yang engkau pilih untukku, maka itu semua adalah yang terbaik dariMu”. Imam Husein tidak berkata bahwa kefakiran lebih utama dari kekayaan atau semacan lainnya, melainkan yang ia katakan
bahwa semua yang telah diterima olehnya merupakan nikmat yang diberikan dan dipilih Allah untuknya. Imam ridha atas apapun yang turun padanya. Imam tidak menjadi faqir disetiap keadaan baik dalam keadaan nikmat yang turun ataupun musibah yang menimpanya. Imam ridha atas seluruhnya. Dan seluruhnya tidak merubah keadaannya. Ini merupakan kedudukan ridha kepada Allah SWT. Karena itu, ketika kita melihat peristiwa yang menimpa Imam Husein a.s dihari asyura, dan ketika ia jatuh dari tunggangan kudanya, ia hanya berkata ” Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku ridha atas ketentuanMu”.
